Peran Aktif Masyarakat Cegah Teror dan Residivisme  

By

Ketua Bidang Dakwah Yayasan DeBintal Aznop Priyandi mewanti-wanti bahwa kelompok teroris hari ini masih eksis di Indonesia. Mantan narapidana terorisme (napiter) itu menyebut berbagai upaya pencegahan sejak dini harus dilakukan.

Aznop berkisah, saat dulu bergabung di kelompok ISIS, dirinya bertugas sebagai admin media. Aktivitasnya; menerjemahkan konten-konten video propaganda ataupun majalah dari ISIS kemudian disebarluaskan.

“Terorisme bisa dilakukan siapa saja, tanpa memandang agama, suku maupun ras. Di Indonesia memang mayoritas (aksi terorisme) dilakukan oleh orang Islam,” kata Aznop dalam Halaqoh Mewaspadai Paham Ekstrimisme dan Terorisme di Indonesia, Sabtu (25/12/2021).

Pria asal Pekanbaru, Riau itu juga menjelaskan bahwa kelompok teroris di Indonesia berkeinginan untuk mengganti sistem demokrasi. Mereka menginginkan penerapan syariat Islam, sistem khilafah; seperti di negara Saudi, Turki maupun Mesir. Sehingga, memusuhi sistem yang bertentangan dengan mereka.

“Jadi benar adanya, bukan rekayasa dari Detasemen Khusus (Densus) 88 maupun Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Kami waktu itu tujuannya hanya dua; hidup mulia atau mati syahid,” tegasnya.

Selain itu, Aznop juga mengkritisi adanya penjara high risk yang ada di Indonesia. Menurutnya, cara seperti itu tidak efektif melawan paham radikal yang diyakini kelompok teroris. Dia sendiri mengaku berubah sebab adanya dakwah dari Kementerian Agama dan Densus 88.

“Saat ini ada 340 orang yang ditahan di penjara high risk, semua statusnya merah, memusuhi pemerintah. Beberapa ustaz yang tidak pernah berhadapan dengan napiter diajak debat dan dipatahkan. Sebaiknya yang diajak itu ustaz dari kalangan mereka sendiri yang sudah moderat. Supaya didengarkan,” lanjutnya.

Dia juga menambahkan teroris itu tidak mau identitas mereka terungkap. Sebab itulah, dia meminta adanya peran aktif dari RT maupun RW agar meminta identitas siapapun yang hendak tinggal ataupun kontrak di suatu wilayah.

Lebih lanjut, Aznop juga mewanti-wanti bahwa dari segi pendanaan jaringan kelompok teroris masih sangat kuat. Sebab itu, jangan menolak mereka ketika hendak kembali ke masyarakat. Sebab, jika ada penolakan maka jaringan lamanya siap menerima.

Dosen Kajian Terorisme Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia Sapto Priyanto mengemukakan salah satu faktor tumbuhnya paham terorisme karena ikatan sosial yang lemah.

Fenomena itu, biasanya terjadi di wilayah pinggiran dan perkotaan. Dia menambahkan, salah satu sebab banyak teroris ditangkap di wilayah Bekasi, Tangerang atau daerah-daerah Ibu Kota. Karena, menurut Sapto di wilayah-wilayah tersebut masyarakat cenderung cuek dan tidak peduli dengan pendatang baru.

“Kepada Ketua RT, Ketua RW jika ada yang ngontrak diminta datanya, selain itu dicek ke Dukcapil. Sekarang gampang kok mengeceknya,” imbuhnya

Selain itu dia juga mengharapkan peran masyarakat agar mendukung para mantan pelaku terorisme ketika hendak kembali ke masyarakat. Dia mewanti-wanti agar masyarakat jangan menolak mantan napiter. Karena jika mereka ditolak maka akan berpotensi menjadi residivis.

“Peran masyarakat harus mendukung, menerima mantan napiter yang akan kembali masyarakat. Jangan tolak mereka, karena itu penting sekali,” tegas Sapto.

Sementara, Dewan Penasehat Yayasan DeBintal Muhammad Syauqillah menghimbau kepada masyararakat agar berhati-hati dalam menyumbang kepada perongan maupun kepada lembaga amal. Kalau ingin menyumbang harus benar-benar memperhatikan lembaga amal tersebut.

“Hati-hati menyumbang karena hasilnya bisa digunakan untuk logistik kelompok teroris,” kata Syauqillah.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like