Nobel Perdamaian 2022 untuk Muhammadiyah & Nahdlatul Ulama?

By

Selain kabar baik terpilihnya K.H. Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), kemarin pagi saya juga menerima kabar baik dari Timor Leste. Seorang teman lama mantan aktivis dan jurnalis yang kini jadi tokoh dan pemimpin di Timor Leste, Marcelino Magno, mengirim berita baik itu. Dia dulu kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) dan jadi jurnalis Tempo dan kini kami tergabung di grup Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta.

Isinya berita baiknya: pernyataan Jose Manuel Ramos-Horta, mantan Presiden dan Perdana Menteri Timor Leste bahwa “Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah Berhak dan Layak Mendapatkan Nobel Perdamaian 2022”. Pernyataan itu dimuat di media Timor Leste bernama Hatutan (lihat: Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah Berhak dan Layak Mendapatkan Nobel Perdamaian 2022).

Berita itu bagai siraman air kebahagiaan yang melengkapi terpilihnya Gus Yahya. Bahkan, lebih dari itu, juga sangat pas dengan isu dan agenda yang diusung dalam kepemimpinannya mendatang menyambut Satu Abad NU: Kemandirian dan Perdamaian Dunia.

Lebih dari sekadar berita, itu juga sebuah fenomena yang berpotensi raksasa. Ramos Horta merupakan penerima Hadiah Nobel Perdamaian pada 1996 (bersama Uskup Carlos Filipe Ximenes Belo) sehingga dia berhak untuk mengajukan pencalonan bagi penerima Nobel Perdamaian selanjutnya.

Dan, seperti diuraikan dalam wawancara tersebut, ia telah beberapa kali sukses melakukan nominasi penerima hadiah Nobel Perdamaian—seperti untuk Muhammad Yunus, pendiri Bank Grameen dari Bangladesh (2006) dan mantan Presiden Korea Selatan Kim Dae-jung (2000). Tentu itu bukan hasil kerja individual melainkan ikhtiar kolektif.

Membaca berita itu saya jadi terkenang jejak kecil ikhtiar kami di awal 2019. Itu juga momen perjumpaan pertama saya secara serius dengan Ramos Horta—perjumpaan pertama terjadi sambil lalu ketika menunggu pesawat terbang di Bandara Adisucipto Yogyakarta beberapa tahun sebelumnya.

Ramos Horta kami undang untuk hadir dan menjadi Pembicara Kunci (keynote speaker) dalam sebuah konferensi internasional di UGM bertema “Islam Indonesia di Pentas Global: Inspirasi Damai Nusantara untuk Dunia” pada 25 Januari 2019. Ia menyampaikan pidato yang kuat dan sugestif ihwal peran Indonesia di panggung global.

Pembicara Kunci lain dalam acara tersebut adalah Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah (1998-2005) dan K.H. Yahya Cholil Staquf yang waktu itu menjabat sebagai Katib Am Syuriah PBNU dan anggota Wantimpres. Selain itu, juga hadir sebagai pembicara sejumlah tokoh pemikir dan akademisi terkemuka termasuk Prof. Mark Woodward (Arizona State University) dan Prof. Azyumardi Azra (UIN Syarif Hidyatullah Jakarta).

Dalam acara yang juga menjadi momen bagi Rektor UGM untuk melakukan Nominasi Nobel Perdamaian untuk Muhammadiyah dan NU, diluncurkan sebuah buku berjudul “Dunia Menyemai Damai: Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan NU dalam Perdamaian dan Demokrasi”.

Kebetulan saya menjadi koordinator dan peneliti utama dalam tim riset yang menyusun buku tersebut bersama Hairus Salim, Zaki Arrobi, Budi Asyhari & Ali Usman. Buku itu menjadi landasan akademik bagi sikap UGM untuk melakukan Nominasi Nobel Perdamaian bagi Muhammadiyah dan NU.

Seperti kita semua tahu, upaya itu kandas. Waktu itu, dua organisasi massa Islam terbesar di Indonesia dan bahkan di dunia tersebut tidak berhasil masuk ke dalam daftar nominator resmi oleh Panitia Pemberi Hadiah Nobel yang berpusat di Norwegia.

Apakah upaya berikutnya tahun ini ketika Gus Yahya berada di puncak kepemimpinan Nahdlatul Ulama akan membuahkan hasil. Wallahua’lam bishawab. Semoga. Amiin

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like