Cerita Tiga Hari di Omah Betakan Yogyakarta: Penuh Kesan dan Makna

By

Tim ruangobrol.id mengadakan pertemuan luring pekan lalu. Digelar 3 hari mulai 11 – 12 Desember di Rumah Komuitas Omah Betakan, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bagi saya, pertemuan itu walaupun singkat namun berkesan. Lebay ya? Tapi entah, itulah yang saya rasakan. Apakah itu efek dari hampir dua tahun tak bersua karena pandemi? bisa juga atau sebab lain karena disuguhi pemandangan indah area persawahan. Pemandangan yang tidak bisa saya dapatkan di tempat saya tinggal. Itu juga sih.

Pertemuan 3 hari itu bagi saya kesempatan bagus, tidak banyak saya dapatkan di tahun-tahun sebelunya. Hampir 4 tahun kami bersama, tapi saya sangat jarang deeptalk atau deep conversation dengan teman-teman satu tim beda divisi.

Sebelumnya, saya merasa yang lebih banyak bercerita. Apalagi, saya sebagai credible voice, sehingga lebih sering yang ditanya teman-teman tentang pengalaman masa lalu.

Ketika ngobrol pun, mungkin juga seputar kerjaan atau hanya cerita basa-basi biasa aja. Sedih sih, karena berarti memang saya yang selama ini terlalu cuek.

Kami berangkat menggunakan mini bus. Saya dan satu teman dari tim produksi menunggu yang lain di titik kumpul di kawasan Kuningan, Jakarta.

Sembari menunggu, kami berbincang tentang banyak hal. Termasuk mendengarkan pengalamannya, proses perjalanan karirnya bisa sampai di titik ini, kesulitan yang pernah dialami hingga mimpi besarnya untuk bisa sekolah atau bekerja di California, Amerika Serikat.

Bisa dibilang, posisi saya saat itu seperti pewawancara. Saya yang banyak bertanya ke dia, mendengarkan kisah-kisahnya sambil saya coba merenungi atau memikirkan setiap kalimat yang ia lontarkan.

Saya senang bisa lebih mengenal rekan-rekan kerja saya. Itung itung saya juga belajar jadi pendengar yang baik. Terkadang di sela sela diskusi saya juga minta pendapat dan masukan dari beliau.

Saya pribadi sempat merenung, selama hampir 2 tahun terakhir saya merasa mulai ada penurunan kualitas diri atau kurang bersemangat. Ya, sebatas pengetahuan menilai diri saya sendiri, mungkin ada efek pandemi Covid-19 yang mengaruskan di rumah terus, juga kepergian Mas Hakiim selaku mentor saya.

Tak lama, teman-teman satu tim berdatangan di titik kumpul. Banyak anak kecil juga, termasuk orang-orang yang baru saya lihat. Sebab, acara ini tak hanya internal tim, namun ada juga yang membawa keluarga, mulai dari suami, orangtua hingga anak-anak mereka.

Kendaraan pun melaju dari padatnya Jakarta menuju Yogyakarta.

Omah Betakan

Hari pertama di Omah Betakan, kami disuguhi pesan-pesan penting dari ibunda Pak Noor Huda Ismail. Selain itu juga dari Teh Evi, istri almarhum Mas Hakiim.

Dimulai dari pekenalan, kemudian kami membicarakan tentang perjuangan hingga pentingnya kebersamaan dalam tim. Ibunda Pak Noor Huda menyebut kami adalah para pejuang. Beliau berpesan sangat bijak dan rendah hati. Kami semua merasa tenang mendengarnya.

Di lokasi yang sama, saya juga sempat ngobrol dengan tim riset, termasuk editor tulisan di ruangobrol.id. Diskusinya memang sebentar, namun saya sangat bersyukur bisa ngobrol hal-hal yang jarang dibicarakan. Di antaranya; kesulitan perjuangan sampai penolakan dari klien saat di lapangan.

Saya juga meminta saran, bagaimana proses untuk bisa menjalin hubungan yang baik dengan beberapa mantan napiter. Tak hanya itu, diceritakan juga tentang perjalanan karir dan studinya dulu.

Padahal awal mula dari semua yang saya tulis di atas tadi hanya dari small talk atau basa basi biasa.  Namun, menariknya bisa mengarah ke deep conversation. Maka tak salah ada istilah “small talk leads to deep talk/conversation”.

Tapi tentu saja kita juga harus mempertimbangkan basa-basinya. Jangan sampai basa basi alias small talk hal yang tidak penting khususnya hal sensitif.

Biasanya kalau apa yang saya tanya ada kecendrungan hal sensitif, saya coba bertanya dulu. Jika iya, tidak saya lanjutkan. Di sisi lain, kami juga sudah saling mengenal jadi lebih enak dan mudah.

Kembali lagi pada masing-masing. Karena kita sendiri yang tahu individu tersebut dan kondisi saat itu. Meskipun begitu, walau sudah saling mengenal tapi kalau jarang ngobrol bisa canggung loh.

Awal perjalanan saya sempat mengeluh, sebab mengira pertemuan nanti hanya bikin capek saja. Karena memang jadwal pertemuannya hanya sebentar. Apalagi perjalanan darat yang memakan waktu lebih dari 10 jam  tentu membuat pegel dan letih. Namun, semua itu terbayarkan dengan orang-orang yang saya temui dan cerita dari orang-orang yang punya background dan sudut pandang berbeda.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like