“Klenik” Mati Syahid dan Masuk Surga dengan Mudah

By

Kelompok-kelompok radikal teror yang ada di Indonesia kerap melakukan glorifikasi tertentu sebagai salah satu sarana propaganda mereka. Tak jarang mereka mengutip ayat atau dalil agama tertentu sebagai semacam “legalisasi” apa yang mereka yakini.

Demikian pula terjadi di kalangan narapidana kasus terorisme dan para pendukungnya.Berbagai kisah “mistis” masih laku dan menjadi bahan perbincangan hangat mereka di jagad maya. Salah satunya yang sedang hangat menjadi perbincangan adalah kisah di balik kematian seorang narapidana kasus terorisme yang menjadi korban kebakaran di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Tangerang.

Berbagai pendapat muncul di obrolan mereka seputar tragedi yang terjadi Lapas Tangerang, hingga perbincangan seputar ciri-ciri yang mereka percayai sebagai ciri mati syahid. Misalnya; tubuh jenazah yang berkeringat, wajah yang seolah tersenyum dan wewangian yang katanya muncul dari tubuh jenazah.

Agama, terutama Islam memang kerap menjadi komoditi eksploitasi dan ‘barang jualan’ kelompok-kelompok teror dan yang pro kepada mereka. Tak hanya iming-iming shortcut menuju surga dengan mati syahid ala mereka, istilah-istilah seperti ghanimah dan fa’i pun dieksploitasi untuk menghalalkan kegiatan pencurian dan perampokan.

Dan uniknya, “dagangan-dagangan” seperti ini masih saja laku di pasaran dan ada saja pembelinya.

Nash-nash dalam agama Islam memang menuliskan tentang fenomena tersebut dalam beberapa hadistnya dengan penjelasan konteks dan makna yang sebenarnya dari para ulama.

Namun, mengapa kemudian dalil-dalil tersebut menjadi alat jualan yang efektif di kalangan kelompok pelaku teror terutama untuk merekrut orang-orang untuk bersedia menjadi “martir mati terhormat” dan berbagai aksi kriminalitas lainnya?

Agama Menjadi Korban

Bagi kalangan yang awam, baik dari kalangan yang pro dan kontra dalam masalah ini, dalil agama memang kerap dijadikan kambing hitam di balik aksi teror.

Pihak yang pro akan berkata bahwa aktivitas yang mereka lakukan memang syar’i. Dan di lain pihak, pihak yang kontra akan menuding agama sebagai biang kerok terorisme.

Namun, jika digali lebih dalam, dalil agama sejatinya hanya menjadi salahsatu alat pembenaran dari kegiatan tersebut. Motif utamanya selalu tidak jauh dari permasalahan ekonomi, sosial, hingga politik yang pada akhirnya bermuara pada kebencian terhadap pihak-pihak yang tidak sejalan dalam pandangan, tak sejalan dalam keyakinan termasuk juga kebencian pada pemerintahan yang berkuasa.

Kita bisa lihat dari beberapa dokumen yang ditinggalkan para pelaku teror yang tertangkap ataupun meninggal, permasalahan ketidakberdayaan ekonomi, sosial kemasyarakatan selalu muncul menjadi alasan.

Alasan-alasan tersebut kemudian dipoles dengan dalil agama, seolah menjadi dalil legitimasi untuk membenci pemerintah dan aktivitas teror lanjutannya.

Aktivitas teror sejatinya hanyalah sebuah upaya sistemik untuk menghancurkan nilai-nilai agama. Bagaimana tidak, agama yang seharusnya menjadi sebuah dalil konstruktif untuk memelihara kehidupan justru dijadikan dalil destruktif untuk menghancurkan peradaban. Dan ini tentu tak bisa dibiarkan terus terjadi.

Bagi kalangan yang awam dalam beragama, terutama mereka yang dihadapkan pada berbagai masalah kehidupan dan berpikiran pendek, tawaran masuk surga dengan cara mudah dan bebas masalah tentu menjadi godaan tersendiri.

Di sinilah sinergitas semua pihak, baik dari pemerintah, alim ulama, para cendikiawan dan tokoh-tokoh masyarakat diharapkan terjadi. Tak hanya mereka, seluruh unsur dalam masyarakat pun harus dilibatkan. Karena upaya untuk kontra radikalisme dan terorisme juga merupakan upaya pensucian nilai-nilai sakral agama yang sering dijadikan dalih untuk merusak tatanan kemasyarakatan dan kebangsaan.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like