Ali Kalora

Ali Kalora Tewas, Gembong Teroris Paling Dicari di Indonesia

By

Ali Kalora pimpinan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) dikabarkan tewas dalam kontak tembak dengan Tim Satuan Tugas Operasi Madago Raya, Sabtu (18/9). Kontak tembak itu terjadi di wilayah Desa Astina, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng) pada, sekira pukul 18.00 WITA.

Selain Ali Kalora, satu pentolan MIT lainnya yakni Jaka Ramadhan juga dikabarkan tewas pada kontak tembak tersebut.

Dalam peristiwa tersebut, 2 anggota MIT tewas tertembak, salah satunya kuat dugaan merupakan Ali Ahmad alias Ali Kalora, pentolan MIT yang juga gembong teroris paling diburu di Indonesia. Foto keduanya pasca-baku tembak tersebar di media sosial.

Kabar tewasnya Ali Kalora dalam kontak dengan Tim Satgas Madago Raya segera menjadi headline di sejumlah media baik dalam maupun luar negeri. Bahkan tagar ‘Ali Kalora’ dan ‘Poso’ menjadi trending di Twitter dan menjadi perdebatan di berbagai sosial media. Maklum, di MIT ia adalah salah satu gembong teroris paling diburu, selain nama-nama besar lain macam Santoso maupun Daeng Koro.

Kabar tewasnya pimpinan MIT tersebut dibenarkan oleh Menko Polhukam Mahfud MD. Melalui akun Twitter miliknya, Mahfud menjelaskan bahwa dua anggota MIT yang tewas dipastikan adalah Ali Kalora dan Ikrimah.

Pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Ali Kalora yg pernah menggegerkan krn menyembelih bnyk warga dgn sadis di Sulteng, setelah buron hampir setahun, hr ini ditembak mati oleh Densus 88/AT. Ia ditembak bersama seorang anak buahnya yg Bernama Ikrimah. Masyarakat harap tenang.” unggahnya pada Sabtu (8/9) pukul 21.54.

Tewasnya Ali Kalora, sekaligus juga disebut sebagai operasi yang cukup berhasil sejak 2016 silam. Pasalnya, banyak pasukan sudah yang diterjunkan langsung ke lapangan untuk memburu kelompok ini, namun tidak pernah mendapatkan hasil optimal. Bahkan di tahun 2020, kelompok MIT tercatat sudah 4 kali terlibat dalam aksi pembantaian yang menargetkan warga sipil.

Puncaknya pada akhir November 2020 lalu, 4 warga ditemukan tewas dalam kondisi tragis. Kasus ini berhasil menyita perhatian publik, bahkan Presiden Joko Widodo mengintruksikan kepada seluruh jajarannya untuk mengusut tuntas peristiwa tersebut dan meminta para pelaku segera diadili.

Meski diburu, tidak lantas membuat kelompok ini tiarap dan bersembunyi. Faktanya, pada Mei 2021 atau 5 bulan pasca peristiwa Sigi, kelompok ini kembali beraksi dengan membunuh 4 warga Desa Kalemago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso. Sulteng.

Dengan banyaknya berbagai aksi brutal yang dilakukan oleh Ali Kalora dan kelompoknya tersebut, wajar jika banyak kalangan mulai mempertanyakan soal siapa pria kelahiran 30 Mei 1981 itu dan bagaimana latar belakangnya.

Alumni Kashmir India

Sebelum bergabung bersama kelompok MIT sejak 2012 lalu, Ali Kalora diketahui berasal dari Ambon, Maluku dan berprofesi sebagai pencari kayu gaharu. Profesinya tersebut tentu mengharuskan dirinya untuk keluar masuk hingga pedalaman hutan di pegunungan Biru. Karena ini pula, ia sering disebut lebih menguasai medan Gunung Biru ketimbang pendahulunya, Santoso alias Abu Wardah.

Namun, yang tidak banyak orang ketahui, Ali Kalora disebut-sebut pernah terlibat dalam pelatihan militer di Kashmir, India.

Semasa pecah konflik di Ambon antara tahun 1999 – 2002, banyak kalangan dari luar wilayah Maluku yang berusaha masuk dan membuka front jihad. Umumnya, mereka berasal dari Jawa. Meski demikian, terdapat sejumlah mujahidin asing yang juga bergabung dalam jihad di Ambon. Salah satunya yakni Umar Faruq atau Omar Al-Faruq.

Sebagaimana dikutip melalui laman BBC, Minggu (16/6/2019), pria asal Kuwait tersebut sengaja dikirim ke Indonesia sebagai delegasi dari Al Qaedah pusat untuk wilayah Asia Tenggara. Tentu tidak main-main, sebab Faruq sendiri merupakan tangan kanan langsung Osama Bin Laden, bahkan dalam struktur Al Qaedah dirinya memiliki pangkat Letnan.

Kunjungan Faruq ke Indonesia, selain untuk mengetahui secara langsung perkembangan jihad di tanah air, sekaligus juga untuk merekrut anggota untuk nantinya dipersiapkan dalam medan jihad global.

Pada Selasa (5/1) silam, Tim Ruangobrol berhasil mewawancarai AS (41) pria asal Jakarta yang pernah ikut berjihad di Ambon pada tahun 2000-an.

Menurut AS, ada sekitar 12 kader binaan Faruq yang sempat dikirim ke Kashmir untuk mengikuti program pelatihan militer bersama para mujahidin dari berbagai negara, dan juga ikut berperang langsung melawan pasukan militer India.

Ada 3 orang yang saya tahu. Abu Dzar, Qasim, dan terakhir Ali Kalora. Sisanya, Ana (saya) nggak tahu siapa nama-namanya.” tutur AS.

Sepulang dari Kashmir, beberapa terlibat dalam kasus teror. Seperti Abu Dzar, yang terlibat dalam penyerangan pos polisi di Loki, Ambon pada tahun 2005 dan menewaskan 5 anggota kepolisian. Sementara sebagian besar lainnya memilih untuk hidup normal dan tidak terlibat lagi dalam jaringan apapun, termasuk di dalamnya Ali.

Hingga sekira akhir tahun 2002, Ali Kalora sempat diketahui berada di Bekasi dan bekerja sebagai karyawan pabrik atas rekomendasi dari seorang ikhwan asal Jawa.

Ia kemudian tinggal bersama dengan Rois Abu Saukat yang kala itu masih aktif di jaringan kelompok Negara Islam Indonesia (NII). Melalui Rois pula, Ali kemudian kenal dengan Muhammad Ichwan alias Zulfikar alias Abdullah Omar alias Indra Kusuma alias Andi Yunus alias Nico Salman atau kerap disapa dengan panggilan Abu Umar. Dia salah satu pentolan NII yang namanya sempat santer karena hendak merencanakan pembunuhan terhadap Presiden Megawati kala itu.

Bergabung bersama MIT

Hingga antara 2007 – 2008, Ali Kalora memutuskan untuk pindah ke Poso. Alasan keberangkatannya ke Poso, selain karena pada saat itu ikhwan-ikhwan sedang membangun basis pelatihan militer, juga karena dirinya ingin meminang seorang akhwat dari daerah tersebut. Dan secara kebetulan, akhwat yang hendak dipinang oleh Ali Kalora rupanya satu kampung dengan Santoso alias Abu Wardah. Dari sinilah, keduanya kemudian aktif mengikuti berbagai kajian keagamaan yang kala itu diadakan oleh ikhwan-ikhwan secara rutin.

Pada akhirnya, pertemanan antara Ali Kalora dengan Santoso semakin intens semenjak peristiwa penembakan polisi di depan Bank BCA Palu pada 2011. Terutama ketika Santoso secara resmi mendeklarasikan MIT sebagai sayap organisasi jihad di Indonesia.

Oleh karena itu, ketika Santoso tewas pada Senin (18/7/2016), sempat muncul rumor untuk mengangkat Ali Kalora sebagai pengganti. Namun, ia kala itu menolak dan lebih memilih untuk mempersilahkan kepada Muhammad Basri alias Bagong agar mengambil posisi tersebut.

Pada perkembangannya, Basri juga tertangkap bersama istrinya pada September 2016 lalu. Ali Kalora kemudian terpaksa mengambil peran tersebut dikarenakan sudah tidak ada figur yang dianggap layak dan berpengalaman untuk memimpin MIT, terutama penguasaan medan pegunungan.

Secara de facto, dirinya mengumumkan sebagai pimpinan baru MIT melalui sebuah rekaman video sekaligus untuk merespons aksi kerusuhan yang terjadi di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua pada Mei 2018 silam yang menewaskan 5 anggota Densus 88/AT.

Setelah Ali Kalora dipastikan tewas, kini jumlah pasukan MIT yang berada di atas gunung diperkirakan hanya tersisa 4 orang. Di antaranya Nae alias Galuh alias Mukhlas, Askar alias Zaid alias Pak Guru, Suhardin alias Hasan Pranata, dan Ahmad Ghazali alias Ahmad Panjang.

Kapolda Sulteng Inspektur Jenderal Polisi Rudi Sufahriadi sendiri memastikan setelah tewasnya Ali Kalora, MIT kini tak lagi memiliki pemimpin. “Tidak ada penggantinya,” kata dia sebagaimana dikutip melalui Tempo, Minggu (19/9).

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like