9/11

Dua Dekade 9/11 dan Pidato Anti Rasisme Biden

By

Peristiwa 9/11 menjadi sejarah kelam bagi Amerika Serikat. Pada 2001 lalu, sebuah pesawat yang dibajak, menabrak ke salah satu menara WTC di New York. Beberapa menit kemudian, menara lainnya mendapat serangan yang sama. Tak hanya menara kembar, beberapa lokasi lain juga menjadi sasaran serangan. Ribuan orang tewas pada hari itu. Al Qaeda bertanggung jawab atas peristiswa ini.

Hari ini, Joe Biden memperingati peristiwa yang mengawali istilah “War on Terror”. Dikutip dari CNN, ia mengatakan bahwa hikmah dari 9/11 adalah persatuan dan ketahanan nasional. Biden mengingatkan bahwa sesungguhnya persatuan bukan berarti harus mempercayai hal yang sama. Namun justru kita harus memiliki rasa hormat dan keyakinan mendasar atas satu sama lain, dan pada bangsa. Isu persatuan menjadi highlight pada pidatonya kali ini.

Meski Presiden ke-46 ini menyoroti mengenai hatespeech terhadap islam dan bangsa arab. Bagaimanapun isu islamophobia yang bahkan diterapkan secara ketat dalam aturan keimigrasian Amerika Serikat memang patut menjadi perhatian. Nama-nama bernuansa bahasa arab diawasi penuh ketika masuk negeri Paman Sam. Pemimpin Amerika Serikat sebelumnya justru seringkali mempertajam rasisme terhadap islam dan arab pasca 9/11.

Keseriusan Biden pada isu anti rasisme telah muncul sejak akhir Maret 2021. Administrasi Amerika Serikat mengumumkan bahwa pemerintah membuat kebijakan Anti Rasisme terutama soal kekerasan anti Asia.

Biden memang nampak mengambil sudut pandang yang berbeda. Ia memilih menarik pasukan dari Afganistan. Pidatonya akhir Agustus lalu mengatakan bahwa mereka tak ingin membuang waktu pada negara yang warganya justru lari dari tanahnya. Bahkan menurut Biden, seharusnya perang tersebut diakhiri sejak dulu.

Sayangnya, hari terakhir penarikan pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan justru dicederai oleh bom bunuh diri ISIS – Khorasan. Kejadian tersebut menewaskan 13 tentara tewas dan puluhan lain warga Afghanistan. Biden pun berjanji bahwa ia akan memburu teroris hingga kapanpun.

Amerika Serikat memang menemui masa-masa kelam pasca 9/11. Namun seiring berkembangnya zaman, negara ini terus memperbaharui kebijakannya atas negara dan kelompok lain. Bahwa sentimen terhadap sebuah entitas memang seringkali tidak diperlukan karena pada akhirnya, kebijakan, zaman dan pemimpin berubah pun membawa sikap dan keadaan yang berbeda.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like