Rossi Pensiun dan Kisah Salah Satu Fans yang Jadi Teroris

By

Hari Kamis sore waktu setempat atau Kamis malam waktu Indonesia, Valentino Rossi secara resmi mengumumkan bahwa ia akan pensiun usai musim balap tahun ini berakhir. Artinya balapan sisa musim ini akan menjadi balapan terakhir dirinya setelah 25 tahun lebih berkarir di balap MotoGP.

Pembalap berusia 42 tahun itu mengaku keputusan untuk pensiun dari ajang yang telah membesarkan namanya bukan suatu keputusan mudah. Meskipun demikian, ia mengaku telah melakoni perjalanan panjang yang menyenangkan di arena balap motor.

Bagi masyarakat umum, sosok pembalap yang memiliki nomor keramat 46 dan warna keramat kuning ini telah menjadi ikon dari MotoGP. Banyak yang menyebut jika mau nonton balap MotoGP dengan ‘mau nonton Rossi’. Termasuk saya dan keluarga.

“Nanti malam ada Rossi nggak?” begitu biasanya pertanyaan bapak saya setiap hari Minggu. Yang beliau tahu di MotoGP hanya Rossi seorang, karena saking banyaknya pembalap baru yang bermunculan namun Rossi masih ada di MotoGP. Beliau jadi suka nonton balap MotoGP karena anak-anaknya terutama saya, suka nonton MotoGP.

Dulu sewaktu jadi anak kos ketika sekolah SMK saya hampir selalu pulang ke rumah setiap kali ada jadwal MotoGP. Mungkin itu yang membuat nonton bareng MotoGP menjadi spesial di keluarga kami. Setelah menikah, istri saya pun ikut-ikutan jadi penggemar MotoGP.

Bagaimana bisa seorang mantan santri pesantren jihadis dan ‘aktivis jihad’ bisa menyukai balap MotoGP dan nge-fans dengan Valentino Rossi? Bagi saya balap MotoGP itu mengekspresikan banyak hal. Ada kecanggihan teknologi otomotif, keahlian pembalap, dan budaya yang tercipta dari penyelenggaraan MotoGP.

Sebagai anak SMK otomotif, saya tentu saja sangat tertarik dengan sisi teknik atau teknologi yang diterapkan pada motor MotoGP. Dan sebagai remaja yang sedang mencari identitas dalam banyak hal, saya waktu itu melihat Valentino Rossi sebagai sosok yang ramah, menghibur dan punya skill hebat. Begitulah seharusnya seorang juara, selalu ramah dan rendah hati.

Ada kisah menarik yang paling saya ingat dalam karir saya sebagai kurir di kelompok ‘teroris’ yang berkaitan dengan Rossi. Yaitu, ketika saya nyaris menyelesaikan membaca buku biografi Valentino Rossi di salah satu cabang toko buku terkenal sambil menunggu kedatangan teman yang akan mengambil paket senjata dan amunisi yang saya bawa. Ini terjadi di bulan April 2010. Dan, sekarang teman yang mengambil paket senjata itu sudah tertangkap akhir Desember 2019 yang lalu.

Dari Valentino Rossi saya belajar bahwa akhlak rendah hati itu adalah akhlak universal. Semua orang yang rendah hati tak peduli apa agamanya akan selalu menyenangkan bagi orang lain. Dan di penjara saya semakin membuktikan hal ini. Bahkan para pelaku kriminal pun masih bisa memiliki akhlak rendah hati. Mereka ini terkadang setelah taubat bisa jauh lebih berakhlak daripada orang-orang yang tidak pernah dipenjara.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like