Menonton Film Era Layar Tancap hingga Netflix    

By

“Di masa depan gambar tak lagi diproyeksikan ke layar datar atau cembung, tetapi di udara nyata-seperti hologram dan holografi, sehingga tak ada lagi bingkai layar, melainkan kehadiran jarak jauh-tidak lagi di dalam layar-tetapi di dalam ruang nyata”  (Paul Virilio-Filsuf dan Kritikus Film asal Prancis)

Di era pandemi Covid-19, pemerintah menganjurkan kita untuk melakukan berbagai hal berkaitan dengan protokol kesehatan. Salah satunya, mengurangi aktivitas di luar rumah. Imbauan ini salah satunya ada pada kebijakan Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Namun demikian, rasa jenuh nantinya menghampiri. Misalnya; terbiasa bersekolah berkumpul dengan teman-teman ataupun kegiatan bekerja yang mau tak mau berubah. Semua dilakukan dari rumah.

Di sini, masyarakat seharusnya memiliki akses hiburan yang cukup melalui budaya populer. Tak hanya mereka yang sehat, yang menjalani isolasi mandiri pasti akan merasa jenuh jika hanya duduk diam saja di rumah tanpa aktivitas berarti.

Menonton film adalah salah satu alternatif penghibur di kala jenuh. Apalagi saat ini masyarakat makin mudah mengakses film yang mereka suka, tanpa melulu harus pergi ke bioskop. Cukup dengan smartphone  atau gadget lain kita bisa menikmati film menggunakan aplikasi atau situs berbayar macam Netflix.

Sebagai alternatif cara menikmati film era sekarang, Netflix menyediakan berbagai jenis film. Mulai film bioskop panjang atau serial dengan berbagai genre. Netflix bisa dikatakan etalase cerita audio visual yang terus berkembang, salah satu jenis penyedia layanan media streaming digital atau kerap disebut Over The Top (OTT) seperti Disney+ Hotstar, Iflix, Viu, MolaTv, GoPlay hingga Snack Video. Tentunya orang bebas dengan apa yang ingin ditontonnya, ruang digital dalam selera.   

Makin Mudah

Perkembangan teknologi digital memengaruhi ruang budaya menonton film jadi lebih mudah, cepat dan murah atau dapat kita katakan “instan”.

Di era 80-an, belum ada sarana yang memungkinkan menonton film dengan teknologi seperti itu. Ketika itu, ada layar tancap. Pertunjukan ini berupa layar besar dengan proyektor memutar satu atau dua film biasanya di tanah lapang. Warga menontonnya sambil mengggelar tikar. Dinikmati masyarakat segala usia.

Setelah era layar tancap, barulah beralih ke bioskop. Sebuah kegiatan menonton film di sebuah ruangan dengan proyektor dan tempat duduk yang nyaman. Filmnya pun sudah dikelompokkan tersendiri, termasuk batasan usia. Bioskop menyajikan pilihan film. Ini berbeda dengan layar tancap di mana pentonton tak bisa memilih film apa yang diputar.

Era nonton film di bioskop ini penonton tentunya menyesuaikan jadwal tayangnya. Termasuk pula harus intens menyaksikan alur cerita film, sebab diputar tanpa jeda. Mereka yang di tengah-tengah film tertidur atau buang air di toilet, tentunya akan ketinggalan alurnya.

Nah, era Netfilx menghadirkan kemudahan. Selain tidak terpatok jam tayang hingga tentu saja bisa dijeda jika ada keperluan mendesak.

Namun, di balik kemudahan itu, ada satu yang berkurang. Adalah proses interaksi sosial, yang lebih mungkin terjadi ketika kita menonton film di layar tancap atau di gedung bioskop.

Menonton film di era “Netflix” cenderung menjadi kegiatan individual. Jadi ada pergeseran budaya, bukan hanya karena pandemi Covid-19 tetapi juga sebab perkembangan teknologi.

Perkembangan ini terjadi sangat cepat, mengikuti selera konsumsi masyarakat yang terus bertambah khususnya era pandemi ini juga telah memengaruhi kualitas, bentuk, nilai dan makna tontonan. Perubahan ruang konsumsi akibat keadaan ini termasuk perkembangan teknologi menimbulkan pertanyaan: apakah nanti setelah pandemi masyarakat tetap pergi ke bioskop?

Pertanyaan itu jadi tantangan tersendiri bagi para pelaku usaha di bidang itu. Selanjutnya muncul pula pertanyaan: apakah pembuat tayangan memiliki ruang intelektual, kecakapan, kharisma, memberikan kesempatan menyampaikan cerita dalam ruang digital atau bahkan membuat bujuk rayu agar bioskop tak ditinggalkan?

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like