Khilafah HTI

Fenomena ‘Anak Nakal’ di Jamaah Islamiyah (3)

By

Dari uraian pada tulisan sebelumnya kemudian muncul pertanyaan: Apa yang membuat para anggota atau simpatisan Jamaah Islamiyah (JI) ada yang mau terlibat amaliyah atau membantu para pelaku yang terkait amaliyah, meski resikonya adalah di-nonaktifkan dari jamaah? Dan, bagaimana Noordin M Top bisa mendapatkan banyak pengikut baru di tengah pelariannya?

Setidaknya ada dua faktor yang sangat berpengaruh, yaitu:

1. Mengakarnya Konsep Jihad dalam Gerakan JI

Di dalam sistem pembinaan JI, diajarkan bahwa jihad merupakan bentuk pembelaan agama yang tertinggi. Ini benar bila dilakukan pada saat yang tepat dan pada kondisi yang tepat. Misalnya pada saat melawan penjajah di masa sebelum kemerdekaan.

Para pendiri JI pun faham potensi bahaya bila jihad dilakukan tanpa memperhatikan faktor-faktor di sekelilingnya. Mereka sangat berhati-hati ketika harus membuat kebijakan yang berhubungan dengan jihad. Ketakutan akan merusak tatanan yang telah mereka buat karena efek dari operasi terkait jihad yang terlalu dini sangat mendominasi pemikiran para tokoh JI.

Mereka juga sangat paham bahwa kegiatan terkait jihad itu termasuk pelanggaran hukum di Indonesia. Tetapi mereka juga tidak mau konsep ‘dakwah wal jihad’ itu hanya berjalan di bagian dakwah saja. Maka jalan tengahnya adalah: pemahaman akan pentingnya jihad tetap ditekankan dalam program pembinaan dan pengkaderan, namun pelaksanaan setiap kegiatan terkait jihad seperti pelatihan kemiliteran dan lain-lain harus sesuai dengan arahan kebijakan amir Jamaah Islamiyah. Tidak boleh punya inisiatif melakukannya sendiri tanpa restu dari amir JI. Sehingga apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, semua anggota JI akan tetap solid karena itu merupakan resiko dari jalan perjuangan yang disepakati bersama.

2. Adanya Kader dan Simpatisan JI yang Tidak Sabar dan Salah Membaca Situasi

Setelah berakhirnya konflik Ambon dan Poso yang disusul Bom Bali 2002, di kalangan kader dan simpatisan JI terdapat dua golongan (kelompok) yang mempunyai penafsiran baru mengenai jihad di Indonesia.

Kelompok pertama adalah yang ingin melanjutkan jihad di wilayah bekas konflik Poso sebagai upaya mewujudkan qaidah aminah (basis aman) untuk memulai proyek jihad yang lebih besar. Alasan kelompok ini adalah karena konsep membuat qaidah aminah ini ada dalam Pedoman Umum Perjuangan Jamaah Islamiyah (PUPJI). Dan, menurut kelompok ini, wilayah Poso dan sekitarnya memenuhi syarat untuk dijadikan qaidah aminah.

Santoso dan kawan-kawan yang merintis kelompok MIT (Mujahidin Indonesia timur) adalah sisa-sisa kelompok ini, yaitu yang berpendapat bahwa Poso bisa dijadikan sebagai qaidah aminah. Meskipun kemudian belakangan MIT menyatakan berbaiat kepada ISIS, tetapi cikal bakalnya tidak terlepas dari konsep pembentukan qaidah aminah.

Kelompok kedua adalah yang menganggap Bom Bali 2002 merupakan permulaan era jihad baru, yaitu mengikuti tren jihad global yang dilakukan oleh Al Qaeda dengan sasaran Yahudi-Amerika dan sekutunya. Bagi kelompok ini, mengikuti tren jihad global itu lebih keren. Narasinya adalah membela umat Islam dan memerangi negara-negara yang mendhalimi umat Islam saat ini.

Bila di kelompok pertama yang merintis qaidah aminah tujuannya adalah untuk menerapkan syariat Islam di wilayah itu dan menjadi basis operasi jihad itu lingkupnya masih di Indonesia, maka yang kelompok kedua ini sudah menjadikan umat Islam di seluruh dunia sebagai pihak yang mereka perjuangkan. Ini lebih keren. Saya dulu termasuk yang termakan narasi kelompok yang kedua ini. Jihad global lebih keren.

Kelompok yang kedua ini di kemudian hari berkembang lebih cepat dan lebih mudah mendapatkan pengikut. Meskipun kemudian sedikit demi sedikit targetnya bergeser karena keterbatasan kemampuan dan sulitnya kondisi yang dihadapi, namun setidaknya telah membuktikan bahwa ide jihad global itu lebih laku.

Setelah era keemasan kelompok kedua berakhir dengan tewasnya Noordin M Top di tahun 2009 pasca-terjadinya serangan di hotel JW Marriot-Ritz Carlton, perlahan pengaruh narasi jihad global mengalami penurunan. Seakan kematian Noordin M Top merupakan simbol kekalahan dan kemunduran.

Pada saat yang sama kelompok pertama kembali menggaungkan konsep jihad konvensional berbasis qaidah aminah. Pelatihan Aceh awal 2010 dan berdirinya MIT di pertengahan 2012 adalah bukti kebangkitan kelompok pertama.

Dua kelompok ini sama-sama tidak mengikuti arahan dan kebijakan resmi Jamaah Islamiyah. Sehingga oleh para tokoh senior JI mereka ini disebut sebagai ‘anak nakal’. Bila demikian, berarti para kader dan simpatisan yang masih setia mengikuti arahan dan kebijakan amir JI adalah ‘anak-anak penurut’.

Lalu apakah ada konflik antara ‘anak nakal’ dengan induknya yaitu para tokoh Jamaah Islamiyah dan ‘anak-anak penurut’ itu? Seperti apa konflik itu dan bagaimana dampaknya? (Bersambung).

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like