Masa Lalu: Sumber Energi atau Sumber Masalah?

By

“Impianku bukan dari masa depan, impianku dari masa lalu.”

Bagi penggemar serial anime dan manga Naruto Shipudden pasti tahu kutipan kata-kata di atas berasal dari siapa. Ya, itu adalah kata-kata yang diucapkan oleh Uchiha Sasuke. Salah satu karakter utama dalam anime/manga Naruto.

Dia sempat menjadi karakter jahat karena dendam sebelum akhirnya sadar bahwa dendam hanya akan membawa pada kehancuran tak bertepi jika terus dipelihara. Sedangkan Naruto sahabatnya justru berusaha menjalin ikatan dengan orang-orang yang mengucilkannya. Naruto bisa mengubur dalam-dalam dendam dan kebencian dalam dirinya. Naruto berhasil mengubah energi kebencian itu menjadi semangat pembuktian diri bahwa ia mencintai orang-orang di sekitarnya.

Kata-kata Sasuke itu benar-benar baru menyadarkan saya dan mungkin Anda juga, bahwa sebenarnya impian atau cita-cita itu dibangun berdasarkan apa yang terjadi di masa lalu. Atau berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang telah diterima.

Seorang ayah yang ingin anaknya lebih suskses daripada dirinya karena memiliki masa lalu yang jauh dari kata ideal. Seorang ayah yang hanya bisa sekolah setingkat SD pasti akan bekerja keras agar anaknya bisa mengenyam pendidikan yang setinggi mungkin.

Seorang Sadio Mane yang kemudian menjadi pemain sepakbola terkenal salah satunya karena ingin membahagiakan keluarga besarnya dan memajukan kampungnya yang telah lama dalam kondisi memprihatinkan. Ia ingin memperbaiki kondisi orang-orang di sekitarnya yang memprihatinkan sejak dulu.

Seseorang juga bisa menjadi penjahat yang kejam karena salah menyikapi masa lalunya. Pengalaman hidup yang buruk bukan membuatnya untuk terus berusaha melakukan yang terbaik bersama orang-orang di sekitarnya. Tapi malah membuatnya dendam dan benci kepada orang-orang yang dianggap sebagai penyebab kesusahan yang ia alami. Orang yang seperti ini berarti lebih senang memperburuk keadaaan dengan ikut berbuat buruk.

Seseorang yang mempunyai latar belakang broken home sejak kecil akan sangat berpeluang untuk menjadi seorang penjahat jika tidak kunjung menemukan solusi yang menenangkan jiwanya.

Seseorang yang di masa lalunya merasa diperlakukan tidak adil, menderita, termarjinalisasi, akan cenderung lebih mudah terpengaruh ide-ide yang revolusioner, termasuk ideologi kekerasan. Ini pula kiranya yang menjadi penyebab mengapa ekstremisme kekerasan lebih sering terjadi di negara-negara kelas menengah ke bawah.

Ide-ide pemberontakan, revolusi, dan sebagainya susah sekali laku di negeri yang makmur sentosa sejak dulu seperti Brunei Darussalam misalnya.

Keadaan yang buruk karena perilaku buruk sekelompok orang tidak boleh membuat kita kemudian ikut berbuat buruk dengan mencaci, mencela, dan mendendam tanpa melakukan upaya perbaikan. Kondisi bangsa dan negara yang kacau karena ulah orang-orang yang tak bertanggungjawab memang menyesakkan dada. Tapi rasanya tidak adil jika hanya bisa menyalahkan keadaan tapi pada saat yang sama tidak melakukan upaya yang mendatangkan perbaikan.

Setidaknya bila tidak mampu mendatangkan perbaikan maka jangan memperburuk keadaan. 

Ilustrasi: Pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like