Lebaran di Tengah Inkonsistensi Pencegahan Penyebaran Covid-19

By

Tahun ini kita semua masih harus berlebaran dalam kondisi pandemi Covid-19 yang belum selesai. Meskipun vaksin mulai dilaksanakan, namun belum berdampak signifikan. Salah satu sebabnya adalah pembentukan imun tiap orang itu berbeda. Konon minimal butuh antara sebulan sampai setahun baru terbentuk imun. Artinya dalam rentang waktu itu sangat mungkin orang yang sudah vaksin pun masih bisa terpapar virus Covid-19.

Apabila mengacu pada kasus yang sedang terjadi di India di mana penyebaran virus Covid-19 kembali menggila, yang bahkan kemudian ditemukan 17 varian baru virus Covid-19, maka kita semua patut khawatir. Vaksinasi untuk varian virus terdahulu baru saja mulai, sudah muncul varian baru. Seluruh dunia pun kembali siaga akan kemungkinan serangan gelombang kedua virus Covid-19 varian baru.

Di Indonesia, pemerintah memang terlihat (agak) panik. Kembali melarang kegiatan mudik Lebaran adalah salah satu respon dari krisis di India. Tapi sayangnya tidak demikian dengan masyarakatnya. Bila sudah menyangkut dengan kepentingannya, masyarakat kita selalu pintar beralasan untuk melanggar kebijakan pemerintah.

Beberapa alasan yang sering saya dengar dari masyarakat yang saya temui ketika mereka melanggar protokol kesehatan di antaranya adalah:

“Di daerah ini sudah tidak ada yang kena Covid-19”. Alasan ini muncul karena ketidaktahuan atau tidak mau tahu bahwa semua orang masih berpotensi membawa virus Covid-19 dari luar. Siapa yang tahu riwayat perjalanan seseorang sebelum bertemu di tempat-tempat umum atau di perjalanan.

“Menaati protokol kesehatan itu repot, tidak nyaman, dan seterusnya…”. Alasan ini muncul karena ketidakpedulian terhadap dampak dari pandemi. Ekonomi yang tersendat, rumah sakit yang kolaps karena banyaknya pasien Covid-19, dan lain-lain. Mereka tidak sadar bahwa ketika pandemi menggila lagi seperti di India, semua akan merasakan dampaknya. Yang selama ini menaati protokol kesehatan pun akan terkena dampaknya.

“Ustaz Fulan tidak menegakkan protokol kesehatan dalam kegiatan dakwahnya”. Wah, ini sih memang bisa jadi masalah serius. Di kalangan akar rumput, figur ulama itu seringkali menjadi patokan dalam melaksanakan peraturan pemerintah. Di tengah kondisi bangsa ini yang sedang terpuruk, di mana masyarakat mengalami krisis kepercayaan terhadap pemerintah, peran ulama atau tokoh agama dalam pencegahan penyebaran Covid-19 menjadi sangat berarti.

Tokoh agama terutama di kalangan umat Islam yang mayoritas ini memegang peran kunci dalam pencegahan Covid-19. Mereka ini masih menjadi figur terpercaya di tengah krisis kepercayaan pada pemerintah yang sedang berkuasa. Namun sayangnya peran mereka tidak maksimal. Bahkan banyak di antaranya yang tidak memberikan contoh yang baik dalam pencegahan penyebaran Covid-19.

Alasan berikutnya yang biasa saya temui adalah, “Pemerintah tidak konsisten dalam membuat peraturan. Mudik dilarang tapi mall dan tempat-tempat wisata boleh buka”. Kalau soal ini sih saya juga bingung. Tapi setidaknya semua harus sepakat bahwa menaati protokol kesehatan itu adalah syarat wajib hidup di era new normal. Mau pemerintah bikin kebijakan atau peraturan yang tidak konsisten, pastikan kita semua konsisten untuk selalu menerapkan protokol kesehatan.

Lebaran di daerah saya kali ini pun sepertinya akan lebih longgar dalam hal menaati protokol kesehatan. Sudah terlihat dari kegiatan selama Ramadan ini. Tarawih sudah banyak yang tidak menjaga jarak. Antrian belanja di minimarket atau toko pakaian yang tanpa menjaga jarak, atau bahkan pasar yang penuh sesak. Semua itu sepertinya sudah dianggap biasa.

Di kecamatan saya memang sementara ini masuk zona hijau dan untuk kabupaten termasuk zona kuning. Satu-satunya protokol kesehatan yang masih relatif ditaati adalah rata-rata semua masih memakai masker. Tapi jangan tanya soal menjaga jarak atau mencuci tangan. Mayoritas kurang peduli kecuali jika menjadi syarat masuk tempat layanan publik seperti bank dan kantor pemerintahan.

Semoga lebaran kali ini kita semua bisa berbahagia tanpa menyebabkan peningkatan kasus Covid-19. Tetap taati protokol kesehatan demi menjaga kesehatan diri kita dan orang-orang yang kita sayangi. Selamat menyambut Idul Fitri 1442 H.

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like