Kisah Bapak yang Kaget Melihat Putrinya Mencorat-coret Wajahnya Sendiri

Eka Setiawan
Eka Setiawan
4 Min Read

Suatu hari, kawan saya namanya Ari terperangah melihat apa yang dilakukan putri pertamanya. Menggunakan cat pewarna, putrinya itu dengan polos dan santai mencoret-coret tubuhnya, termasuk wajahnya sendiri.

“Gisha, niku saweg nopo? (sedang melakukan apa)?,” katanya kepada putrinya yang bernama Gisha.

“Orat-oret (corat-coret),” jawab Gisha enteng.

Kawan saya itu, si Ari, lantas menasihati putrinya agar tidak melakukan hal itu. Tentu saja, selanjutnya membersihkan bekas cat tersebut.

Dia kemudian merefleksi diri. Mencoba mengingat-ingat apa yang pernah Gisha lihat sampai-sampai menirukannya. Oh ya! Akhirnya ditemukanlah jawaban atas peristiwa itu. Suatu waktu, Ari, kawan saya yang beperawakan ceking dan rambutnya gondrong ini pernah membuat tato bagi konsumennya.

Saya sebut konsumen, karena Ari ini memang pekerja seni. Dia kawan saya semasa SMA dulu di Kota Tegal yang kini tinggal di Kota Semarang. Lulusan master Seni Rupa.

Pekerjaannya berhubungan dengan apapun tentang seni rupa. Membuat mural, lukisan, sketsa wajah sampai melayani pembuatan tato. Meskipun dulu sempat juga jadi guru hingga dosen.

Nah, saat menato konsumennya itu, si Ari ingat ketika itu Gisha melihat apa yang dilakukan bapaknya. Gisha sempat bertanya, apa yang sedang dilakukan bapaknya itu.

“Saat itu tak jawab, lagi orat-oret,” kata Ari bercerita.

“Sejak peristiwa itu, saya langsung setop melayani membuat tato,” sambung Ari.

Saya bertemu Ari pada Sabtu 8 Mei 2021 malam kemarin, sampai Minggu dini hari. Saya mengajak istri, ada juga kawan saya bersama istri termasuk kawan lain lulusan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang (Unnes) bernama Rudi Vouller yang juga mengajak istrinya. Ada lagi satu orang kawan bernama Ibnu alias Inu, yang juga seorang seniman lukis.

Kami bertemu, nongkrong di daerah Patemon, Kecamatan Gunungpati Kota Semarang di sebuah kedai kopi. Namanya Kedai Kopi Kang Putu alias Gunawan Budi Susanto yang merupakan seorang budayawan di Kota Semarang.

Obrolan kami ditemani kopi rempah, kopi susu, pisang goreng hingga singkong goreng. Sungguh nikmat sekali. Bercengkerama dengan kawan-kawan lama sembari berbagi cerita.

Kalau saya sendiri, kali terakhir bertemu dengan Ari pada November tahun lalu. Kalau dengan Vouller plus istrinya termasuk si Inu, tak sengaja berjumpa di sebuah acara talk show bertema “Teroris Taubat” di Taman Budaya Raden Saleh, Selasa 4 Mei 2021 kemarin.

Selain Ari yang kenal sejak SMA kelas 1, sekira tahun 2001 silam, kalau dengan Vouller dan Inu ini kenal setelah masa kuliah. Sebab, saya sering bertandang ke kawasan Gunungpati komplek Kampus Unnes untuk dolan ke kontrakan Ari. Di situlah saya mengenal teman-teman lainnya.

Mereka, teman-teman saya yang dari seni rupa itu juga tergabung dalam klub Vespa. Namanya UVO, akronim dari Unnes Vespa Owners. Hari Kamis kemarin, UVO bagi-bagi takjil gratis di sekitaran Simpang 7 Unnes.

Kembali ke obrolan tadi, Ari kembali bercerita. Kalau sekarang ini, lebih banyak menemani Gisha. Kalau pagi, kerap mengantar istrinya kerja jadi guru, kemudian kembali ke rumah untuk mengurus putrinya.

“Anak saya kan generasi pandemi. Sekolahnya online, jadi saya ngalah (menemaninya) di rumah, sesekali ada garapan melukis, membuat sketsa atau mural, saya biasanya ajak Vouller. Kalau dia (Vouller) yang ada order ya biasa ajak saya,” tutupnya.

Hampir menjelang sahur tongkrongan bubar. Kami saling berpamitan. Dari Kedai Kopi Kang Putu juga, selain dapat oleh-oleh kopi robusta gratis, saya juga sempat membeli sebuah buku tulisan Prof. Mudjahirin Thohir, guru besar Antropologi Universitas Diponegoro. Judulnya: “Beragam(a) itu Indah”.

 

lustrasi: Pixabay.com

 

 

 

 

Share this Article
Posted by Eka Setiawan
Eka Setiawan is editor of ruangobrol.id. He has many experience to handle many crime news and humanity.
Leave a comment