Teroris

Siapapun Bisa Kena Rekrut Kelompok Teroris

By

Penyerang Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri), Zakiah Aini dikenal tidak bergaul dengan warga sekitar. Media nasional, Kompas, memberitakan bahwa sang pelaku menutup diri di rumahnya sejak berhenti kuliah. Kondisi yang sama juga terlihat pada LN (35) terduga teroris asal Karawang yang baru saja ditangkap Densus 88. Warga mengenalnya sebagai sosok yang tidak pernah bergaul. Bahkan tetangganya sendiri tidak mengetahui nama LN. Begitu juga dengan terduga teroris W (20) dari Cirebon yang ditangkap tahun 2019 silam. Dia adalah sosok yang pendiam dan jarang bersosialisasi.

Fakta-fakta di atas semakin memperkuat stigma bahwa orang-orang yang suka menyendiri, menutup diri, sulit bergaul, atau menarik diri dari lingkungan perlu dicurigai. Padahal, belum tentu dia sedang merencanakan tindakan kriminal. Bisa saja, dia sedang tidak mempunyai uang, sedang lapar, sedang mempersiapkan ujian, atau memiliki masalah keluarga. Belum tentu mereka adalah pengguna narkoba atau sedang bergabung dengan kelompok teroris.

Mereka yang masuk atau bersinggungan dengan jaringan teroris tidak semuanya pribadi yang tertutup atau pendiam. Seseorang yang berkepribadian periang, mudah bergaul, ceriwis, atau ekstrovert juga memiliki potensi yang sama untuk direkrut oleh jaringan teroris.

Tidak perlu jauh-jauh mengambil contoh orang lain. Saya dari kecil adalah seorang anak yang periang, cerewet, dan mudah bergaul dengan orang. Tapi, saya yang justru terekrut, sedangkan kakak saya yang punya karakter berlawanan, alias pendiam, tidak terekrut. Bahkan, teman-teman sekolah khususnya SMP, kaget ketika mendengar kabar tentang kepergian saya ke suriah. “Kok bisa kesana?” kata mereka.

Kantor berita Antara pernah mengungkap Dani Dwi Permana, sosok pelaku terror bom Hotel JW Mariot, Jakarta, di tahun 2009. Pemuda 18 tahun itu dikenal sebagai sosok yang jujur, baik, dan suka membantu teman-temannya. Sebagai penjaga masjid di perumahannya, masyarakat menilai bahwa dia cenderung bisa bergaul dengan orang lain. Bahkan, dia sering terlihat bermain basket dan game online bersama teman-temannya.

Orang-orang yang memilih untuk menutup diri dari lingkungan tidak sepenuhnya enggan bergaul dan hendak melakukan kegiatan negatif. Justru mereka sebenarnya memiliki masalah besar yang membutuhkan bantuan. Seperti mempunyai trauma berat ketika bersosialisasi dengan banyak orang, mengalami kegagalan, korban perundungan, merasa berbeda dari mayoritas, pendapatnya selalu dipatahkan, dan lain sebagainya. Mereka ini sebenarnya sedang membutuhkan perhatian kita.

Sebagai kesimpulan dari tulisan ini, saya bisa mengatakan bahwa seseorang dengan tipe kepribadian apapun bisa direkrut jaringan atau kelompok terror. Menilai seseorang dari luar saja bukanlah hal yang efektif. Ada kalanya seorang periang juga mengalami kegalauan dalam hatinya. Mereka memiliki masalah yang mungkin dia tidak pandai mengutarakannya, atau merasa bosan dengan kehidupan yang nampaknya itu-itu saja. Ada banyak faktor seseorang kemudian terjebak dan masuk dalam jaringan teroris. Oleh karena itu, mari kita tanggalkan stigma-stigma negatif pada karakter atau pilihan hidup seseorang. Tunjukan perhatian pada orang-orang terdekat kita yang ternyata sedang memendam masalah.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like