Hijrah Boleh Tapi Jangan Bikin Resah

By

Suatu ketika seorang kawan curhat kepada saya. Ia mengeluhkan tentang beberapa teman-teman tongkrongannya yang sudah pada hijrah. Kawan itu galau karena perubahan pada teman-temannya yang hijrah itu membuat obrolan-obrolan di grup WhastApp menjadi berbeda, sudah mulai ada dalil-dalil. Penampilannya juga berubah. Celananya mulai cingkrang-cingkrang.

Soal penampilan yang mulai berubah dan dalil-dalil agama yang menghiasi obrolan di WhastApp grup itu sebenarnya tidak masalah baginya. Tapi yang membuatnya galau adalah ketika sebagian dari yang hijrah itu lalu menutup diri, pergaulan menjadi ekslusif, dan membuat jarak, yang mana semua itu membuat pergaulan jadi nggak asik.

Padahal kawan-kawannya yang lain yang belum hijrah sangat terbuka dan sangat menghormati pilihan masing-masing. Teman-teman yang sudah hijrah itu sebenarnya masih bisa membaur. Karena membaur itu kan tidak harus melebur.

Ngomong-ngomong soal membaur tidak harus melebur, itu pula yang saya lakukan ketika di Lapas dulu. Karena bagi saya membaur itu membuat hidup jadi terasa lapang dan bisa banyak belajar dari lingkungan. Di penjara itu kalau semakin menutup diri maka akan semakin terasa sempit. Karena sejatinya sikap eksklusif itu melawan hukum alam. Agar bisa menerima dan mengeluarkan sesuatu, makhluk hidup harus terbuka.

Membaur memang tidak harus melebur. Bergaul dengan perokok tidak harus ikut-ikutan merokok. Karena kita tidak ada urusan dengan merokoknya, tapi berurusan dengan orangnya, dengan pekerjaannya, dengan ceritanya, dengan keahliannya, dan jalinan pertemanan di antara kita.

Kembali ke soal para pelaku hijrah yang kemudian cenderung jadi eksklusif, jadi suka berdalil yang bagi sebagian orang jadi berkesan sok pintar, atau jadi menjaga jarak dalam pergaulan sehari-hari. Saya kemudian mencoba mencari jawaban dari sisi psikologi, mengapa hal itu sering terjadi? Lama saya mencari sampai akhirnya kemarin secara tidak sengaja saya ketemu sebuah link yang dibagikan oleh salah satu kawan di linimasa media sosialnya. Link itu membawa saya pada artikel tentang ‘Dunning-Kruger Effect’ yang sering terjadi pada orang-orang yang baru belajar sesuatu yang baru.

Dunning-Kruger Effect ini adalah teori yang dikembangkan pada tahun 1999 oleh Dr. David Dunning dan Dr. Justin Kruger, dua profesor psikologi dari Cornell University. Secara garis besar, Dunning-Kruger Effect didefinisikan sebagai bias kognitif di mana seorang individu yang tidak terampil, menderita superioritas ilusi, mereka keliru akan tingkat kemampuan mereka dan merasa kemampuan mereka jauh lebih tinggi dari yang sebenarnya. Bias ini dikaitkan dengan ketidakmampuan metakognitif untuk mengenali mereka sendiri .

Penyebab dari Dunning-Kruger Effect yang paling besar adalah ego. Tidak ada satu orangpun yang berpikir dirinya adalah orang yang tidak mempunyai kemampuan sehingga mereka akan meningkatkan penilaian mengenai dirinya. Penilaian seseorang memiliki pengabaian (ignorance) sehingga lebih mudah mengakui diri kompeten daripada mengetahui dan menilai kelemahan diri, sehingga hal inilah yang menciptakan ilusi.

Orang-orang yang baru berhijrah dan kemudian merasa pemahaman agamanya paling benar lalu yang berbeda pandangan dengannya dianggap salah, pada fase ini mereka bisa disebut terkena Dunning-Kruger Effect. Pada fase ini orang-orang yang baru hijrah menjadi sangat rentan akan doktrin-doktrin ekstrim dari kelompok yang pandai memanfaatkan situasi psikologi para pemula ini.

Kelompok-kelompok gerakan perlawanan yang selalu menggunakan narasi-narasi agama semacam Al Qaeda atau ISIS sangat ahli dalam memanfaatkan situasi seperti ini. Mumpung belum banyak tahu, dimasukkanlah doktrin-doktrin yang membuat orang-orang dalam fase ini semakin merasa lebih berarti dari kebanyakan orang.

Padahal semestinya mereka yang baru hijrah itu menyadari bahwa hijrah tidak boleh hanya terpaku pada bagaimana kita hidup lebih agamis kemudian melalaikan misi sosial. Hijrah juga tidak hanya sekadar berjilbab lebar, berjenggot lebat, bercelana cingkrang, mengubah foto profil sosmed menjadi blur atau sering share kutipan-kutipan tausyiah dari ustaz idolanya, lalu jadi ‘sok pintar’ yang sejatinya tidak pintar.

Sebagai manusia yang berakal, maka seharusnya jangan hanya melihat hijrah dari satu sisi. Lihatlah secara utuh dan komprehensif, bahwa hijrah bukan berarti asosial, namun hijrah harus sampai pada tingkat kesalehan sosial.

Sekali lagi, seidealis apapun diri kita, kita harus tetap bisa membaur. Karena membaur tidak harus melebur. Selamat menjalankan ibadah puasa!

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like