Peran Arsitek dalam Pencegahan Terorisme

By

Arsitek sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Mereka sangat berperan dalam pembangunan sebuah kota dan negara. Mulai dari merancang bangunan, perancangan desain, perkiraan anggaran, hingga pengontrolan pembangunan bangunan. Bahkan mereka juga harus memperhatikan faktor hubungan antara karyanya dengan lingkungan hidup, kenyamanan, serta keselamatan manusia (quipper)

Terutama soal keselamatan manusia, seorang arsitek tidak bisa mengabaikan unsur mitgasi dari bahaya, baik yang berasal dari alam atau konflik manusia. Pada beberapa jenis bangunan justru didesain dengan mempertimbangkan adanya serangan teror, seperti ledakan bom. Oleh karena itu, arsitek dapat dikatakan memiliki peran yang sangat penting untuk meminimalisir dampak dari serangan teroris. Upaya pengurangan dampak dari terorisme itu bukan kemudian datang ke penjara-penjara dan bertemu langsung dengan pelaku atau berdiskusi dengan aparat keamanan dan peneliti. Mereka memiliki caranya sendiri untuk ikut andil dalam mencegah tindakan terorisme. Setiap kita memiliki jalan jihadnya masing-masing, termasuk para arsitek.

Keterlibatan arsitek untuk perlindungan atau meminimalisir kehancuran dari serangan musuh atau terror sudah ada sejak zaman kuno. Hal ini disebutkan dalam penelitian Francis Ogochukwu dari Universitas Nigeria yang berjudul Resilient Architecture; a Design Approach to Counter Terrorism in Building for Safety of Occupants. Jenis-jenis karya arsitektural kuno yang masuk dalam penelitian itu diantaranya:
– Tembok Benteng Egyptian,
– Tembok pertahanan yang melindungi kota dari serangan tentara Roman,
– Bentuk arsitektur dengan tembok tebal seperti benteng, menara, dan parit,
– Bentuk arsitektur dengan pertahanan dari alam (Tebing, Sungai, Parit) seperti istana yang teretak di ujung jurang, atau tepi laut,
– Bartizan ( turret yang menjorok ke dinding yang diproyeksikan dari dinding benteng akhir abad pertengahan dan awal-modern dari awal abad ke-14 hingga abad ke-18).
– Gerbang yang menggunakan besi-besi tajam di ujung bawahnya atau depannya agar tidak ada yang berani menerobos pintu gerbang.

Sementara itu, pada masa kini, bangunan yang mempertimbangkan serangan teror itu seperti Freedom Tower dari Gedung WTC yang baru. Masih dalam penelitian Francis, sejak peristiwa serangan WTC pada 11 september silam, Freedom Tower dibangun dengan pertahanan maksimum untuk menghadapi serangan teror. Struktur bangunannya dapat menahan berbagai bentuk serangan, termasuk bom mobil. Lift dan tangganya menggunakan bahan yang telah diperkuat untuk memberikan keamanan ekstra. Kemudian, filter udara di dalam gedung itu didesain dapat menahan serangan senjata biologis.

Freedom Tower tampaknya bukan satu-satunya bangunan tinggi yang mempertimbangkan keamanan ekstra seperti ini. Sebuah serangan teror dapat menginspirasi arsitek untuk bisa membangun gedung yang jauh lebih aman. Seperti halnya Melbourne Cricket Ground. Francis dalam penelitiannya menyebutkan bahwa setelah peristiwa pengeboman di stasiun London pada 2005, Australia kemudian memperkuat Melbourne Cricket Ground dengan keamanan yang lebih baik. Terutama pada pengelolaan keramaian yang lebih baik, mengingat gedung tersebut adalah sarana publik. Contoh yang lain adalah Menara Eureka di Southbank, Melbourne, Australia. Hancurnya gedung World Trade Center pada peristiwa 9/11 mendorong arsitek Menara Eureka untuk menguatkan struktur menara itu dan memperkuat bagian-bagian pentingnya. Sehingga saat ini menara tersebut mampu menahan ledakan bom mobil.

Pengalaman adalah guru paling berharga. Tragedi ledakan bom di gedung-gedung besar memang memilukan dan merenggut korban, akan tetapi peristiwa itu memberikan pembelajaran dalam pembangunan gedung yang jauh lebih kuat. Bahaya serangan teror masih terus ada hingga saat ini. Kita memang tidak bisa memprediksi kapan terjadinya serangan, namun dengan peran arsitek yang mendesain gedung yang kuat, kita dapat mengurangi jumlah korban dan meminimalisir kehancuran. Bahkan, desain khusus dari suatu bangunan bisa menunda aksi serangan atau peledakan dari teroris di gedung tersebut.

Selain memiliki gedung dengan struktur bangunan yang tahan ledakan besar, unsur manusia yang menggunakan gedung juga perlu diperkuat. Upaya itu dilakukan melalui edukasi tentang mitigasi bencana dari berbagai macam bahaya, termasuk serangan teror. Soal pentingnya titik kumpul, lokasi tangga darurat, dimana harus bersembunyi, dan titik-titik pelarian ketika ada serangan di dalam gedung.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like