Ghosting

Ghosting ala Kelompok Teroris ISIS

By

Selain dua orang anggota keluarga yang sukses dilantik jadi Walikota, anggota keluarga Presiden yang lain juga telah dianggap sukses. Tetapi kali ini, dia sukses ghosting anak orang. Anak bungsu Presiden, Kaesang, disebut-sebut telah meninggalkan mantan kekasihnya Felicia Tissue tanpa alasan yang jelas. Netizen makin geram ketika mendapat kabar bahwa anak Presiden itu dianggap terlalu cepat move on.

Permasalahan ini terendus warganet dan menjadi perbincangan ketika Ibu dari Felicia menuliskan cerita anaknya di instastory. Tidak tanggung-tanggung, dia menandai akun Presiden Jokowi pada unggahan itu. Menurutnya, Kaesang telah berjanji menikahi anak perempuannya itu pada awal tahun. Selama beberapa tahun terakhir, Felicia lah yang memang menemani Kaesang hingga lulus kuliah di Singapura.

Singkat cerita, kisah cinta Felcia dan Kaesang itu dilanda masalah sejak Desember 2020. Bahkan, tersiar kabar, Anak bungsu Presiden Jokowi itu malah mengencani seorang MC di Hebat Official, Nadya Arifta. Hebat Official adalah perusahaan milik Kaesang dan kakaknya, Ghibran. Kabar tersebut tentu membaut Ibunda Felicia geram. Dia mengatakan bahwa Nadya adalah babu yang merebut pasangan majikan. Hal ini kemudian disambut dengan Netizen yang ramai-ramai menghujat Nadya dan Kaesang sang pelaku ‘Ghosting‘.

Ghosting dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai berbayang. Menurut Yayasan Pulih, ghosting merupakan sebuah situasi ketika seseorang memutuskan hubungan dengan menghentikan seluruh komunikasi secara tiba-tiba dan tanpa penjelasan.

Merujuk pada definisi itu, apakah Kaesang layak disebut melakukan ghosting? Sebab, dia telah menjelaskan bahwa hubungannya dengan Felicia telah selesai pada pertengahan Januari. Kaesang menyayangkan masalah pribadinya telah diumbar dan menjadi konsumsi publik. Hal ini dia sampaikan ada sebuah video klarfikasi berdurasi 59 detik pada 8 Maret lalu. Sementara itu, pihak Nadya belum memberikan penjelasan secara resmi. Meskipun sudah ada keterangan dari seseorang yang mengaku sebagai pamannya.

Lalu, bagaimana ghosting di kalangan Jihadis? Tampaknya jenis hubungan yang tidak memiliki akhir yang jelas ini banyak terjadi di kalangan tersebut.

  • Syria Ghosting

Syria Ghosting banyak muncul di sekitar tahun 2017. Banyak perempuan pendukung ISIS asal Indonesia yang mengaku memiliki pasangan di Suriah. Biasanya, pertemuan terjadi di media sosial dan mereka akan menikah setelah sang perempuan sampai di wilayah ISIS.

Selama menjalin hubungan, mereka berkomunikasi hanya melalui media sosial. Bagi perempuan-perempuan yang memiliki keberanian, kesempatan, dan dana, mereka memutuskan untuk benar-benar berangkat menemui pujaan hatinya di Suriah. Malangnya, sebagian dari mereka tertahan di Turki dan dideportasi kembali ke Indonesia. Selama berada di Turki hingga kembali ke tanah air, hubungan para perempuan ini dengan calon pasangannya itu semakin tidak jelas. Calon suaminya itu tidak pernah memberikan kejelasan. Sehingga, hubungan yang sudah dibangun bertahun-tahun harus berakhir begitu saja tanpa kejelasan.

  • Ambiguous Ghosting

Jika Syria Ghosting terjadi pada mereka yang belum menikah, Ambiguous Ghosting terjadi kepada mereka yang justru telah menikah. Banyak perempuan yang ditinggal pasangannya ke Suriah untuk bergabung bersama ISIS. Diantara korban ambiguous ghosting adalah para deportan yang hendak menyusul suaminya ke Suriah. Mereka gagal bertemu dengan pasangannya karena terpaksa dipulangkan kembali ke Indonesia

Pada saat deportasi inilah Ambiguous ghosting dimulai. Sejak saat itu, mereka tidak tahu menahu soal suaminya. Sebagai perempuan yang sudah menikah, mereka tidak bisa menjalin hubungan baru. Sebab, tanpa kejelasan informasi, mereka tidak bisa bercerai atau memastikan bahwa suaminya telah meninggal.

Salah satu diantaranya adalah istri Bahrumsyah, NK, yang telah menunggu selama 4 tahun. NK dideportasi pada Juli 2017 dari Turki sebelum berhasil bertemu dengan suaminya. Pada 2018, saat dia sudah terputus kontak dengan suaminya, dia mendengar kabar bahwa Bahrumsyah meninggal dunia. Lalu pada 2020, muncul kabar bahwa Bahrumsyah masih hidup. Simpang siur informasi ini membuat NK perlu bersabar menunggu kabar resmi dari pihak berwenang.

  • Click Ghosting

Click Ghosting  adalah salah satu upaya memberikan harapan melalui media sosial dengan tujuan tertentu. Pelaku akan cenderung menyebar umpan dengan memberikan like, comment atau sticker bahkan pesan pribadi kepada korban. Tanpa sadar, korban sudah diarahkan untuk menjadi target recruitment ISIS dan juga terbuka kemungkinan untuk diseleksi menjadi pasangan atau istri.

Proses ini secara penuh berjalan di media sosial atau pesan pribadi. Jika target dianggap tidak memenuhi syarat atau gagal direkrut, maka pelaku akan pergi tanpa penjelasan. Hal ini banyak terjadi pada perempuan muda dan pekerja migran Indonesia.

  • Soft Gosting

Soft Ghosting juga terjadi pada banyak pendukung ISIS atau mantan pendukung ISIS. Perbedaan ideologi atau visi menjadi penyebabnya. ISIS memberikan fatwa bahwa pasangan yang tidak mengakui ISIS haram hukumnya digauli. Oleh karena itu, banyak pasangan yang memilih mengakhiri hubungan pernikahan mereka. Meskipun demikian, ada beberapa pasangan yang menolak menceraikan pasangannya. Sehingga pasangan yang mendukung ISIS (sering kali istri) tidak bisa menikah lagi.

Salah satunya adalah S. Perempuan asal Jawa Tengah ini awalnya ingin pergi ke Suriah dan meninggalkan anak dan suaminya. Namun naas, ia dideportasi setelah 1 bulan berada di Turki. S tidak kembali ke kampungnya, namun malah bekerja di Surabaya. Suami S mengatakan bahwa ia tak akan menjemput S, namun jika S ingin kembali, ia menerimanya dengan senang hati. Suami S menjadi korban soft-ghosting karena ideologi.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like