isis-propaganda-machine-idarah-at-tawakhusy

Idarah Al-Tawakhusy: Berebut Simpati di Area Tak Bertuan

By

Konflik masih menjadi agenda regular di banyak wilayah di dunia. Dibalik kesemrawutan keadaannya, ternyata kondisi itu dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Kelompok-kelompok teror kerap menggunakan konflik untuk mencul dan mengambil peran. Besar kemungkinan, upaya mengelola konflik ini bersumber dari buku Idarah Al-Tawakhusy, atau yang telah diterjemahkan oleh William Kantz sebagai Management of Savagery. Buku panduan sangat sederhana, hanya 112 halaman, ini banyak menjadi referensi para gerilyawan kontemporer atau mujahidin.

Guna memahami kondisi konflik dalam sudut pandang yang berbeda, tulisan berikut ini akan mengupas esensi dari buku karya Syekh Abu Bakar Najih—sebuah nama yang disamarkan, itu. Konon, nama asli sang pengarang adalah Syekh Muhammad Khalil, ahli strategi Al-Qaida dari negeri Kan’an, Mesir. Ada juga yang mengatakan itu adalah Saiful Adl, mantan intelijen Mesir yang bergabung dengan mujahidin.

Dalam booklet Idarah Al-Tawakhusy itu disebutkan bahwa management of savagery adalah “sebuah sistem untuk menyediakan sandang, pangan, dan keamanan, kepada masyarakat di sebuah daerah yang tak bertuan yang dilakukan oleh sebuah komunitas kecil dengan senjata guna melindungi masyarakat dari gangguan-gangguan luar dan liar.”

Dari definisi ini, bisa kiranya ditarik kesimpulan bahwa ada lima unsur pokok dalam mengaplikasikan Idarah Al-Tawakhusy. Yaitu,  1) adanya komunitas kecil, 2) manhaj/ideologi, 3) senjata/peralatan perang, 4) wilayah/teritorial, dan 5) situasi “huru hara” atau kekacauan luar biasa atau adanya konflik sosial yang mendukung.

Dari lima pokok unsur tersebut, kondisi utama yang harus ada agar keempat unsur lain dapat dijalankan adalah situasi kekacauan di wilayah konflik yang berkepanjangan. Kondisi ini akan memudahkan dalam membuat program untuk masyarakat yang dilanda perpecahan. Untuk itu, kesiap-siagaan seorang dalam merespon sebuah area konflik akan disambut positif oleh masyarakat setempat. Karena conflict area adalah sebuah wilayah tak bertuan yang banyak kepentingan politik bermain. Bahkan, tidak sedikit wilayah konflik sangat berpotensi untuk melahirkan pribadi-pribadi yang kurang bersahabat.

Dalam kitab sederhana ini, sang penulis kitab menjabarkan program-program apa saja yang harus dilakukan untuk masyarakat di wilayah konflik. Program unggulan ini yaitu:

  1. Menciptakan rasa aman pada internal masyarakat yang yang telah berpihak.
  2. Mencukupi kebutuhan pokok; sandang dan pangan sehari-hari.
  3. Menjaga keamanan dari dari serangan serangan musuh.
  4. Penegakan hukum berdasarkan syari’at Islam.
  5. Peningkatan kualitas “iman” setiap personal serta meningkatkan kualitas kecakapan “militer” para pemudanya sehingga tercipta generasi baru abnau-l-harb di setiap elemen masyarakat.
  6. Peningkatkan kualitas “ilmu Syar’i”.
  7. Ta’lifu-l-quluub atau pendekatan hati guna mempersatukan tali persaudaraan antara yang mampu dan yang hidup sederhana.
  8. Menjawab segala gosip  atau syubhatyang beredar terutama yang dihembuskan oleh munafiqun.
  9. Meningkatkan perlawanan pada musuh sehingga bisa memperluas teritorial.
  10. Menjalin koalisi atau “tansiq” dengan komunitas lain sesuai dengan syariat Islam.

Selain itu, sosok seperti apa saja yang layak menjadi seorang pejuang untuk mengambil peran di wilayah konflik juga dijabarkan disini. Mereka ini adalah orang-orang yang memiliki kriteria berikut:

  1. Menciptakan stabilitas keamanan dalam zona .
  2. Memberikan suplai pangan dan pengobatan.
  3. Mengamankan zona rimba dari serangan musuh.
  4. Menegakkan peradilan syariah di antara orang-orang yang tinggal di zona rimba.
  5. Mengangkat kadar iman dan meningkatkan keahlian tempur melalui tadrib militr untuk para pemuda zona rimba, serta menciptakan masyarakat petempur baik untuk kelompk maupun personal dengan cara memberikan pencerahan akan pentingnya hal tersebut.
  6. Menyebarkan ilmu syar’ i atau ilmu agama yang sederhana dan aplikatif.
  7. Menyebarkan mata-mata dan menciptakan miniatur perangkat intelijen.
  8. Meluluhkan hati dermawan lokal sesuai ketentuan syar’i dan kaidah-kaidah yang berlaku.
  9. Menyerang orang-orang munafik dengan argumentasi yang logis  agar mereka untk menyembunyikan kemunafikannya dan melindugi orang-orang yang baik.
  10. Meningkatkan operasi untuk perluasan wilayah dan mengusir musuh dari zona rimba, merampas harta mereka sebagai ghanimah dan membiarkn mereka dalam kebengisan konflik  yang berkesinambungan sehingga memaksa mereka untuk angkt kaki.
  11. Mengadakan kerja sama dengan komunitas-komunitas yang diperbolehkan untuk koalisi di antara orang-orang yg belum sepenuhnya mendukung.

Dari  sini kita bisa pahami kenapa para gerilyawan itu memilih wilayah yang berbatasan dengan negara lain. Karena wilayah ini adalah ladang subur untuk mengaplikasikan sebuah ideologi dan kondisi lemahnya pemerintah pusat untuk mengontrol area ini. Berebut simpati di tanah tak bertuan adalah kata kunci dari Idarah Al-Tawakhusy.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like