Nissa Sabyan dan Penghakiman Masal Media Sosial

By

Prahara rumah tangga Ayus Sabyan dan istrinya, Ririe Fairuz, menyeret nama Nissa Sabyan. Vokalis Sabyan Gambus tersebut diduga menjadi pemicu perceraian sang Keyboardis. Semua orang tak menyangka, pasalnya sosok Nissa dianggap cukup religius.

Seperti biasa, netizen kemudian menjuluki sang pemicu sebagai Pelakor (perebut lelaki orang). Entah gosip tersebut benar atau salah, sekali tudingan pelakor itu disematkan pada seseorang, maka segala efek yang mengikutinya pun bermunculan. Seperti halnya Instagram Nissa Sabyan yang dibanjiri komentar hingga ratusan ribu.

Foto terakhir Nissa yang diunggah 15 Februari lalu telah berhasil menghimpun 279,399 komentar. Angka tersebut didapatkan pada pengecekan akun Instagram Nissa Sabyan, Selasa (23/02/2021) pagi. Ramainya komentator ini tampaknya membuat Nissa mematikan kolom komentar di banyak unggahannya. Namun, setiap ada unggahan yang masih terbuka kolom komentarnya, netizen buru buru menyerbu. Bahkan, unggahan tanggal 29 November 2017 pun tak luput dari serbuan netizen. Sebuah akun @dr*nk_c**** mengetik pada unggaran tersebut, “Awal Mula Melakor”.

Lain halnya dengan Nissa, Ririe Fairuz banjir dukungan dan doa. Saat ini akunnya sudah diikuti lebih dari 400 ribu pengikut. Angka ini terus bertambah setiap harinya. Pada senin lalu (22/2), akun instagram Ririe mendapatkan centang biru. Instagram memberikan centang biru pada sebuah akun untuk bisa menunjukkan kredibilitas atau keaslian akun tersebut.

Centang biru diberikan pada akun Ririe karena semakin menjamurnya akun-akun palsu dari Nissa Sabyan, Ayus ataupun Ririe. Selain akun, banyak video klarifikasi palsu dan parodi Ayus dan Nissa Sabyan yang beredar di berbagai platform. Bahkan, pada 23 Februari 2021, Manajemen Sabyan menyatakan bahwa video instastory permintaan maaf seorang pria yang mengaku Ayus Sabyan adalah palsu.

Diserang dari berbagai arah, Nissa tak sepenuhnya kehilangan dukungan. Followersnya masih bertengger di angka 16,8 juta pengikut. Diantara hujatan yang terus bertambah, banyak para penghujat yang salah fokus dan mempermasalahkan jilbabnya. Hujatan jilbab ini jadi boomerang tersendiri bagi para penghujat itu, karena banyak pihak yang tidak setuju akan hal ini.

Bukan hanya jilbab, pembawaan religius juga dianggap celah. Mereka menyayangkan perilaku Nissa yang mencoreng image atau citra Sabyan Gambus yang khas dengan lagu lagu religi. Meskipun sebagian lagunya adalah lagu-lagu cinta yang kebetulan berbahasa Arab.

Nissa dan Ayus merupakan manusia biasa. Namun branding atau image muncul di publik membuat para pengikutnya memiliki ekspektasi tinggi dari citra yang terbentuk itu. Pada sisi yang lain, media sosial kemudian menjadi arena penghakiman massal dari netizen kepada dua manusia ini. Mereka yang dianggap korban akan otomatis dibanjiri dukungan dan ‘penjahat’nya akan diterjang tsunami hujatan.

Situasi yang sama juga dapat dilihat pada kasus Dayana dan Fiki Naki. Dayana yang menyatakan tidak membutuhkan follower dari Indonesia itu kemudian dicap sebagai antagonis. Efeknya, dia kehilangan jutaan follower. Pada saat yang bersamaan, Fiki Naki justru mendapatkan jutaan follower baru karena dianggap sebagai korban dari Dayana.

Media sosial Indonesia terlalu banyak digunakan sebagai arena menghakimi atau judgement dari sebuah situasi yang instan. Secara bersamaan, para netizen juga memberikan branding dan ekspektasi terhadap seseorang secara massal.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like