Obrolan Porter Bandara Kala Corona

By
Selasa 23 Februari 2021 di smoking area Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang. Ketika itu jelang pukul 14.00 WIB.
Saya duduk bersama 2 orang porter di bandara di Kota Semarang itu. Satu lagi ada seorang penumpang transit dari Pekanbaru Kalimantan, menunggu penerbangan lanjutan ke Jakarta sebelum berlanjut ke Medan, Sumatera Utara, kampung halamannya.
Duduk berhadapan, obrolan singkat spontan terjadi. Berawal dari saling pinjam korek api.
“Bang pinjam korek, korek aku tadi kena (pemeriksaan) di (bandara) Pekanbaru,” kata pemuda asal Medan yang sedang transit penerbangan itu.
“Di Pekanbaru ramai Bang?,” timpal seorang porter.
Ya sepi Bang, di sini juga sepi ya padahal Bandara Internasional kan harusnya ramai lalu lalang,” timpal pemuda itu khas dengan logat Bataknya.
Lalu porter itu kembali menimpali. Dia menyebut masih bersyukur karena masih ada aktivitas penerbangan dari Kota Semarang. Walaupun, hanya sampai pukul 17.00 WIB.
Kala pandemi Covid-19, memang menyulitkan, katanya. Penumpang pesawat sepi, sehingga otomatis pendapatannya berkurang. Saya tak menanyakan berapa pendapatannya, karena menurut saya itu privasinya.
“Istri saya untung masih kerja walaupun gajinya setengah (separuh gaji normal). Kami ini porter kalau ada musim umrah wah senang sekali (banyak pemasukan),” katanya.
Kemudian dia menceritakan rekannya sesama porter bandara. Menurutnya, dia masih lebih beruntung. Rekannya kerja sendirian, istri tak bekerja, masih ada pula tanggungan mengurus anak.
Dia juga bersyukur meskipun relatif sepi, tapi masih ada penerbangan dari Semarang.
“Teman-teman porter di Denpasar (Bali) wah susah, penerbangan sepi, apalagi rata-rata mereka mengandalkan jualan dan wisata. Di sini bos juga perhatian, masih rutin memberi beras dan mi instan. Beras kalau memberi langsung 25kg,” ceritanya.
Sedang menikmati obrolan, dua porter itu bergegas pamit. Salah satunya tampak menerima panggilan telepon.
“Bang, kami kerja dulu ya ini ada pesawat datang dari Jakarta. Mudah-mudahan dapat (rezeki),” tutupnya meninggalkan kami berdua.
Suasana ruang tunggu Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Kota Semarang, Selasa 23 Februari 2021 siang.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like