WNI

Pendukung ISIS Benci Indonesia, Tapi Tidak Makanannya

By

Makanan bisa menjadi media universal yang menyatukan manusia. Dalam sepiring makanan terdapat budaya dan identitas yang mampu menggambarkan orang tertentu. Hal ini yang mungkin mendasari ungkapan, ‘You are what you eat’.

Doktor Ilmu Kebudayaan dari Universitas Indonesia, Sri Utami, menuliskan bahwa makanan adalah media yang paling efektif untuk mempromosikan multikulturalisme. Pada perkembangannya, makanan mengalami kontruksi sosial, budaya, politik dan ekonomi. Oleh karena itu, makanan membawa nilai nilai orientasi harmoni yang seringkali berkembang ke orientasi material.

Indonesia dengan keberagamannya, tentu sangat kaya dengan khasanah makanannya. Beberapa kali, kuliner Nusantara pernah dinobatkan menjadi makanan terenak di dunia. Rasa dan kekhasan dari makanan Indonesia mampu membentuk memori dan menciptakan kerinduan bagi diaspora masyarakat Indonesia. Tidak terkecuali para Pendukung ISIS dari Indonesia yang saat ini berada di pengungsian di Suriah.

Sebagai Pendukung ISIS, Warga Negara Indonesia (WNI) ini kerap dalam beberapa kesempatan, menghujat pemerintah Indonesia. Bahkan, ada yang secara terang-terangan menyatakan Indonesia sebagai darul kufur atau negara kafir. Meskipun demikian, kerinduan mereka terhadap makanan Indonesia justru selalu muncul. Bahkan, ketika membandingkan antara makanan Indonesia dengan makanan di Suriah, mereka menganggap makanan-makanan Nusantara lebih kaya rasa dan nikmat di lidah.

Sebagai obat rindu, menurut beberapa orang-orang Indonesia yang masih mengungsi di Suriah, mereka masih sering membuat makanan Indonesia dengan bahan seadanya. Misalnya, jika mereka merindukan soto berkuah santan, maka mereka mengganti santan dengan susu rendah lemak. Karena sulit menemukan kacang tanah, mereka menggantinya dengan kacang Arab untuk membuat Gado-Gado. Meski rasanya berbeda, tetapi setidaknya upaya-upaya ini dapat mengobati rindu.

“Disini indomie rasanya sayuran, kadang kita campur aja pakai daging mentah supaya lebih gurih.” Ujar seorang pengungsi yang tidak ingin disebutkan namanya. Kemudian, untuk bisa mendapatkan cita rasa manis gurih dari kecap, mereka menggunakan sari kurma. “Menurut mereka aneh, kok makan sari kurma pake nasi hehe. Disini gak ada kecap jadi sari kurma menjadi pengganti kecap.” Lanjutnya. Pada waktu yang lain, para pengungsi ini juga merindukan ikan asin. Untuk bisa menikmati lauk sederhana itu, mereka membalurkan garam pada ikan kering lalu membungkusnya dengan alumunium foil.

Beginilah serba-serbi para Pendukung ISIS yang sedang beradaptasi dengan keadaan. Meskipun ingin tetap di Syam, mereka masih merasakan rindu pada Indonesia. Apalagi saat ini, Suriah masih dilanda musim dingin. Masakan hangat ala Indonesia seperti gorengan dan teh manis panas, masih saja menjadi teman mereka melewati dinginnya hari.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like