Ustad Zahri, Sang Ahli Elektro dari Al Islam Lamongan Berpulang

By

Senin (8/2) pagi, tersiar kabar jika salah satu ustad di Ponpes Al Islam Tenggulun, Lamongan meninggal dunia. Beliau adalah Ustad Zahri, sang guru Fisika yang juga ahli di bidang Elektro. Sebagai alumni yang pernah mengenyam pendidikan di Al Islam selama hampir 4 tahun, tentu saya mengenal beliau dengan baik.

Sebagai murid, saya selalu menyempatkan diri menemani beliau, meski hanya sekedar basa-basi. Sosok yang sempat bercita-cita masuk Institut Teknologi Surabaya (ITS) untuk menjadi ahli di dunia Elektro ini memang tidak memiliki waktu yang banyak di Pondok Al Islam. Beliau hanya mengajar selama dua hari saja, sebab tidak menetap di pondok dan harus pulang pergi. Dari interaksi itu, saya banyak mendapat cerita soal masa muda beliau. Suatu waktu, dia pernah bercerita soal keisengannya ‘membajak’ listik PLN ketika remaja dulu. Dia memanfaatkan aliran listrik illegal itu untuk dialirkan ke rumahnya. Sejak dahulu, elektronika memang menjadi minatnya.

Saya mengenal Ustad Zahri sebagai pribadi yang sederhana dan tawadhu’ jiwanya. Bahkan di balik fisiknya yang kian renta, puasa Daud tak putus-putus dijalaninya. Pernah suatu saat ia berkata, “Kalau pas sholat Jum’at gitu dan khotib belum datang, saya selalu membiasakan diri sholat sunnah 4 rakaat. Pokoknya terus, baru berhenti sholat kalau khotib sudah naik. Soalnya mau baca Al Qur’an juga hafalan saya tidak banyak, jadi saya ganti dengan sholat.

Tutur katanya lemah lembut, sikapnya bijaksana, pandangannya luas, berpemikiran terbuka, visioner, merangkul semua santri tanpa membedakan kelas dan latar belakang, dan tak canggung untuk menyapa. Kata gengsi, seolah telah menguap dari dirinya. Beliau benar-benar hidup dan tampil apa adanya.

Tidak ada kesan kemewahan yang melekat padanya. Baginya, kemewahan sejati adalah saat bisa menjadi manusia berguna dan bermanfaat bagi semua.Harta benda satu-satunya yang dimiliki hanyalah motor honda butut pabrikan lawas yang ia gunakan sebagai kendaraan untuk mengajar ke Ponpes Al Islam.

Semasa di Al Islam, beliau mengajar bidang Fisika, Matematika, dan Bahasa Indonesia di hampir semua jenjang tingkatan kelas. Di kelas saya (kelas akhir), beliau mendapat jadwal mengajar Fisika dan Matematika. Sejatinya, dua materi tersebut kurang begitu diminati di kelas. Namun karena materi tersebut merupakan bagian dari program pendidikan paket C (di luar pesantren), maka kami wajib mempelajari dua materi itu.

Sebagai murid di Pesantren yang tidak mengikuti standar Diknas dan Depag, mempelajari pelajaran umum itu penuh tantangan. Seperti halnya pelajaran Fisika dan Matematika, buku yang digunakan sebagai bahan ajar disesuaikan dengan jenjang kelas. Karena kami berada di kelas akhir, maka buku standar yang dipakai adalah untuk kelas XII SMA. Tantangan kemudian muncul karena di Al Islam, pengajaran materi umum biasanya tidak selalu berpatokan pada buku ajar tertentu. Bahkan ada beberapa kelas yang benar-benar tidak ada materi umumnya, semua pelajaran khusus tentang agama. Maka, jadilah kami seperti anak SD yang dipaksa untuk mengerjakan soal kalkulus di tingkat perguruan tinggi.

Sempat ketika itu saya melayangkan protes pada guru agar materinya diganti. Pasalnya, hampir semua anak-anak di kelas rata-rata tidak ada yang menunjukkan minat di bidang hitung-hitungan. Beberapa kali Ustad Zahri melakukan uji coba dengan memberikan materi ujian baik matematika maupun fisika. Namun, hasilnya selalu tragis. Dari semua santri di kelas, tak satu pun mendapatkan nilai lebih dari angka 5. Saya hanya mentok di angka 2, beberapa justru hanya mendapat angka 0 (nol). Dicoba lagi, tetap nilainya tidak beranjak. Beliau stres, kami para muridnya jauh lebih stres. Tidak satu pun materi yang diajarkannya ‘nyantol’ diotak. Blass, kosong melompong.

Meskipun demikian, dengan penuh perjuangan, saya akhirnya berhasil lulus di tahun 2009. Ustad Zahri masih tetap mengajar di Al Islam. Selepas lulus, jika sedang waktu senggang, saya terkadang menyempatkan diri bertandang ke Ponpes Al Islam untuk bisa kembali bersua dan menyapa beliau.

Rutinitas itu selalu saya lakukan, hingga awal 2011, saya mengunjungi beliau di kediamannya di Desa Taman Prijek, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan. Saat itu, saya datang bersama Wildan Mukhollad dengan mengendarai sepeda motor. Kunjungan kami itu didasarkan dari kabar jika Ustad Zahri menjadi korban tabrak lari. Beliau terpaksa dirawat di rumah sebab tidak ada biaya cukup untuk membawanya ke dokter.

Pertemuan di rumah Ustad Zahri tersebut, adalah terakhir kali kami bertiga terlihat bersama. Semenjak saat itu, masing-masing dari kami tidak pernah lagi saling bertemu. Wildan Mukhollad berangkat ke Mesir keesokan harinya untuk mengikuti saudaranya yang sedang menimba ilmu di Universitas Al Azhar Kairo.

Pada 14 Januari 2014, tersiar kabar jika Wildan meninggal dunia. Dia menjadi pelaku bom bunuh diri di Fallujah, Irak. Sebelum meninggal, dikabarkan jika Wildan sempat bergabung bersama kelompok ISIS dan sempat ditugaskan di beberapa wilayah di Suriah dan Irak. Kasus Wildan sekaligus menjadi kasus pertama WNI yang menjadi pelaku bom bunuh diri di luar negeri.

Sementara itu, saya justru masih sempat bertemu kembali dengan Ustad Zahri pada Maret 2018. Ketika itu, kami sama-sama mengikuti sebuah seminar di Jakarta. Kini, Ustad Zahri pun telah tiada. Semoga dengan segala kebaikan dan kesederhanaannya akan tetap menjadi inspirasi untuk melahirkan kebaikan-kebaikan baru dari orang-orang yang selama ini mengenalnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like