Generasi Z

Generasi Z Jadi Sasaran Empuk ISIS

By

Tulisan ini saya susun sebagai ungkapan kepedulian dan kesedihan dari apa yang saya temui belum lama ini. Sebuah percakapan yang tak disangka-sangka terjadi pada akhir tahun 2020. Meskipun hanya melalui telepon, tapi saya seperti mengingat diri saya di tahun 2014 silam. Sebagai catatan, saya adalah satu diantara beberapa orang Indonesia yang beruntung dapat keluar dari Suriah.

Percakapan kesana kemari itu membawa fakta bahwa hingga saat ini, narasi negara Islam yang diusung Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) masih tetap saja beredar. Meskipun kita semua tahu bahwa ISIS sudah kehilangan wilayahnya di Irak dan Suriah. Lebih miris lagi, narasi itu dikonsumsi oleh anak-anak muda yang usianya belum sampai 20 tahun. Saya menyebut mereka sebagai generasi Z.

Kita mungkin tidak lagi menemukan narasi-narasi ISIS itu jika tidak benar-benar mencari. Sebab, mereka beredar di channel-channel Telegram tertentu. Untuk menjadi bagian dari channel itu pun, perlu ada kesamaan pandangan dahulu. Sepertinya, target sasaran dari narasi itu sudah jelas. Anak-anak muda galau yang sedang tinggi semangatnya untuk belajar agama. Seolah mengisi gelas yang sedang kosong, narasi itu cepat sekali memenuhi cara pandang para genereasi Z tersebut. Padahal, kalau saja mereka mau ber-tabayyun atau berpikir kritis, mereka seharusnya tidak perlu mengikuti jejak saya dahulu.

Tabayyun memang tidak sepenuhnya menjadi obat dari pengaruh narasi ISIS ini. Tapi setidaknya, hal tersebut bisa membantu kita untuk memilih dan memilah informasi yang benar. Kenapa saya membawa masalah ini, karena dalam percakapan itu, video-video yang ditunjukkan lawan bicara saya itu adalah video-video produksi tahun 2013 – 2016. Video soal gambaran kehidupan di bawah naungan kekhilafahan yang menunjukan kehidupan di pasar, adanya kantor-kantor mahkamah, kepolisian, masjid, sekolah, dan anak-anak kecil bergembira itu dia tunjukkan. Ada lagi informasi soal dakwah lewat bagi-bagi brosur dan masih banyak video lainnya.

Tidak hanya video-video seperti yang dahulu saya sempat konsumsi saja yang beredar. Artikel-artikel tentang Islam, hukum-hukum hijrah dan jihad, sampai pada ajakan untuk amaliyah juga bisa ditemukan untuk generasi Z. Sedihnya, ketika saya mencoba menjelaskan tentang latar belakang video tersebut, kapan video itu dibuat, dan bagaimana kondisi sebenarnya, perkataan saya hanya berlalu saja. Ada rasa tidak percaya yang saya rasakan hadir dari lawan bicara saya waktu itu.

Saya paham betul kondisi itu. Karena bagi simpatisan atau pendukung ISIS, kekalahan dari apa yang mereka sebut Negara Islam itu hanyalah berita yang dibuat-buat oleh orang-orang kafir Amerika dan sekutu-sekutunya. Mereka masih percaya bahwa kondisi di wilayah ISIS seperti yang tampak dari video yang mereka konsumsi. Sebuah negara impian yang ditopang dengan keadilan dan kesejahteraan seperti jaman Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya. Hal ini yang semakin membuat saya sedih. Ternyata masih ada saja muda mudi yang berharap hijrah ke Suriah.

Masih teringat dalam benak saya, desingan peluru silih berganti ketika saya dan keluarga berusaha mencari jalan untuk lari dari wilayah ISIS. Saya sudah menyaksikan sendiri bahwa apa yang dikampanyekan di media sosial itu penuh dengan kebohongan. Terutama soal kehidupan yg adil sebagaimana jaman Rasulullah dan para Khalifah di bumi Syam. Semoga Allah membukakan mata dan hati anak-anak muda ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like