Jamaah Islamiyah Tak Gunakan Internet untuk Rekrutmen Pengikut Baru

By

Kelompok Jamaah Islamiyah (JI) tidak menggunakan internet untuk merekrut pengikut baru. Menurut Mantan Narapidana Teroris (napiter) Arif Budi Setyawan, Kelompok JI menggunakan internet hanya untuk kepentingan dakwah dan penggalangan dana.

“Jika pun ada untuk rekrutmen anggota, itu keputusan oknum bukan institusi,” kata Arif dalam acara Bedah Buku Internetistan; Jihad Zaman Now yang diselenggarakan Sangkhalifah.co pada Sabtu (23/1/2021).

Kondisi ini berbeda dengan kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang beberapa tahun terakhir mendominasi aksi teror di Indonesia. ISIS justru menjadikan media sosial sebagai alat untuk merekrut, menggalang dana, dan juga sebagai tempat latihan. Beberapa waktu lalu, materi merakit bom sempat beredar luas di Telegram. .

Arif menjelaskan jika buku pertama yang baru terbit tersebut ia tulis pada tahun 2018. Meski sudah ia tulis lama, isi buku tersebut masih relevan hingga sekarang yaitu masalah mewabahnya hoax atau berita bohong dan soal misinformasi di media sosial. Menurut Arif, buku tersebut merupakan refleksi dirinya setelah pernah terlibat dalam jaringan teror. Saat itu, meski media sosial tidak seramai sekarang, dia sudah masuk dalam forum online bernama Forum Al Busyro yang dikelola oleh kelompok radikal.

Pria yang juga dikenal dengan panggilan Arif Tuban ini menambahkan bahwa adanya media sosial memang sangat memudahkan kelompok teror untuk melakukan perekrutan. Berbeda dengan kelompoknya dulu yang harus benar-benar mengikuti I’dad atau pelatihan di lapangan untuk bisa menjadi anggota. “Sekarang bisa kita liat di internet,” imbuhnya

Sementara itu, Ahli Terorisme dari RSIS Singapura, Noor Huda Ismail, menyampaikan bahwa melalui organisasinya, dia berupaya mengajak sebanyak mungkin credible voice seperti Arif Tuban. Credible voice adalah orang-orang yang sebelumnya pernah terlibat dalam jaringan ekstremis. Berbekal pengalaman itu, mereka adalah sarana yang paling tepat untuk memberikan narasi alternatif terhadap radikalisme dan terorisme.

Alumni Pesantren Al Mukmin Ngruki Solo tersebut menjelaskan jika Arif Tuban pertama kali bertemu dengan anggota timnya di penjara. Pertemuan itu kemudian berlanjut pada Communication Workshop CVE (Counter Violence Extremist) yang diadakan oleh lembaganya. “Apa yang kita lakukan adalah MLM (multilevel marketing) kebaikan. Sekarang Cak Arif juga menarik dua orang yang ingin kembali ke masyarakat,” kata Noor Huda

Noor Huda membenarkan apa yang disampaikan oleh Arif Tuban. Di zaman serba digital ini, orang tidak lagi perlu berlatih ke Afghanistan seperti masa-masa JI dulu. Karena itu, melalui Ruangobrol dirinya ingin melakukan intervensi terhadap radikalisme online tersebut. “Hoax itu sekarang sudah sangat banyak, tapi secara spesifik mereka (kelompok radikal) menggunakannya untuk propaganda. Karena jaman sekarang ini Anda tidak perlu jihad lagi di Afghanistan seperti dulu, cukup di internet semuanya tersedia,” imbuhnya

Noor Huda menambahkan, melalui Ruangobrol dirinya fokus memproduksi narasi alternatif di media sosial. Misalnya dengan memproduksi film dan juga buku. Film yang sudah dia produksi hingga saat ini diantaranya Jihad Selfie dan Seeking The Imam.  “Film tersebut Sekarang masih sering diputar untuk menjelaskan soal radikalisasi online. Radikalisme online itu kayak orang belanja online. Kalau cocok akan senang kalau tidak cocok ngomel,” katanya.

Selain itu, Ruangobrol juga melatih credible voice agar bisa mengajak orang keluar dari jaringan terorisme. Pelatihan ini penting untuk bisa lebih secara strategis dalam membuat kampanye ke publik. “Misalnya dikasih waktu 10 menit. 8 menit cerita pengalamanya dia di kelompok teror, 2 menit cerita dia keluar. Sekarang bagaimana kalau dibalik 2 menit cerita pengalaman di kelompok teror dan 8 menit cerita titik balik dia,” tambah alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut.

Hal senada disampaikan Peneliti kajian strategis intelijen dari Universitas Indonesia, Ridwan Habib. Menurut pemilik channel Youtube Ridwan Jogja itu, Pemerintah belum serius merangkul para mantan napiter. Selama ini yang serius merangkul justru dari kalangan LSM dalam negeri maupun dari luar negeri. “Ini merupakan cambukan, agar lebih merangkul orang-orang credible voice,” katanya.

Menurut Ridwan, Pemerintah selama ini mendekati Napiter dengan pendekatan lama yang sangat birokratis. Sementara yang didekati berasal dari generasi milenial. Sehingga ada jarak disana. Karena itu, dia mengusulkan agar ke depannya perlu adanya sinergi antara Pemerintah dan LSM. Sehingga upaya mengatasi radikalisme dan terorisme akan berdampak sangat luas.

“Yang melakukan sosialisasi itu adalah rata-rata birokrat yang berasal dari baby bomer. Gak bisa menarik generasi X. Mudah-mudahan diskusi seperti ini lebih banyak. Saran saya panggil BNPT, KSP ataupun BPIP. Kalau narasi ini bagus. Sehebat-hebat kapasitas orang luar, tapi ada support dari pemerintah maka akan hebat,” pungkas Ridwan

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like