Pengalaman Penjara

Pengalaman Masuk Penjara Kurdi di Suriah

By

Tak pernah terbersit dalam pikiran, bahwa pada satu masa saya harus merasakan berada dalam penjara. Sejak kecil, gambaran tentang dinginnya berada dibalik teralis besi itu hanya saya dapatkan dari film atau berita. Namun, hidup telah mengajarkan saya soal ini. 2017 silam, untuk pertama kalinya saya dipenjara. Bukan di Indonesia, tapi di wilayah kekuasaan Syrian Democratic Force (SDF)/Kurdi di Suriah.

Ini adalah kisah saya dan penjara.

Setelah berkali-kali berusaha dan menyabung nyawa di tengah hujan peluru, saya dan keluarga akhirnya bisa lari dari cengkeraman Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Perasaan lega sempat terbersit, sebab rombongan keluarga masih dengan jumlah yang sama ketika memasuki wilayah SDF/Kurdi.

Siang itu, kelompok SDF/Kurdi langsung menghampiri dan memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Kami ternyata belum sepenuhnya masuk ke wilayah mereka, tetapi masih berada di check point perbatasan untuk menjalani serangkaian pemeriksaan. Hidup memang tidak pernah mudah, bisa saja kami lolos dari cengkraman harimau, lalu justru masuk ke rahang buaya.

Ayah dan anggota keluarga laki-laki yang sebelumnya terpisah, akhirnya kembali berkumpul bersama kami para perempuan. Bersama-sama, kami digiring ke sebuah ruangan. Lagi-lagi, saya hafal apa yang selanjutnya terjadi. Ya, kami harus menunggu dan menunggu lagi. Dalam penantian itu, beberapa kali Komandan SDF menemui kami dan menanyakan berbagai hal tentang rombongan ini. Dia ingin tahu, apakah kami berbahaya atau tidak.

Siang telah berganti Maghrib, saya dan 16 anggota keluarga lainnya mulai bergerak. Hanya dengan mobil bak terbuka dan penutup terpal, anggota SDF membawa kami ke kota Tal Abyadh yang menjadi perbatasan antara Suriah dan Turki. Tampaknya kami tidak menuju rahang buaya. Keinginan kami untuk segera menyeberang ke Turki sepertinya akan segera terwujud.

Mobil yang kami tumpangi itu pun berhenti. Tepat di sebuah rumah. Kami harus bermalam disana. Saya seperti sudah melihat wilayah Turki di pelupuk mata, ketika kami digiring masuk ke rumah itu.

Sekilah tidak ada yang aneh dengan rumah itu. Saya melihat deretan kamar-kamar dengan toiletnya, seperti layaknya rumah-rumah yang lain. Namun, pikiran saya sejenak terhenti. Kamar-kamar itu tidak memiliki jendela. Kamar-kamar itu tidak memiliki pintu seperti biasanya. Kamar-kamar itu berpintu besi. Kami berada di penjara.

Rumah penjara, begitu saya dan keluarga menyebut tempat kami bermalam itu. Lokasinya tidak terpencil. Saya masih bisa melihat rumah-rumah penduduk lainnya. Bahkan tentara SDF mengambil beberapa jerigen air untuk keperluan MCK dari rumah-rumah penduduk itu. Ya, kami memang bisa mengamati suasana di sekitar rumah penjara. Sebab tentara SDF masih mengizinkan beberapa dari kami untuk keluar menghirup udara segar atau merokok. Meskipun demikian, penjagaan tetap ketat dilakukan. Tampak dua tentara menjaga akses masuk dan keluar dari rumah penjara itu.

Kesempatan menghirup udara segar juga kami manfaatkan untuk berbincang dengan tentara SDF. Salah satunya adalah soal bandara yang bisa kami gunakan untuk keluar dari Suriah dan kembali ke Indonesia. Tentara itu merujuk pada Bandara Erbil di wilayah Kurdi.

Malam itu berlalu tanpa saya bisa mengingat apakah saya bisa tidur di dalam penjara atau tidak. Esok paginya, kami mendapatkan sarapan. Alhamdulillah roti, sayuran, buah, dan makanan lain dapat kami nikmati. Meskipun saya harus bisa mengendalikan nafsu. Air di rumah penjara sedikit, sehingga bisa merepotkan jika harus ‘ke belakang’.

Sarapan kami lalui dengan berbagai obrolan. Bahkan beberapa diantaranya mengundang gelak tawa kami sekeluarga. Sementara itu, ada anggota keluarga lain yang memilih untuk melanjutkan tidurnya. Kami tidak terlihat tertekan kala itu. Masih bersenda gurau dan tertawa. Mencoba mencari hal positif dari kondisi kami yang sedang dalam penjara. Mungkin tentara SDF juga bertanya-tanya, kenapa orang-orang ini berada di dalam penjara tetapi masih saja tertawa-tawa. Rasanya, jawaban untuk itu adalah karena kami masih bersama-sama sebagai keluarga. Sebab, apa yang terjadi selanjutnya akan memisahkan kami setidaknya selama dua bulan.

Matahari sudah mulai tergelincir menuju sore ketika 3 mobil datang dan berhenti di depan rumah penjara. Tentara SDF lalu menggiring saya dan anggota keluarga perempuan untuk naik ke dua mobil yang tersedia. Sementara Ayah dan anggota keluarga laki-laki menuju satu mobil yang lain. Di pertengahan jalan, mobil yang dinaiki ayah berpindah haluan. Mereka dibawa ke penjara di Kota Kobane. Sedangkan rombongan saya dibawa ke kamp pengungsian UNHCR di ‘Ayn Issa di utara Raqqah. Sedangkan anggota laki-laki dibawa ke penjara di kota Kobane.

Soal apa yang terjadi di Kobane, sobat Ruangobrol bisa membacanya di buku “300 hari di bumi Syam kisah mantan ISIS” karya kontributor Ruangobrol, Febri Ramdani.

Penjara Khusus Perempuan

Sudah dua bulan sejak kami berpisah jalan dengan rombongan ayah. Saya dan anggota keluarga perempuan menjalani hari-hari di tenda pengungsian, sambil terus berharap untuk bisa pulang ke Indonesia. Hingga kabar itu datang. Otoritas pengungsian memberitahu bahwa keluarga kami akan pulang. Tapi belum diketahui apakah kami akan terbang ke Indonesia bersama-sama dengan ayah dan keluarga laki-laki yang lain atau tidak.

Proses pemulangan dimulai. Saya bersama 8 perempuan dan 3 anak kecil dibawa ke Kota Qamishli, kurang lebih 80 km dari kamp pengungsian. Meskipun perjalanan diwarnai masalah pada kendaran, saya tidak ingin banyak berprasangka. Satu persatu tempat kita hampiri dan lalui, mengurus izin dan ini itu. Waktu yang kami habiskan di jalan tidak sedikit. Malam sudah larut ketika mobil yang kami tumpangi berhenti cukup lama. Kami akan menginap disini tampaknya.

Saya dan anggota keluarga lain turun dari mobil. Beberapa tentara perempuan menyambut kami. Mereka kemudian membawa kami ke penjara. Ya, penjara khusus perempuan.

Pandangan saya berkeliling ketika mulia memasuki lobi. Foto-foto perempuan di kamp militer dan foto-foto tentara yang gugur menghiasi dinding lobi. Kami terus berjalan hingga masuk ke sebuah ruangan. Dua belas gelas air putih tersuguh, menemani kami berbicara dengan salah satu tentara yang berjaga. Tidak lama berselang, tentara yang lain memanggil kami satu persatu. Dimulai dari yang tertua, berurutan hingga yang paling muda. Mereka yang sudah dipanggil, tidak kembali ke ruangan itu.

Giliran saya tiba. Ujung rambut hingga ujung kaki saya diperiksa secara detail. Semua dibuka. Malu, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa.

Selesai dengan pemeriksaan badan, saya digiring menuju ruang berpintu besi. “Wah, saya tidak sendirian,” gumam saya setelah melihat ada banyak sepatu dan sandal di depan pintu.

Ruangan itu kecil dengan dua buah air conditioner (AC), CCTV, dan dua kamar mandi. Berderet kasur-kasur warna ungu yang memberikan warna pada ruangan tersebut. Di sana, saya kembali bertemu dengan 11 anggota keluarga yang lain. Penjara yang bersih dan cukup nyaman untuk kami berduabelas.

Obrolan kami terhenti sejenak ketika dua orang perempuan datang membawa makan malam. Satu perempuan terlihat muda, sedangkan yang lain sepertinya sudah paruh baya. Lewat celah kecil di pintu besi, makanan itu disodorkan.

Dua perempuan ini yang banyak membantu kami melewati malam di penjara khusus perempuan itu. Beberapa kali saya ajak mereka mengobrol. Lewat celah jeruji di pintu besi dengan ramahnya mereka membalas obrolan saya. Sengaja saya menggunakan bahasa Kurdi agar bisa lebih akrab. Mereka kemudian menutup obrolan dengan meminta kami beristirahat. Dua perempuan ini juga mengingatkan untuk mandi dan bersih-bersih di esok hari agar bisa lebih segar ketika bertemu dengan Ayah dan keluarga laki-laki yang lain. Ya, kami ternyata bisa pulang ke Indonesia bersama.

Langkah dua perempuan itu semakin menjauh ketika saya tenggelam dalam renungan. Penjara khusus perempuan ini memang bersih dan terasa cukup nyaman, tapi apakah saya kuat ketika harus menghabiskan waktu berbulan-bulan di dalamnya. Saya tidak bisa membayangkan jika saya tidak bisa bertemu orang-orang, tidak ada bacaan, dan tidak tahu apa yang terjadi di luar sana. Sepertinya berada di dalam penjara tidak semenyenangkan dari yang saya pikirkan sebelumnya. Ketika masih berada di kamp pengusian, saya sempat terbersit untuk pindah ke penjara saja. Saya sudah sangat lelah berurusan dengan wartawan dan pengungsi lain yang tidak ramah.

Pengalaman merasakan penjara ini membuat saya lebih bersyukur atas apa yang ada di depan mata. Alhamdulillah atas pertolongan Allah dan dukungan dari anggota keluarga lainnya, kami bisa bertahan.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like