Abu Bakar Baasyir

Merekam Jejak Perjuangan Abu Bakar Baasyir (1)

By

Abu Bakar Baasyir alias Ustad Abu, telah bebas murni pada Jum’at (8/1). Pria kelahiran Jombang, 17 Agustus 1938 ini sudah menjalani masa tahanan selama hampir 10 tahun di Lapas Khusus Kelas IIA Gunungsindur. Hukuman ini diberikan pengadilan atas kasus terorisme tentang keterlibatan dirinya dalam pelatihan militer di Bukit Jalin, Jantho, Aceh.

Ustad Abu yang saat itu masih menjabat sebagai amir Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT) diduga ikut berperan dalam perencanaan dan pendanaan pelatihan militer di Aceh itu. Bahkan ia dituding sebagai tokoh yang menunjuk langsung Dulmatin alias Abdul Matin (DPO kasus bom Bali) sebagai pimpinan pelatihan militer dan berperan dalam pembentukan “qoidah aminah” atau basis aman bagi gerakan kelompok jihad nusantara di Aceh.

Atas keterlibatannya tersebut, Ustad Abu ditangkap oleh pihak kepolisian di Banjar, Jawa Barat, saat hendak menuju Solo, Senin pagi (9/8/2010). Kemudian, menjelang 16 Juni 2011, Ustad Abu ditetapkan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun oleh Majelis Hakim PN Jakarta Selatan.

Di kancah jihad nusantara, nama Abu Bakar Baasyir adalah sosok yang sangat penting. Karirnya di pentas dakwah tanah air pun tak bisa dipandang sebelah mata. Lelaki sepuh ini tak ubahnya seperti legenda hidup yang melalui berbagai generasi kelompok jihad hingga masa kini.

Sejak Negara Islam Indonesia (NII) berkiprah di kancah nasional, hingga lahirnya kelompok ISIS yang berbasis di Suriah, namanya selalu masuk dalam jajaran tokoh paling berpengaruh. Tak berlebihan jika banyak pihak menyangsikan kebebasan Ustad Abu yang dinilai justru akan memicu radikalisme di kalangan kelompok puritan.

Pendiri Ponpes Al Mukmin

Sejak lulus dari Gontor Ponorogo, Abu Bakar Baasyir mulai mengabdikan diri sebagai da’i. Ia banyak menghabiskan waktu dengan mengisi kajian di Masjid Agung Surakarta. Tentu Ustad Abu tidak sendiri, ia tampil bersama Abdullah Sungkar, yang menjadi penerus perjuangan Negara Islam Indonesia (NII).

Baik Ustad Abu maupun Abdullah Sungkar, keduanya menjadikan mimbar sebagai medan perang untuk menyerang rezim pemerintahan Soeharto kala itu. Hal ini pula yang membuat namanya dengan cepat dikenal oleh kalangan publik secara luas. Tak mengherankan, setiap kali kegiatan taklim diadakan, jumlah jama’ah yang hadir selalu membludak.

Meski dianggap beresiko, namun banyak jama’ah yang bersimpati pada Ustad Abu dan Abdullah Sungkar. Gelombang pendukung yang semakin besar mendorong dua tokoh ini untuk melakukan penanaman akidah secara baik. Tujuannya agar masyarakat tidak terbelenggu pada idelogi Pancasila sebagai asas tunggal yang dianggap menyelisihi syari’at Islam.

Kertetarikan masyarakat terhadap dakwah Islam yang disampaikan oleh Ustad Abu dan Abdullah Sungkar tentu tidak terjadi secara tiba-tiba. Pasca perpindahan kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada Soeharto pada tahun 1967, rupanya diikuti pula dengan berubahnya cara pandang, sikap dan gaya hidup bangsa Indonesia. Dari yang semula anti-Barat, berubah menjadi pro-Barat. Segala sesuatu yang berasal dari Barat dianggap baik dan menjadi simbol kemajuan peradaban oleh Orde Baru. Sebaliknya, Islam justru dipandang sebagai kemunduran (Obsatar Sinaga, dkk. 2018).

Selain itu, sejak tahun 1970-an, pemerintahan Orde Baru banyak melakukan penangkapan terhadap tokoh-tokoh Islam yang dianggap radikal dan menentang haluan ideologi pemerintah. Kebijakan represif tersebut, pada akhirnya berhasil membangkitkan gerakan perlawanan umat Islam arus bawah. Melihat kondisi tersebut dan banyaknya masukan dari berbagai kalangan, maka para mubaligh menyadari tentang betapa pentingnya sebuah lembaga pendidikan Islam.

Pada tahun 1972, Abu Bakar Baasyir bersama Abdullah Sungkar dan sejumlah tokoh Islam mulai merintis pembangunan Pondok Pesantren Al Mukmin yang terletak Jl. Ngruki, Kel. Cemani, Kec. Ngrogol, Kab. Sukoharjo, Jawa Tengah. Pondok ini menempati lahan seluas 8 ribu meter.

Adanya hubungan baik anatara Ustad Abu dan beberapa tokoh NII, rupanya memberikan dampak positif dalam proses perkembangan Ponpes Al Mukmin. Banyak kalangan anggota NII maupun para simpatisannya yang memasukkan anak-anak mereka ke Al Mukmin. Selain itu, ponpes ini juga lamban laun menjadi wadah bagi perkumpulan kelompok NII.

Berdasarkan pada catatan sejarah inilah, pada akhirnya membuat Al Mukmin menjadi pusat pendidikan Islam pertama di Indonesia yang menanamkan prinsip jihad dan menjadi perpanjangan tangan dari perjuangan dakwah Kartosoewirjo.

– bersambung

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like