Caliphate

Drama Seri Caliphate Gambarkan Rekrutmen Anak Muda ISIS

By

Drama seri berjudul Caliphate dari Netflix mampu mewakili gambaran kehidupan di bawah kekuasaan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Jika drama The State dari National Geographic di tahun 2017 mengambil sudut pandang cerita dari Warga Inggris, kini Caliphate mengambil kisah dengan latar kondisi Warga Swedia.

Meskipun demikian, sang creator, Wilhelm Behrman, menuliskan film ini dengan inspirasi dari kumpulan fakta tentang 3 perempuan berkebangsaan Inggris yang kabur dari negaranya untuk bergabung dengan ISIS di tahun 2015 silam. Mereka adalah Shamima Begum dan kedua temannya. Agar memberikan konteks cerita yang kuat, Wilhelm mengumpulkan data dari artikel-artikel, buku, dan film dokumenter tentang ISIS. Termasuk informasi-informasi tentang bagaimana ISIS merekrut orang-orang Eropa. Beberapa peneliti dan pakar terorisme kemudian mereview data yang dikumpulkan oleh mantan reporter bidang politik dari Surat Kabar Svenska Dagbladet itu.

Perjalanan panjang dalam mengumpulkan fakta, informasi, dan data-data itu terbayarkan dengan detail-detail dalam serial Caliphate yang cenderung mewakili keadaan sebenarnya. Penggambaran tentang pola perekrutan, ketegangan dan kesulitan mencari jalan keluar dari daerah kekuasaan ISIS, serta rencana-rencana teror yang terhubung langsung dengan ISIS mampu disuguhkan dengan apik. Bahkan serial ini mampu memunculkan detail-detail kecil yang presisi, seperti bangunan-bangunan di wilayah ISIS yang berupa pasar, penataan tukang sayur yang begitu persis, perabotan rumah tangga, dan lain lain.

Hal menarik lain dari serial drama ini adalah tentang proses radikalisasi pada anak-anak muda. Penonton mendapatkan gambaran jelas tentang alur bagaiamana anak-anak muda bisa berubah dan akhirnya bergabung pada kelompok teror. Penggambaran yang hampir sama seperti di dunia nyata diharapkan bisa membuka mata penonton untuk lebih berhati-hati, terutama orang tua pada anak-anak remajanya. Siapa saja bisa menajdi korban prekrutan kelompok teror, baik itu anak maupun saudara terdekat kita.

Menghabiskan 8 episode dari serial Caliphate terasa cukup singkat. Cerita dan ketegangannya membui penonton hingga tidak terasa sudah berada pada episode terakhir. Meskipun terbilang singkat, tetapi saya mendapatkan tiga hal penting dari serial ini untuk memahami dunia radikalisme dan terorisme.

Pertama, orang-orang yang bergabung dengan ISIS atau hanya hijrah ke Suriah memiliki latar belakang dan motif yang berbeda-beda. Sebagai contoh anak remaja cerdas dan berprestasi yang justru berhasil direkrut. Ibbe (Ibrahim) sang perekrut mampu memenangkan hati anak-anak muda targetnya dengan mengeksploitasi kerentanan sosial dan psikologinya. Contoh lain adalah Kerima yang justru kembali ke kelompok lamanya karena tidak ada pengawasan dari Pemerintah. Proses Kerima kembali ke kelompok teror menunjukan adanya peran perempuan, media sosial, dan kurangnya pendampingan terhadap deportan. Masing-masing faktor itu mendorong Kerima kembali pada jaringan lamanya.

Kedua, orang tua sebaiknya melengkapi diri dengan informasi dan pengetahun yang cukup, terutama soal agama. Hal ini terasa jelas sekali digambarkan pada keluarga Sulle. Orang tua Sulle terlihat kebingungan menghadapi seorang anak yang terpapar ideologi radikal. Bahkan, sang Ibu hanya mengatakan “ISIS bukan islam” tanpa memberikan argumen yang meyakinkan. Hasilnya, kedua orang tua Sulle hanya terdiam ketika sang anak mampu mengambil kutipan-kutipan Al Qur’an untuk mendukung argumennya dan menuding orang tuanya sebagai kafir.

Ketiga, anak yang sedang belajar agama sebaiknya perlu ditemani. Ketika seorang anak mulai terlihat lebih taat beragama dan berusaha mencari tahu lebih dalam soal agama, maka orang-orang terdekatnya harus mengesampingkan rasa curiga. Mereka harus mampu untuk menemani dan menjadi teman diskusi. Sehingga, jika ditemukan hal-hal yang tidak sesuai, mereka dapat memberikan penjelasan.

Khawatir berlebihan seperti yang ditunjukan oleh ayah Sulle justru akan membuat anak menjauh. Menunjukan sikap represid juga akan berdampak negatif. Anak yang sudah terpapar ideologi ISIS akan merasa terpojok dan menganggap bahwa orang-orang yang menyudutkannya adalah musuh agamanya.

Dari sekian banyak hal positif yang dapat saya ambil dari serial Caliphate, saya menyayangkan film ini hanya menonjolkan sisi ekstrimis dari Agama Islam. Padahal masih ada ruang untuk bisa menggambarkan Islam yang cinta damai dan rahmatan lil’alamiin.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like