Narasi JAD vs Narasi JI

By

Banyak pakar terorisme menyebut bahwa untuk ancaman jangka panjang JI (Jamaah Islamiyah) lebih berbahaya, tetapi untuk jangka pendek ISIS atau JAD (Jamaah Ansharud Daulah) yang berbahaya. Mengapa untuk jangka pendek JAD lebih berbahaya? Sama dengan JI, yaitu karena narasinya.

JI memandang mereka belum pada tahapan menegakkan syariat Islam dalam lingkup negara. Masih merintis jalan menuju ke sana. Itulah mengapa JI terkesan tidak konfrontatif dan malah terlihat sangat membaur dengan masyarakat.

Sedangkan di kalangan JAD mereka berangkat dari narasi bahwa mereka telah memiliki negara, yaitu ISIS atau Islamic State (IS) yang belakangan dikalahkan lagi oleh musuh-musuhnya. Karena telah memiliki negara maka perjuangan mereka adalah untuk membalas dendam atas kekalahan negaranya dan menunjukkan eksistensi bahwa pendukung IS/ISIS masih banyak.

Narasi telah memiliki negara ini juga membuat para pendukung ISIS sangat aktif menyebarkan propaganda dan pemikiran/ideologi ISIS. Alasannya sudah terbukti berhasil mendirikan negara –versi mereka tentunya– dibandingkan dengan kelompok semacam Al Qaeda atau JI yang lebih dulu eksis tapi belum berhasil mendirikan sebuah negara.

Lebih jauh lagi para pendukung ISIS ini kemudian merasa telah benar dalam beragama jika menjadi pendukung ISIS. Sebab ISIS-lah satu-satunya yang telah menegakkan syariat Islam. Tak heran jika kemudian mereka ini eksklusif dan menganggap yang lain tidak serius dalam menjalankan ajaran Islam.

Padahal pada kenyataannya kondisi mereka di sini lebih buruk dari para simpatisan JI dalam penerapan syariat Islam. JI masih bisa membaur dan berdakwah sebagaimana umumnya, sedangkan para pendukung ISIS itu lebih banyak beroperasi di ranah online. JI mulai merintis ekonomi syariah yang riil, sedangkan para pendukung ISIS masih sibuk mendebat pihak lain yang berseberangan.

Arah perjuangan para pendukung ISIS itu sebenarnya malah tidak jelas. Menurut saya malah terkesan hanya sekedar balas dendam dan menunjukkan eksistensi. Mau merebut wilayah dari musuh-musuhnya atau mau menegakkan syariat Islam? Tapi yang dilakukan hanya sibuk meneyebarkan pemikiran dan propaganda dan aksi serangan receh tak berfaidah semacam menyerang polisi dengan pisau atau ketapel.

Bukankah lebih bermanfaat jika melakukan memperjuangkan solusi bagi permasalahan umat dari perspektif syariat Islam? Misalnya bersama umat merintis koperasi untuk membebaskan umat di sebuah wilayah dari praktik riba yang menyengsarakan. Itu lebih riil dan lebih dirasakan oleh umat daripada melakukan propaganda ideologi yang banyak ditentang berbagai pihak. Malah bikin hidup tidak tenang saja.

Dari dua narasi yang berbeda antara JAD dan JI di atas dapat disimpulkan bahwa memang benar untuk jangka panjang JI akan lebih berpeluang untuk bertahan, minimal sebagai gerakan dakwah dan sosial. Karena mereka punya tujuan yang jelas dan bisa menyesuaikan dengan tuntutan kondisi.

Sedangkan JAD akan seperti itu-itu saja. Akan berputar di situ-situ saja. Sibuk dengan propaganda teori dan aksi balas dendam atau aksi unjuk eksistensi. Tidak ada tujuan yang jelas. Hanya membela daulah–versi mereka–. Sesuai dengan namanya, Jamaah Ansharud Daulah yang artinya kumpulan orang-orang yang membela daulah.

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like