Covid-19

Orang Tua Jadi Penyintas COVID-19, Anak Harus Gimana?

By

Pandemi COVID-19 belum juga berakhir. Meksipun pemerintah pernah berjanji menyelesaikannya pada 3 bulan saja, namun sudah 3 x 3 bulan, pandemi belum juga pergi. Korban makin berjatuhan, pasien semakin tinggi dan secara bersamaan semakin banyak juga yang tak percaya COVID-19.

Awalnya, virus ini memang sangat terasa jauh. Perlahan semakin dekat ke pusat kota, kecamatan, desa hingga keluarga sendiri. Hal ini saya rasakan dua minggu lalu dimana kedua orang tua saya dinyatakan positif COVID-19.

Ini memang sulit dipercaya oleh banyak orang termasuk warga sekitar. Ibu saya termasuk orang yang sangat taat protokol kesehatan. Disisi lain, ayah saya juga bukan orang yang mudah sakit. Memang seminggu terakhir ia mengalami demam setelah pulang dari luar kota dan awalnya kami hanya mengira tyfus. Sampai akhirnya RS meminta untuk swab dan isolasi mandiri selama 2 hari. Ketika tubuh semakin membaik, keluar hasil bahwa demam seminggu terakhir disebabkan oleh COVID-19.

Saya yang tidak ada di rumah dalam beberapa minggu terakhir cukup shock ketika dikabari. Pasalnya, adik, ibu dan beberapa pegawai di rumah perlu swab juga. Apalagi rumah kami cukup sering dikunjungi warga sekitar dan sanak keluarga.

Karena gejala Ayah dianggap ringan, puskesmas meminta ayah saya untuk isolasi di sebuah asrama yang menjadi tempat isolasi yang disediakan kota kami. Meski gejala ringan, hasil swab ibu yang mengurusi Ayah selama sakit dinyatakan positif bersama kedua Uwa (Kakak dari Ayah), artinya tetap menular. Salah satu Uwa saya mengalami sesak sehingga isolasi di sebuah RS dan Uwa yang lain diisolasi di asrama kota, sama halnya dengan ibu saya yang menyusul 4 hari setelah Ayah masuk Isolasi. Sedangkan adik, tante dan beberapa pegawai dinyatakan negatif.

Langkah Penanganan Utama

Meski jauh, saya melakukan beberapa langkah ini untuk membantu adik dan mereka yang berada di rumah dalam mengatasi Covid-19. Hal ini ditujukan agar tidak semakin meluas.

  • Wajar Panik?

Sejujurnya, saya sendiri cukup panik. Namun panik tidak menyelesaikan apapun. Beruntungnya, ayah saya sendiri tidak cukup yakin bahwa dirinya terinfeksi COVID-19. Hal ini justru membantu kami menjadi tidak panik.

  • Tracing

Lakukan tracing kepada mereka yang bersentuhan dengan pasien selama masa inkubasi atau masa pertama keluarnya gejala. Setalah itu, minta mereka isolasi mandiri untuk sementara.

  • Cari Informasi Swab dan Isolasi

Puskesmas setiap kecamatan memiliki jatah Swab setiap harinya. Ketika kita melapor bahwa kita bersentuhan dengan pasien COVID-19, maka kita bisa mendapatkan swab gratis. Biasanya hasilnya akan dikabari dalam waktu dua hari. Jika ingin cepat, kita bisa melakukan swab mandiri sesuai dengan kocek kita.

Cari juga informasi dimana asrama isolasi untuk OTG atau pasien gejala ringan dan pasien gejala berat. Setiap kota memiliki tempat yang berbeda dengan fasilitas yang berbeda juga. Informasi ini bisa kita dapat dari dinas kesehatan atau covid19.go.id .

  • Tahan Pertemuan

COVID-19 memang berbeda dibanding penyakit lainnya. Virus ini mengharuskan kita untuk menjaga jarak terutama mereka yang telah terinfeksi. Akibatnya, kita tidak bisa menjenguk mereka yang terinfeksi termasuk keluarga sendiri. Selain itu, memang agak sulit dipercaya karena gejalanya nampak sangat umum seperti flu biasa. Virus hanya bisa dibuktikan melalui test Swab yang diuji di laboratorium dimana tidak semua orang bisa memahaminya.

Tentu kita tidak bisa menjadi egois untuk keselamatan pasien dan keselamatan diri kita sendiri. Oleh karena itu, saya kemudian memilih untuk tinggal sementara di rumah sanak keluarga yang dekat dengan tempat isolasi orang tua. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan jikalau orang tua saya membutuhkan sesuatu. Meski tak bisa bertemu, ini cukup membantu lho!

  • COVID-19 Bukan Aib

Stigma buruk terhadap pasien COVID-19 juga yang mendorong orang tidak percaya ketika ia dinyatakan positif. Padahal penyakit ini bukanlah aib hanya karena perlu isolasi. Pasien perlu transparan terhadap kemana pergi dan dengan siapa bertemu apabila dinyatakan positif. Hal ini guna mempermudah tracing dan membantu menghentikan penularan virus.

 

Setelah dua minggu isolasi, keluarga saya dinyatakan sehat dan diperbolehkan pulang oleh asrama tempat isolasi. Uwa juga telah keluar dari RS setelah dinyatakan negatif dari hasil swab-nya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like