Andi Baso

Peran Cici dan Andi Baso dalam Aksi Terorisme di Filipina  

By

Pasukan keamanan Filipina berhasil menangkap Nana Isirani alias Rezky Fantasya Rullie alias Cici pada 10 Oktober 2020 lalu. Cici merupakan istri dari Anggota JAD Kalimantan Timur Andi Baso  yang sebelumnya dikabarkan tewas tewas dalam sebuah bentrokan 29 Agustus di dekat kota Patikul di Sulu.

Selain Cici, pasukan Filipina juga menangkap dua orang lainnya yakni Indah Nurhainia sebagai istri seorang pemimpin di kelompok Abu Sayyaf, Ben Tatoo dan Fatima Sandra Jimlani, istri anggota Kelompok Abu Sayyaf, Jahid Jam.

Cici ditangkap setelah sebelumnya masuk dalam DPO aparat kemananan Filipina. Dia masuk DPO bersama dengan Andi Baso. Cici dianggap terlibat dalam serangan bom bunuh diri bom bunuh diri  pada 24 Agustus lalu. Bom tersebut menyebabkan 15 orang kehilangan nyawa dan melukai 75 orang lainnya.

Peran Andi Baso

Andi Baso merupakan Anggota Jamaah Ansharu Daulah Kalimantan Timur pimpinan Joko Sugito. Andi Baso bersama dengan Anggota JAD Kaltim dibaiat oleh Joko Sugito yang saat ini sedang menjalani hukuman penjara.

Andi Baso berkali-kali berhasil meloloskan diri dari kejaran polisi. Pasalnya Andi Baso terlibat pada Bom Gereje Oikumene di Samarinda yang dilakukan oleh Juhanda pada 13 November 2016 lalu yang menewaskan satu orang anak kecil. Dalam bom Samarinda itu Andi Baso bersama dengan Amir JAD Kalimantan Timur Joko Sugito menyiapkan dan membuat bom untuk aksi amaliyah tersebut.

Selain itu Andi Baso bersama Nanang Kosim ditugaskan untuk menerima pengiriman senjata Api dari Filiphina yang sebelumnya sudah dibeli Suryadi Masud. Namun rencana tersebu gagal karena kontrakan Nanang Kosim dan Andi Baso digrebek oleh polisi. Dia kemudian melarikan diri ke Anyer Banten.

Andi Baso di Banten mengikuti pelatihan militer bersama dengan kelompok Suryadi Mas’ud. Belakangan Nanang Kosim yang menjadi Instruktur pelatihan tersebut tewas dalam penyergapan yang dilakukan oleh Densus 88 Mabes Polri.

Sementara semua peserta pelatihan militer tersebut tertangkap, kecuali Andi Baso. Sedangkan tiga orang peserta pelatihan yaitu Suhanto alias Borju, Ali Abdullah dan Ki Ucu berhasil ditangkap di Malaysia karena hendak pergi berjihad ke Mindanao Filiphina. Ketiganya hingga kini kemungkinan besar masih ditahan di Malaysia. Tidak dideportasi ke Indonesia. Ketiganya berangkat ke Filiphina difasilitasi dua Anggota JAD Cirebon RS dan RN. Semua biaya logistic RS dan serta ketiga orang tersebut dibiayai oleh Achmad Supriyanto yang ketika itu sedang ditahan di Mako Brimob.

Andi Baso kemudian melarikan diri ke Filipina. Menurut Informasi dia masuk ke Filiphina pada bulan Mei tahun 2018. Andi Baso pada bulan Desember tahun 2018 membantu pasangan teroris Rullie Rian Zeke dan istrinya Ulfah Handayani Saleh serta anaknya Cici ke Filiphina Selatan.

Rullie, Ulfah dan anaknya Cici merupakan Deportan Turki karena hendak pergi hijrah ke Suriah. Mereka sempat menjalani program deradikalisasi selama satu bulan. Namun karena dianggap tidak cukup bukti mereka dilepas tanpa proses hukum.

Ketiganya dibantu masuk ke Filiphina melalui jalur illegal oleh Andi Baso. Rullie dan Ulfah merupakan pelaku Bom Gereja di pulau Jolo pada Januari 2019. Bom tersebut menjadi serangan yang paling mematikan oleh kelompok teroris yang mengakibatkan 22 orang meninggal dan ratusan orang mengalami luka-luka. Menurut infomasi, Cici dinikahkan dengan Andi Baso sebelum mereka masuk ke Filiphina.

Seruan Berjihad ke Filipina

Jika melihat sejarahnya, Andi Baso dan Cici bukanlah teroris pertama yang berjihad di Filipina. Namun tidak dipungkiri Cici merupakan pioneer dari teroris perempuan yang ikut berjihad di Kepulauan Mindanao.

Berdasarkan dari dari Satgas Foreign Terrorist Fighters (FTF) gelombang pertama kedatangan Jihadis ke Mindanao terjadi setelah Perang Afganistan (1995-1999). Ada sekira 144 WNI yg terlibat dalam training militer serta konflik bersenjata di Mindanao Filipina Selatan. Semua Jihadis ini berasal dari Kelompok Jamaah Islamiyah pimpinan Abdullah Sungkar. Salah satu instrukturnya adalah Nasir Abbas. Nasir Abbas saat ini sudah berubah dan terlibat aktif membantu Pemerintah dalam program Deradikalisasi.

Gelombang kedatangan kedua Jihadis ke Filiphina terjadi pada jaman ISIS. Menurut catatan Satgas FTF hingga Juni 2019 ada total 58 orang WNI yang menjadi FTF. Dari jumlah itu yang masih di Filiphina ada 5 orang laki-laki dan 1 orang perempuan. Sementara yang meninggal ada 32 orang. Returnees ada 5 orang laki-laki dan 1 orang perempuan. Sedangkan yan dideportasi sebanyak delapan orang. Dan orang yang berencana pergi ke Filiphina sebanyak 6 orang.

Gelombang kedatangan Jihadis ke Filiphina tersebut lantaran mendapat seruan dari ISIS Pusat. Seruan tersebut berupa konten di media sosial, Majalah dan Video. Ketika itu Isnilon Hapilon ditunjuk oleh ISIS pusat menjadi Amir Junud Khilfah wilayah Asia Timur. Wilayah ini meliputi negara-negara yang ada di Asia Tenggara.

Misalnya dalam video bertajuk Filipina Bangunan yang Kokoh, berisi video baiat militan dari Filiphina dan seruan dari Abu Walid bersama dua militan ISIS lainnya, Mohammad Rafi Udin asal Malaysia dan Mohammed Reza Lahaman Kiram asal Filipina pada tahun 2016 lalu. Video ini beredar di grup Telegram pada Juni 2016. Video yang berdurasi 21 menit seringkali diposting ulang oleh pendukung ISIS di beberapa grup Telegram.

Perketat Perbatasan

Melihat gelombang kedatangan FTF ke Filipina perlunya upaya aparat pemerintah dan masyarakat membendung propaganda ideologi radikal yang disampaikan pendukungnya di Media Sosial. Selain itu Aparat kemanan perlu juga melakukan pengawasan ketat di daerah perbatasan di Kalimantan maupun di Sulawesi.

Luasnya daerah perbatasan dan minimnya jumlah aparat yang berjaga membuat kedua provinsi tersebut rawan menjadi tempat Jihadis ke Filipina dan juga sebaliknya. Selain itu Pemerintah Indonesia perlu membantu Filipina dalam memerangi kelompok teroris di sana. Karena Filipina selain menjadi tujuan jihad juga menjadi tempat latihan teroris di Indonesia seperti yang dilakukan oleh JAD kelompok Adi Jihadi Cs.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like