Media Sosial

Peran Media Sosial bagi Keluarga Napiter

By

Bagi warga masyarakat, umumnya media sosial hanya dipandang sebagai media untuk memperluas pergaulan dan menambah wawasan sesuai minat masing-masing. Mereka sudah merasa cukup senang bila bisa mengetahui tren yang sedang terjadi. Namun mereka sungguh tak menyangka, jika di kalangan kelompok radikal-ekstrim media sosial bisa menjadi medan perekrutan, tempat curhat, mencari cinta, dan penggalangan dana.

Bagi keluarga narapidana terorisme (napiter) media sosial ternyata memiliki peran yang cukup signifikan. Bahkan menjadi salah satu faktor yang membuat keluarga napiter masih belum bisa lepas sepenuhnya dari orang-orang di kelompoknya. Bagaimana bisa? Berikut adalah temuan kami di lapangan selama melakukan kegiatan pendampingan.

Pada dua keluarga mantan napiter asal Kota Probolinggo yang bebas hampir bersamaan pada akhir Agustus 2020 yang lau, ditemukan fakta bahwa ketika keduanya memutuskan untuk kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan taubat dari pemahaman lamanya, istri keduanya adalah pihak pertama yang menentang atau mempertanyakannya. Alasannya adalah ia nanti akan menjadi bahan cemoohan para istri napiter yang tidak mau NKRI dan para simpatisannya.

Selain itu dampak yang lain adalah diputusnya program bantuan finansial yang rutin diterima olehnya, yaitu berupa santunan biaya pendidikan bagi anak-anaknya. Di mana santunan itu berasal dari penggalangan dana yang dilakukan para simpatisan di kelompoknya. Meskipun pada akhirnya keduanya berhasil meyakinkan istri-istrinya dan meneguhkan pilihannya itu.

Lalu kami bertanya kepada keduanya bagaimana bisa mereka mengetahui bahwa dirinya telah mau kembali ke NKRI? Apakah masih sering mengadakan kajian bersama?

Jawabannya bukan karena masih mengadakan kajian bersama, melainkan dari suami mereka yang berada di penjara yang sama dengannya lalu para istri napiter itu menjadikannya sebagai menu bahasan di akun media sosialnya atau grup media sosial mereka. Biasanya ketika para istri membesuk suaminya adalah momen di mana para suami mengabarkan perihal orang-orang yang mau ikrar setia pada NKRI. Atau pada beberapa lembaga pemasyarakatan (lapas) mereka bisa memiliki akses fasilitas komunikasi dengan keluarganya.

Jadi gosip di media sosial itu tak kalah kejam dengan gosip di dunia nyata. Dan bagi para istri napiter yang mau NKRI itu adalah beban tersendiri. Karena sebagaimana kita tahu bahwa para wanita itu –termasuk istri para napiter– sama saja,yaitu cenderung mudah baper.

Di dunia nyata mereka bahkan nyaris tak pernah kumpul-kumpul karena takut kelakuan mereka itu terpantau oleh masyarakat. Namun mereka ternyata lebih banyak ‘beroperasi’ di media sosial.

Berdasarkan cerita-cerita dari peserta pelatihan di Pegalangan Kidul dan di Wonorejo, fakta peran media sosial itu juga terindikasi kuat masih mempengaruhi keluarga napiter di dua lokasi tersebut, namun kami masih dalam proses mengumpulkan data untuk mengkonfirmasi hipotesa itu. Sementara ini kami baru bisa mengkonfirmasi yang di Kota Probolinggo.

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like