Temuan Berharga dari Peran Emak-Emak dalam Penanganan Keluarga Napiter di Pegalangan Kidul

By

Setelah melakukan serangkaian pelatihan di tiga lokasi di Jawa Timur yang bertajuk: “Penguatan Peran RT-RW Dalam Penanganan Eks Napiter (narapidana terorisme) Dan Keluarganya” dari bulan Juli-Oktober 2020, ada beberapa temuan menarik yang perlu kami sampaikan kepada masyarakat. Di antaranya adalah:

Peran credible voice yang sangat signifikan membangun kepercayaan dan kesadaran dari para peserta pelatihan. Semuanya langsung sepakat bahwa eks napiter dan keluarganya perlu ditangani dengan tepat setelah mendengar cerita pengalaman Si credible voice yang kebetulan juga menjadi mentor dalam program tersebut.

Kemudian ditemukan juga bahwa para peserta itu sangat menyukai sesi diskusi informal pasca pemaparan materi pelatihan. Ide-ide baru hampir selalu muncul dari diskusi informal seperti itu.

Lalu ada juga tanggapan positif dan apresiasi dari para stakeholder serta curhatan para stakeholder itu terkait isu penanganan radikalisme-terorisme di wilayahnya.

Tapi dari semua temuan menarik itu ada satu hal yang paling menarik. Yaitu temuan dari kegiatan sekumpulan emak-emak di Desa Pegalangan Kidul Kec. Maron Kab. Probolinggo yang jadi bersemangat ingin membina keluarga napiter yang ada di desanya.

Awal mula ketertarikan mereka berawal dari rasa ketidaknyamanan dan kasihan pada keluarga napiter yang ada di desanya. Beberapa perilaku keluarga napiter yang membuat mereka tidak nyaman di antaranya adalah pintu rumah yang selalu tertutup, tidak mau menghadiri hajatan tetangganya, dan hanya keluar rumah bila ada keperluan. Di sisi lain mereka juga kasihan pada keluarga napiter tersebut, namun mau datang membantu takut ditolak.

Menyadari ada keinginan kuat dari para emak itu, kades Pegalangan Kidul berinisiatif mengajak para emak yang punya kepedulian itu untuk mengikuti kegiatan pelatihan. Tujuannya agar mereka jadi memiliki skill dan pengetahuan yang membuat mereka percaya diri untuk melakukan pendekatan kepada keluarga napiter itu.

Maka pada pelatihan ketiga dan keempat, komposisi emak-emak bertambah. Dah hebatnya sejak selesai pelatihan yang ketiga, sudah terbentuk tim yang terdiri dari 4 orang emak-emak yang dipimpin oleh Bu Tyas ditambah Bu Kades sebagai pembina yang kemudian mulai melakukan pendekatan kepada keluarga napiter tersebut.

Sejak pertengahan September hingga awal Oktober tim emak-emak itu sudah dua kali berkunjung ke keluarga napiter tersebut. Hasilnya: Mereka membenarkan apa yang kami sampaikan dalam pelatihan, bahwa menjalin hubungan dengan keluarga napiter itu tidak sulit. Terlihat sulit karena terlalu mengedepankan prasangka. Prasangka bahwa nanti akan ada penolakan dan seterusya.

Hasil yang lain adalah temuan bahwa istri napiter itu pun sebenarnya senang ada yang datang sehingga bisa curhat soal permasalahan yang dihadapi. Tapi mereka malu jika merepotkan para tetangga. Makanya mereka cenderung tertutup pada para tetangganya.

Bagi kami ini temuan penting. Ternyata sikap tertutup para keluarga napiter itu salah satu sebabnya adalah karena mereka malu dan tidak mau merepotkan tetangga. Di sisi lain tetangganya takut mendekat karena khawatir ada penolakan.

Setelah adanya pelatihan, pikiran salah satu tetangganya (Bu Tyas) jadi terbuka dan kemudian mengajak beberapa emak yang lain untuk mendukung idenya mencoba melakukan pendekatan kepada keluarga napiter tersebut.

Menurut Pak Kades, para emak-emak itu adalah orang-orang yang paling tepat menjadi ujung tombak pembinaan keluarga napiter sebelum si napiternya bebas. Karena sebelum si napiter bebas, pada dasarnya yang perlu dibina adalah para istri napiter. Dan itu pasti akan lebih mengena jika sesama wanita yang melakukan pembinaan. Barulah ketika si napiter bebas, para bapak-bapak akan mulai memiliki peran yang signifikan.

FOTO: Salah satu kegiatan bertajuk “Penguatan Peran RT-RW Dalam Penanganan Eks Napiter (narapidana Teroris) Dan Keluarganya” di Provinsi Jawa Timur yang digarap PT. Kreasi Prasasti Perdamaian (KPP).

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like