Khilafah

Khilafah Ala Minhaji Nubuwah Menurut KH Syafi’i Mufid

By

Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, Prof Dr. KH Ahmad Syafii Mufid mengatakan sistem khilafah tidak melahirkan konsep tunggal dan paten. Pasalnya dari segi pemilihan Khalifah saja berbeda-beda.

Misalnya proses pemilihan Abu Bakar menjadi Khalifah menurut Alumnus Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo, Semarang itu berdasarkan aklamasi di Tsaqifah Bani Sai’dah Madinah. Sementara proses pemilihan Umar bin Khattab sebagai Khalifah melalui dekrit yang dikeluarkan oleh Abu Bakar. Sistem yang berbeda lagi ketika proses pemilihan Usman bin Affan sebagai Khalifah. Di mana menggunakan sistem pemusyawaratan perwakilan dari kelompok Umat Muslim. Sementara saat pemilihan Khalifah Ali bin Abi Talib menggunakan sistem baiat oleh Umat Islam.

“Khilafah ala minhaji nubuwah itu tidak melahirkan konsepsi tunggal dan paten. Kerena setiap Khulafaurrosyidin itu berbeda-beda. Abu bakar menjadi khalifah karena Aklamasi. Umar melalui dekrit. Usman melalui pemilihan. Dan Ali melalui baiat,” kata kiai Ahmad Syafii Mufid dalam sebuah diskusi “Isu Khilafah HTI” yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi beberapa waktu lalu.

Menurut Kiai Syafii ketika itu terjadi huru hara besar di Madinah karena Khalifah Usman bin Affan terbunuh dan sayyidana Ali dibaiat banyak orang untuk jadi khalifah. Karena itu menurut ahli siyayah sistem khilfah itu belum terstandardisasi dengan baik. Karena proses pemilihan Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali berbeda. Akan tetapi prinsip-prinsip Khilafah ala Minhaji Nubuwah itu tercapai.

“Mereka mendasarkan pada kempimpinan itu apa yang suda dilakukan oleh Rasulullah dan juga mempertimbangkan hal-hal yang baru yang relevan dan sesuai perkembangan jaman manusia ketika itu,” kata Kiai alumnus studi doktoral di International Institute for Asian Studies (IIAS), Universitas Leiden, Netherland itu.

Menurut Kiai Syafi’i masa Khulafahur Rosyidin itu atau empat Khalifah yang berasal dari Sahabat Nabi itu hanya berlangsung tiga puluh tahun. Menurutnya empat Khalifah itu dalam memimpin Umat Islam banyak melakukan Ijtihad. Hal berbeda ketika Bani Muaiyah yang menjadi Khalifah.

“Mulkan Adhon itu saat Muawiyah mengangkat dirinya sebagai Amirul Mukmunin , tapi dia tidak menggunakan prinsip-prinsip peralihan kekuasaan yang dilakukan di jaman khulafaurrosyidin. Tapi dia mengganti saja dengan anaknya dan seterusnya,” kata Alumni Antropologi UI tersebut

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa Muawiyah mempunyai kekuasaan yang kira-kira sama dengan tradisi yang berkembang di ibu kota Bani Umayyah di Damaskus yang sangat kuat dengan penetrasi Kekaisaran Romawi. Hal yang sama juga terjadi pada masa Bani Abbsiyah. Bedanya menurutnya adalah pada corak Kerajaannya. Kalau Bani Umayah corak kerajaannya ke Romawa. Sementara Bani Abbasiyah corak Kerajaannya meniru Persia.
“Jadi muawiyah itu mengikuti pola muluknya Romawi. Lebih tepat seperti iut. Uangnya juga masih dipakek uang Romawi. Sama dengan Bani Abbasiyah, Abdullah Assyafa, yang mendidikan muluk lagi, dngan nama Abbasiyah.

Dia menjelaskan Khilfah ala minhaji nubuwah itu bukan sebagai amar kalau dilihat dari analisis hadis itu. Hadis itu bukan kalam yang menunjukkan perintah tapi khabar. Karena itu kalau kalam khabar ya jangan diciptakan tapi ditunggu saja. Karena kalua diciptakan akan menimbulkan konflik perpecahan seperti yang terjadi di Timur Tengah saat ini.

“Makanya khilafah ala minhaji nubuwah itu dulu yang harus diselesakan apa maksudnya. Kita yang hidup di era sekarang ini harus mengkritisi itu. Jangan hanya mendasarkan kepada hadis yang sepotong-septong. Kalua toh ada ada berita khilafah ala minhaji nubuwah serahkan kepada allah. Kalau itu diserahkan kepada kelompok akan perang dan tidak akan rukun,” imbuhnya

Lebih lanjut Kiai Syafi’i menjelaskan bahwa secara konsep Khilafah ala Minhaji Nubuwah adalah apa yang menjadi ajaran dasar Nabi. Sementara Nabi itu memiliki empat sifat yang wajib dimiliki. Yaitu Tabgligh, Sidiq, Amanah dan Fatonah. Karena itu Khulafaurrosyidin yang merupakan wakilnya para nabi seharusnya tidak jauh dari empat sifat nabi itu.

Pertama Sidiq atau jujur. Menurutnya negara yang paling makmur dan sejahtera adalah negara yang menjujung tinggi kejujuran. Jadi kalua minhaji nubuwah itu nomor satunya adalah orang yang jujur bukan kadzib atau pembohong. Kemudian yang kedua amanah atau bisa dipercaya dalam melaksanakan apa yang menjadi kewajiban.

Selanjutnya yang harus dimiliki adalah Tabligh. Menurutnya tabgligh itu adalah akuntable yang bisa dipertanggung jawabkan. Yang keempat adalah fathonah atau cerdas. Menurut Kiai Syafi’i fathonah pada jaman sekarang ini diterjemahkan tanggap terhadap perubahan.
“Inilah manhajnya khilafahnya itu. Karena itu menjadi nilai dari pengganti. Apakah sudah ada di dalam Mulkan-mulkan itu? Belum ada. Tapi itu dipahami oleh pendiri bangsa. Makanya dirumuskan di dalam Pancasila. Tapi ingat, Pancasila yang disepakati. Yang kita mungkin, idelialismenya tidak kalah. Itulah yang kita miliki sekarang,” pungkasnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like