Film Hijrah

VoM Adakan Nobar Online ‘Hijrah’ dari Hongkong hingga Singapura

By

“Malam itu, jam 11 malam, saya denger ledakan yang sangat keras. Saya di dalam kamar saat itu, tapi gak kepikir sama sekali bahwa itu adalah Bom. Yang ada dalam pikiran saya kayanya itu gardu yang meledak di jalan, karena saya di pinggir jalan kos-kosannya. Tapi beberapa menit kemudian, temen-temen kosan saya yang ada di luar pada berhamburan pulang. Mereka bilang, ada bom di Legian. Ada bom di Legian. Saya mikir, gak, gak mungkin itu gak mungkin bom. Terus saya keluar kamar, dari luar, mereka cuma nanya, bu, bapaknya kerja? Suami saya kerja di Sari Club, iya belum pulang. Mereka cuma nanya gitu aja terus diam.” Cerita Ni Luh Erniati, salah satu penyintas Bom Bali I.

Cerita yang memilukan itu merubah hidup Ni Luh secara drastis. Ia kehilangan suami tercintanya pada 12 Oktober 2002 ketika bekerja di Sari Club, lokasi Bom Bali I. Delapan belas tahun berlalu, hidup Ni Luh sudah kian membaik. Hal itu tergambar dengan baik di film Hijrah.

Film ini menceritakan tentang perubahan yang terjadi terhadap pelaku maupun korban. Korban mengalami perubahan signifikan namun ia terus menjalani hidupnya dengan baik. Ia meyakini bahwa jika ia masih benci dan marah, maka jiwanya sakit dan tidak bisa menjalani hidupnya dengan baik.

Adapun Ali Imron sebagai pelaku, ia menyadari betul kesalahannya. Belakangan, hijrahnya ia lakukan dengan aktif melakukan deradikalisasi kepada narapidana teroris dan murid-muridnya di pesantren.

Pada 27 September lalu, Voice of Migrant (VoM) dan Infest mengadakan nonton bareng secara online. Ini diadakan dalam acara berjudul “Soft Launching & Diskusi Film Hijrah”. Selain Ni Luh, diskusi ini juga dihadiri oleh Sukanto (NII Crisis Center) dan Muhammad Irsyadul Ibad (Direktur Infest Yogyakarta). Diskusi ini dimoderatori oleh Husna Khusnaini dari Voice of Migrant.

Dalam nobar, puluhan pekerja migran menjadi peserta diskusi baik di Hongkong maupun di negara lain, Singapura. Pekerja migran yang menjadi cluster rawan dalam penyebaran terorisme cukup tertarik dengan film yang ditampilkan. Pasalnya, pembawaan film ini juga cukup sederhana serta storytelling oleh korban langsung sehingga mudah dipahami.

Menurut Muhammad Irsyadul Ibad sebagai produser, film ini belum benar-benar dipublikasikan. Film ini akan di-launching pada 12 Oktober 2020 mendatang bertepatan dengan Bom Bali.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like