Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi Covid-19: Yusuf Bersama Warga Tekuni Budidaya Lele

By

Pandemi Covid-19 menyasar siapa saja, tak terkecuali warga yang tinggal di perkotaan. Di tengah kondisi serba sulit itu, terutama dampak ekonomi, warga dituntut kreatif. Minimal untuk bisa menghidupi dirinya sendiri secara mandiri. Ini juga seiring dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal ketahanan pangan nasional sebagai salah satu kunci menghadapi masa krisis akibat pandemi Covid-19.

Di Kota Semarang, ide-ide kreatif juga muncul dari warga terkait ketahanan pangan itu. Salah satu contohnya ada di wilayah RT4/RW11 Kampung Jatisari Kelurahan Gisikdrono Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang.

Salah satu warganya yakni Machmudi Hariono alias Yusuf mencoba budidaya ikan lele bersama warga yang lain, termasuk bersama Ketua RT setempat Mulyono. Rumah mereka bersebelahan.

Sudah sepekan ini, Yusuf bersama Mulyono termasuk warga yang lain berembuk. Hingga pada Rabu 30 September 2020 kemarin, mereka berkonsultasi dengan Penyuluh Perikanan di Kota Semarang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kuntoro Aji. Secara khusus, Aji datang ke wilayah tinggal Yusuf untuk memberi penyuluhan hingga teknis budidaya.

Bertempat di Balai RT setempat, Yusuf bersama warga menyimak paparan dari Aji. Hari itu juga, mereka menyepakati untuk membentuk Kelompok Budidaya Ikan bernama Mina Jatisari Makmur, Yusuf sebagai Ketua, Sekretaris bernama Raihan Baraki dan Bendahara Yohanes Andi. Anggotanya 7 orang adalah warga setempat khususnya para pemudanya. Ketua RT dan RW setempat menjadi pembinanya.

Mereka berencana membuat kelompok budidaya ikan lele menggunakan ember ukuran 80 liter. Selain lele, juga akan ditanami kangkung agar lebih produktif.

Aji selaku penyuluh memberikan penjelasan, bahwa kelompok perikanan ada 3 macam sesuai aktivitasnya, yakni Kelompok Nelayan, Kelompok Budidaya Ikan dan Kelompok Pengolah Hasil Perikanan. Untuk kelompok jumlahnya minimal terdiri dari 10 orang.

“Ini karena jauh dari laut, yang bisa diterapkan untuk budidaya adalah ikan air tawar,” kata Aji.

Lebih lanjut, Aji menjelaskan untuk teknisnya, ember itu kali pertama harus dicuci menggunakan daun pepaya dan garam krosok, dicuci tanpa sabun, kemudian dijemur. Setelah kering, diisi air kemudian diendapkan dengan daun ketapang kering atau yang sudah berwarna kuning selama kurang lebih 3 hari. Tujuannya untuk menetralisir air. Sembari menunggu, tanaman termasuk sayur bisa mulai ditanam di gelas-gelas plastik di atas ember.

Untuk memelihara kualitas air digunakan prebiotik, bisa dibeli di toko kimia, toko pertanian atau toko pakan ikan.

“Prebiotik adalah bakteri yang tidur,” lanjut Aji.

Untuk “membangunkan” bakteri itu, bisa menggunakan campuran rebusan air gula jawa. Takarannya untuk ukuran sekira 300ml, dicampur prebiotik dengan takaran 1 atau 2 tutup. Tujuan lainnya adalah untuk mendorong tumbuhnya plankton yang bisa digunakan sebagai pakan alami ikan.

Untuk ukuran 1 ember (80 liter) baiknya diisi 50 ekor bibit lele. Untuk pemilihan bibit lele, usahakan yang sudah cukup besar. Karena semakin besar benih semakin kecil risiko kematian.

Yusuf sendiri mengaku antusias dengan kegiatan ini. Baginya, ini adalah informasi dan tantangan baru. Sebelumnya Yusuf belum pernah menekuni budidaya seperti ini.

Di satu sisi, Yusuf saat ini juga menjabat Ketua Yayasan Putra Persaudaraan Anak Negeri (Persadani), sebuah yayasan yang mewadahi para mantan narapidana terorisme (napiter) khususnya di wilayah pantura Jawa Tengah. Saat ini jumlah anggotanya sudah 26 orang. Yusuf sendiri juga sempat tersangkut terorisme, ditangkap pada tahun 2003 silam di Kota Semarang, divonis 10 tahun dan menjalani hukuman 5,5 tahun penjara.

“Kita punya masa lalu yang sama (anggota Persadani) tapi bersama-sama menatap masa depan yang lebih cerah. Lewat Yayasan Persadani, kami mencoba merangkul para mantan napiter ini untuk bersama-sama berbuat kebaikan, bermanfaat terutama di lingkungan,” kata Yusuf.

Sementara itu, Ketua RT setempat Mulyono mengaku senang dengan apa yang coba dilakukan warganya. Hal seperti ini adalah kegiatan positif yang harus didukung. Dia mempersilakan lahan belakang rumahnya untuk dipakai budidaya ikan lele tersebut.

 

FOTO RUANGOBROL.ID/EKA SETIAWAN

Machmudi Hariono alias Yusuf (belakang) bersama salah satu warga, membawa ember yang akan digunakan untuk budidaya lele di RT4/RW13 Kampung Jatisari, Kelurahan Gisikdrono, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Rabu 30 September 2020.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like