Pekerja Migran

Berkurangnya Istirahat Pekerja Migran selama Pandemi

By

Singapura telah memasuki bulan ke-9 masa pandemi COVID-19. Hal ini menjadikan banyak tantangan bagi banyak pihak termasuk pekerja migran Indonesia. Banyak permasalah yang di alami oleh pekerja migran selama pandemi.

Himpunan Penata Laksana Rumah Tangga Indonesia di Singapura (HPLRTIS) mengadakan survey sederhana terkait kendala pekerja migran. Setidaknya ada 15 kendala yang dialami oleh pekerja migran Indonesia di Singapura.

Kendala pertama dialami oleh 23% responden dimana mereka cenderung mudah lelah. Hal ini karena hampir sepanjang hari berdiri. Pekerja migran cenderung tidak enak hari ketika duduk istirahat karena majikan sedang bekerja atau selalu bekerja.

Sedangkan 20% responden mengaku bingung memilih menu masakan. Hal ini didukung dengan 9% responden yang mengaku bahwa mereka harus masak dua kali sehari. Biasanya para pekerja migran domestik ini hanya memasak untuk makan malam saja. Namun WFH sang majikan mendorong mereka untuk memasak untuk makan siang juga. Ini menjadi kendala karena pekerja migran juga harus menyesuaikan selera majikannya.

Banyak responden yang mengaku berkurangnya jam istirahat. Misalnya 14% responden menyatakan tidak ada istirahat siang hari. Biasanya mereka bisa beristirahat ketika majikan sedang bekerja ataupun sang anak bersekolah. WFH menjadikan mereka harus stand by selama majikan belum tidur. Ini juga berkaitan dengan 9% responden yang mengaku berkurangnya jam tidur malam. Belum lagi 4% mengaku secara lebih spesifik bahwa jam kerja menjadi buru-buru. Mreka juga harus lebih awal bangun dari biasanya agar tidak mengganggu majikan meeting online atau bekerja. Kemudian, 3% responden menyatakan waktu istirahat berkurang karena banyak pekerjaan tambahan yang tidak terduga dan 1% menyatakan pekerjaan cenderung tidak menentu karena jadwal bangun tidur yang berbeda.

Menariknya, 7% responden mengaku bertambahnya berat badan karena hanya bergerak di dalam rumah. Mereka biasanya bisa aktif ketika off day untuk olahraga, berbelanja atau berkumpul, kini tak lagi bisa. Hal ini juga ditambah dengan pekerja migran yang terus menyicip makanan.

Selain itu, 3% koresponden mengaku kecewa karena off day jatuh pada weekday. Hal ini membuat mereka sulit bertemu dengan teman yang lain. Berkenaan dengan off day, 2% pekerja migran mengaku off hanya beberapa jam saja bahkan ketika off day. Adapun 2% lainnya menyatakan bahwa hari libur tetap di rumah namun membeli makanan sendiri. Hal ini karena majikan khawatir jika mereka keluar terinfeksi virus.

Keluhan lainnya adalah karena 1% menjadi bekerja di dua rumah. Selanjutnya 1% lainnya tidak bisa pulang karena diminta menunggu pandemi berakhir dan 1% mengaku pembayaran gaji terlambat.

Survey ini dilakukan secara online oleh HPLRTIS oleh ketua organisasi ini, Mba Eti. Setidaknya 222 orang menjadi responden dalam survey tersebut.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like