Teror Olahraga

Aksi Teror Selama Pertandingan Olahraga

By

Olahraga yang sangat universal untuk semua kalangan, menghasilkan banyak manfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Namun ternyata ini tak luput dari sasaran aksi terorisme. Sejarah telah mencatat, banyak sekali aksi teror yang dilakukan di tengah berlangsungnya pertandingan olahraga.

  • 5 September 1972

Kelompok Palestina Black September melakukan serangan saat Olimpiade di Munich, Jerman. Pelaku membunuh dua atlet Israel dan menyandera sembilan lainnya. Para sandera dibunuh dua hari kemudian, ditambah seorang polisi dan pilot helicopter

  • 27 Juli 1996

Satu wanita tewas dan 111 orang terluka, akibat ledakan bom di Centennial Olympic Park di Atlanta, Amerika Serikat. Aktivis anti-aborsi Eric Rudolph disebut sebagai pelakunya.

  • 3 Maret 2009

Kelompok teroris menyerang bus tim kriket Sri Lanka di Lahore, Pakistan, menewaskan sekira lima orang.

  • 15 April 2013

Dua ledakan terjadi saat lari maraton di Boston, menewaskan tiga orang dan 200-an orang terluka

  • 13 November 2015

Tiga ledakan terdengar di dekat stadion Stade de France, yang sedang menggelar laga persahabatan Prancis-Jerman.

Menurut UU terorisme, Terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal dan atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik atau fasilitas internasional dengan motif politik, ideologi, atau gangguan keamanan.

Pertandingan pastinya akan mendatangkan banyak orang, dan biasanya orang-orang akan fokus dengan atlet atau klub kesayangan mereka, persiapan tanding, penjualan tiket, penjaulan makanan, merchandise,dll. Jadi, bisa dibilang di ajang olahraga ini orang-orang dalam kondisi lengah. Sehingga ini dijadikan momen yang pas bagi para teroris untuk menebarkan ketakutan dan menimbulkan korban massal.

Sebagaimana definisi diatas, seorang jurnalis asal india, Rohit Brijnath dalam tulisannya di laman StraitsTimes juga mengatakan bahwa “Teroris berusaha memecah belah, menciptakan kecurigaan, memicu fanatisme, menumbuhkan rasa takut. Olahraga, dalam kondisi terbaiknya, membangkitkan kesenangan, mengikat, menghubungkan, dapat membuat Batasan-batasan lenyap dan kewarganegaraan menjadi tidak relevan. Selama Piala Dunia sepak bola, orang Singapura mungkin memakai warna kuning Brasil. Di bar pendukung Liverpool, satu-satunya warna yang penting adalah merah”.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like