Khilafah HTI

Perbedaan Ideologi Khilafah dalam Perspektif Kelompok ISIS dan HTI

By

Dalam beberapa waktu terakhir, narasi perang terhadap kelompok yang dituduh mengampanyekan ideologi Khilafah cukup gencar dilakukan dimana-mana. Tak hanya narasi anti khilafah oleh pemerintah, bahkan beberapa ormas di tanah air juga ikut ambil bagian untuk menolak kehadiran kelompok ini.

Persoalan Khilafah, seringkali membuat banyak orang salah memahaminya. Akibatnya, tidak jarang pula masyarakat begitu gegabah melempar stigma dan memberikan label negatif pada siapapun ‘tukang sales’ ideologi ini. Terlebih menyedihkannya, tuduhan itu seringkali tidak tepat sasaran dan cenderung gebyah uyah.

Sebagai contoh, banyak pihak menganggap kelompok ISIS dan HTI sebagai satu produk yang sama hanya karena ideologi Khilafah. Padahal mereka jelas tidak sama, baik secara kelas maupun tingkat ancamannya. Barangkali fenomena inilah yang mendorong saya untuk sedikit mengulas tentang Khilafah dalam perspektif kelompok ISIS dan HTI di Indonesia.

Mengulik Awal Konsep Khilafah

Jika kita merujuk pada sejarah, konsep Khilafah pertama kali muncul pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW pada Senin, 12 Rabbiul Awwal tahun 11 Hijriyah atau bertepatan pada tanggal 8 Juni 632 Masehi. Di tengah rasa duka, para sahabat Nabi ini merasa khawatir tentang kondisi umat Islam kedepannya dengan ketiadaan Nabi Muhammad di tengah-tengah mereka. Maka diadakanlah musyawarah dengan mengumpulkan para sahabat untuk menentukan siapakah sosok yang layak untuk memegang tambuk kepemimpinan umat Islam. Musyawarah tersebut menghasilkan keputusan Abu Bakar Ash Shidiq sebagai Khalifah pertama. Lalu kepemimpinan ini berikutnya dilanjutkan oleh Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan dan terakhir adalah Ali Bin Abi Thalib.

Masa kepemimpinan keempat sahabat Nabi ini disebut juga sebagai Khulafa’ur Rasyidin, artinya para pengganti atau pemimpin yang mendapat petunjuk dari Allah. Kata Rasyidin sendiri berfungsi sebagai gelar yang hanya diberikan khusus bagi keempat sahabat Nabi di atas.

Syaikh Ibnu Utsaimin, seorang ulama dan mufti Arab Saudi menjelaskan dalam kitab Irwa’ul Ghalil, bahwa mereka yang empat itulah yang disebut sebagai Al Khulafa Ar Rasyidin, yaitu yang mendapat hidayah dan petunjuk, dimana Nabi Muhammad mengatakan dalam hadits beliau, “Hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para Khulafa’ Rasyidin setelahku, gigitlah dengan gigi geraham.” (H.R. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah).

HTI sama dengan ISIS?

Dalam Bahasa Arab sendiri, makna Khalifah berasal dari kata kha-la-fah yang berarti pengganti. Sementara Khilafah secara harfiah berarti mengganti. Dengan kata lain, Khalifah berarti menggantikan posisi sebagai pimpinan sebelumnya karena sebab meninggal atau adanya udzur yang lain. Lalu apa yang membedakan Khilafah yang dikampanyekan oleh kelompok ISIS maupun HTI?

Yang menjadi dasar pembeda dalam memahami makna Khilafah baik dalam pandangan kelompok ISIS maupun HTI adalah soal cara mewujudkan dan realisasi dari konsep Khilafah itu sendiri. Bagi ISIS maupun kelompok-kelompok lain yang serupa, mereka meyakini bahwa jalan mewujudkan kekhalifahan tidak bisa hanya ditempuh dengan diplomasi, negosiasi atau pun musyawarah melalui sistem parlementer. Melainkan Khilafah hanya bisa dicapai melalui jihad fi sabilillah atau berperang dengan mengangkat senjata. Sebab bagi mereka, tidak ada kemuliaan dalam Islam kecuali dengan jihad.

Dalam sebuah hadits Nabi disebutkan, “Sekali-kali akan tetap ada dalam agama ini sekelompok orang dari kaum muslimin yang senantiasa berperang hingga datangnya hari kiamat.” (HR. Muslim). Mereka juga berpedoman pada fatwa Ibnu Taimiyah yang mengatakan, “Barangsiapa berpaling dari Al Qur’an maka ditegakkan dengan besi (pedang). Karena itu, tegaknya agama ini adalah dengan mushaf (Al Qur’an) dan pedang.” (Majmu’ Fatawa, Jilid 28/263).

Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam Kitab Al Furusiyah hal. 18 juga mengatakan, “Sesungguhnya Allah subhaanahu menegakkan agama Islam dengan hujjah dan bukti-bukti, serta pedang dan tombak. Keduanya dalam menolong agama adalah (seperti) dua saudara kandung (yang tidak terpisahkan).” Karenanya, jika kita melihat pada bentuk Al Liwa’ atau bendera hitam yang digunakan oleh ISIS maupun kelompok jihad yang lain, Al Qur’an atau kalimat Tauhid dan pedang seringkali digunakan oleh mereka sebagai simbol perjuangan dalam membela Islam. Dan itu tertulis di dalam bendera Al Liwa’.

Adapun HTI atau Hizbut Tahrir Indonesia, merupakan organisasi gerakan atau kelompok yang mencoba untuk memujudkan kembali Khilafah, namun melalui jalur diplomatik atau parlementer. Organisasi ini berkeyakinan dengan menguasai panggung parlemen, maka mereka akan dengan mudah merubah sistem demokrasi menjadi Khilafah tanpa perlu mengangkat senjata (perang) sebagaimana yang dilakukan oleh para jihadis.

Dengan kata lain, kelompok ini tak ubahnya penumpang gelap yang mencoba untuk ‘berdamai’ pada sistem sekulerisme atau demokrasi. Sesuatu yang justru bertolak belakang dengan ISIS maupun kelompok jihad lain yang menolak mentah berbagai ideologi selain syari’at Islam.

Tak heran, di kalangan ISIS, organisasi HTI sering menjadi bulan-bulanan dan bahan olok-olok. Sebab di saat ISIS berhasil mendeklarasikan Khilafah Islamiyah dengan mendaulat Abu Bakar Al Baghdady sebagai Amirul Mukminin, HTI yang selama ini getol jualan isu Khilafah malah membleh dan tak terdengar gaungnya.

Bahkan muncul guyonan di kalangan mereka (kelompok ISIS), “Orang-orang HTI selama ini dakwahnya tentang Khilafah, itu di Suriah sudah tegak. Mana suara mereka? Omong kosong semua.” Hal ini menjelaskan bahwa meski keduanya sama-sama menjual isu Khilafah, namun bukan berarti produknya tetap sama. Bahkan walaupun suara kelompok HTI begitu nyaring dimana-mana dengan produk dagangannya (Khilafah), namun hingga detik ini pun nyaris kita tidak pernah tahu seperti apa bentuk yang mereka inginkan sesungguhnya. Atau ini tidak lebih hanya sebatas imajinasi belaka.

Dan dari kasus ini pula harusnya kita belajar agar pandai memilah dan menelaah dari orang-orang yang selama ini gemar berjualan isu Khilafah. Agar nantinya kita tidak terjebak pada stigma yang sifatnya bias dari kelompok-kelompok yang rajin berjualan isu Khilafah meski pada hakikatnya produknya tidak sama.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like