Covid-19

Ini Kendala Mengapa Pandemi Tak Juga Usai

By

Kasus pertama COVID-19 di Indonesia ditemukan di Jakarta Selatan dimana pasiennya berasal dari sebuah keluarga di Depok dan seorang WNA. Indonesia kemudian juga mendapatkan imported case dari sejumlah anak buah kapal dari luar negeri. Pusat penyebaran pertama kali di Indonesia tentu ada di Jakarta.

Setelah itu, infeksi lokal terus terjadi di Indonesia hingga mencapai 3000 kasus per hari hingga hari ini. Meski Jakarta saat ini mencapai 1000 kasus per hari, nmaun kematian terbesar justru datang dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. PSBB ketat yang dilakukan beberapa bulan terakhir dianggap banyak pihak tak begitu efektif. Lalu, apa penyebab pandemi ini terus berlangsung jika solusinya bukan PSBB?

  • Virus Dekat VS Virus Jauh

CSIS pernah melakukan rilis mengenai penyebaran awal COVID-19. “Waktu awal-awal itu buat kita itu sepertinya adanya di luar negeri, pandangan pemerintah, pandangan masyarakat lainnya, kejadiannya jauh, di China, di Eropa, dan lain-lain,” sebut Philips Vermonte, Direktur CSIS Hal itu menjadikan masyarakat sedikit abai dengan protokol kesehatan.

Meski angka terus naik, banyak masyarakat yang masih merasa terus aman dari wabah ini. Jakarta dianggap sebagai pusat pandemi sehingga mereka yang berada di luar Jakarta merasa tidak perlu melakukan protokol kesehatan. “Ah disini mah gak ada”, begitu seorang warga berkomentar di daerah Tangerang Selatan meski desanya merupakan zona merah.

  • Hidup VS Kebutuhan Hidup

Desakan kebutuhan hidup menjadi penyebab mereka tidak melakukan protokol kesehatan. Pasalnya tidak ada opsi lain selain terus beraktifitas. Bantuan Langsung Tunai atau BLT untuk warga yang terdampak, hanya turun satu kali. Sedangkan bantuan sembako tidak lancar seperti masa-masa pandemi awal. Pembukaan PSBB transisi sebagai dorongan menyelamatkan ekonomi dari resesi justru disambut baik dibanding anjuran beraktivitas dari rumah.

Kementerian Pendidikan belakangan mengucurkan dana fantastis, 7,2 triliun untuk kuota belajar di rumah sebagai kebutuhan pendidikan. Hal ini ditujukan agar anak tetap belajar online di rumah hingga keadaan dianggap aman. Ini masih menjadi dilema karena banyak anak yang ditinggal orang tua saat waktu bekerja, ketidakpahamin digital orang tua atau anak bahkan tidak adanya alat komunikasi yang diperlukan.

  • Data VS Cerita

Telah menjadi banyak perbincangan bahwa ada masalah dalam penanganan pandemi di Indonesia. Banyak mitos dan cerita-cerita yang tidak ilmiah lebih marak beredar dibanding respon ilmiah dari para ahli. Hal ini juga bahkan disebarkan oleh pihak pemerintah sendiri. Tentu kita masih ingat bagaimana booming-nya video Anji bersama Hadi Pranoto.

Data yang setiap harinya dikeluarkan oleh Gugus percepatan COVID-19 nyaris tidak dipercaya. Informasi tidak adanya pasien yang meninggal karena COVID 19 cukup banyak dipercaya di media sosial. Padahal saat ini muncul gejala Happy Hipoxia yang dimana mereka yang positif COVID kini tak lagi nampak gejala apapun.

  • Sayang VS Sayang

Penyebaran COVID-19 terbesar terjadi pada masa pembukaan transportasi antar kota dengan bermodalkan surat keterangan sehat. Hal ini dimulai sejak menjelang idul fitri 2020 lalu. Surabaya menjadi salah satu kota dengan dampak COVID atas pembukaan transportasi terbesar di Indonesia. Bahkan hingga saat ini, provinsi tersebut sempat dikatakan sebagai zona hitam.

Idul Fitri memang waktunya berkumpul dengan keluarga. Atas alasan sayang, banyak orang memilih mengunjungi sanak keluarga. Padahal belum tentu kita bersih atau bahkan keluarga yang dikunjungi tidak terinfeksi virus yang banyak tak bergejala ini. Bahkan sebuah kejadian di Surabaya terjadi beberapa hari lalu, dikutip dari Kompas.com, seorang perempuan mengunjungi saudaranya yang belakangan diketahui positif COVID. Niat hati sayang kepada keluarga, namun perempuan tersebut berujung di isolasi.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like