Chapter 1: Februari 2019 Part 2

By

15 Februari 2019 Pukul 09.00 WIB, Meeting Room Hotel Four Points Surabaya

Memasuki ruang meeting yang menjadi tempat acara berlangsung, saya langsung dipersilahkan untuk duduk di depan bersama Noor Huda Ismail yang sedang memberikan penjelasan kegiatan yang akan dilaksanakan pada hari itu. Saya memang datang belakangan karena suatu hal.

Saya tidak menyangka konsep acaranya tidak se-formal yang saya bayangkan. Saya yang tadinya agak gugup jadi bisa lebih rileks. Padahal saya tahu yang datang adalah orang-orang penting dari berbagai lembaga negara. Ada yang dari BNPT, Kementerian Sosial, Dirjenpas, Kemenkumham, aktivis LSM, pelaku industri kreatif, lembaga donor, pakar psikologi, dan lain-lain. Saya sempat bertemu mereka pas sarapan.

“Cak Arif, mereka semua ini mengikuti short course dalam rangka menemukan solusi-solusi baru dalam penanganan terorisme di Indonesia. Tapi mereka belum tahu apa sih yang sebenarnya faktor-faktor yang menyebabkan seseorang jadi teroris dan apa yang dibutuhkan oleh seorang teroris sejak ditangkap hingga setelah bebas. Itu aja intinya tujuan dari short course ini. Antum dihadirkan untuk berbagi cerita agar mereka ini bisa tahu apakah solusi yang mereka rancang bermanfaat atau kurang bermanfaat bagi orang-orang seperti antum”, begitu penjelasan dari Noor Huda Ismail sebelum saya dipersilahkan mulai bercerita.

Saya kemudian menceritakan proses bagaimana saya mulai tertarik, masuk ke jaringan, terlibat, dan kemudian menemukan titik balik serta bagaimana saya menjalani reintegrasi pasca bebas dari penjara. Pada saat menceritakan kisah titik balik itulah saya sangat emosional sampai menitikkan air mata dan harus terhenti beberapa kali untuk menenangkan diri. Saya memang selalu emosional ketika menjelaskan proses titik balik dan apa yang ingin saya lakukan ke depan.

Rupa-rupanya hal itu sangat berkesan bagi semua peserta yang hadir. Mereka menyambut baik dan mendukung apa yang telah dan akan saya lakukan untuk membuktikan bahwa saya bisa bermanfaat bagi masyarakat. Salah satunya adalah membantu mereka saat itu menemukan rancangan solusi yang tepat bagi penanganan terorisme di Indonesia.

Dalam sesi tanya jawab dengan mereka, terungkap bahwa memang benar mayoritas mereka masih jauh dari memahami dunia para ‘teroris’ dan mantan ‘teroris’. Padahal semua yang hadir itu adalah orang-orang yang ingin menemukan solusi bagi persoalan seputar terorisme. Dan benar kata Noor Huda Ismail, keterangan dan masukan dari orang-orang seperti saya akan sangat berarti bagi mereka.

Ini menjadi semakin menguatkan kesimpulan saya sebelumnya, bahwa semakin banyak kisah yang didapatkan, maka akan semakin baik pemahaman seseorang akan persoalan penanganan terorisme. Sehingga akan berpengaruh dalam upaya penanganan masalah terorisme.

Di samping itu saya juga mulai menyadari, bahwa semakin banyak orang yang memahami persoalan terorisme ini dan urgensi penanganannya maka penanganan terorisme akan semakin ringan karena yang terlibat dalam penanganan terorisme juga akan semakin banyak.

Sejak saat itulah sebenarnya konsep pelibatan masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme sudah mencuat di benak saya. Hal ini diperkuat oleh fakta yang saya temukan setelah menyimak paparan-paparan para peserta short course yang diselenggarakan oleh Australian Awards terkait rancangan solusi-solusi sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Saya melihat rancangan mereka masih belum bisa saling bersinergi antar lembaga dan antar disiplin ilmu. Masih terhalang ego sektoral. Misalnya : sebagian ingin merancang program A yang membutuhkan kerjasama dengan lembaga X dan Y. Ternyata lembaga X dan Y tidak bisa membantu karena persoalan hirarki dan birokrasi.

Saya mempunyai kesimpulan. Sebenarnya masyarakat di sekitar eks napiter dan keluarganya mampu mengambil alih peran lembaga-lembaga dan para ahli itu. Bahkan bisa lebih baik karena merekalah yang berinteraksi setiap hari dengan para eks napiter itu sehingga lebih faham kondisi si eks napiter. Dengan syarat mereka diberikan edukasi yang cukup soal terorisme dan kesadaran akan pentingnya menangani persoalan terorisme. Selain itu juga diberi akses memperoleh bimbingan dari pihak-pihak terkait, dan akses pengajuan dana kepada pemerintahan setempat.

Tapi pertanyaannya adalah : Bagaimana caranya mengedukasi masyarakat ?

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like