guru-fsgi-guru-indonesia

FSGI Desak Pemerintah Berikan Perlindungan Kepada Guru

By

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyampaikan keprihatinan atas meninggalnya guru akibat COVID-19. Menurut catatan FSGI hingga 18 Agustus 2020 sudah ada 42 guru dan 2 pegawai Tata Usaha Sekolah yang meninggal karena Covid-19. FSGI menilai hal ini merupakan sebuah tragedi kemanusiaan yang telah mengorbankan guru sebagai garda terdepan di sekolah. Kondisi ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap guru sangat lemah di masa pandemi ini.

“Padahal, sebelum pandemic saja kita sudah kekurangan guru, kalau para guru tidak dilindungi, maka potensi penularan COVID-19 di lingkungan satuan pendidikan akan tinggi jika sekolah dibuka pemerintah daerah tanpa ada persiapan yang matang,” ujar Heru Purnomo, Sekjen FSGI.

FSGI meragukan persiapan pembukaan sekolah dilakukan dengan sungguh-sunguh, mengingat daftar periksa buka sekolah saja banyak tidak dipenuhi oleh sekolah. Contohnya di kabupaten Toba. Walau statusnya zona oranye, 51 Sekolah jenjang SMP di Kabupaten Toba, Sumatera Utara melakukan pembelajaran tatap muka, dengan ketentuan 3 hari masuk sekolah dalam seminggu dengan 3.5 jam tatap muka di sekolah.

“Ketika Kami mengecek daftar periksa di Kemdikbud terkait pembukaan sekolah, ternyata dari 51 SMP tersebut yang mengisi baru 13 sekolah dan 37 sekolah belum mengisi. Dari 13 sekolah yang mengisi ternyata 1 SMP tidak punya toilet, 1 tidak punya CTPS, 4 tidak punya disinfektan dan 8 tidak punya thermogun,” ungkap Fahriza Marta Tanjung, Wakil Sekjen FSGI.

Lebih lanjut Fahriza Marta menjelaskan bahwa Guru yang tertular COVID-19 ini sebagian ada yang melakukan kegiatan di sekolah baik yang melaksanakan pembelajaran daring maupun pembelajaran tatap muka ataupun sekedar piket. Ironisnya meski pembelajaran dilakukan secara daring, tapi guru tetap diharuskan datang ke sekolah guna absen sidik jari.

“Ternyata sebagian Pemda mewajibkan guru tetap hadir ke sekolah setiap harinya untuk melakukan absen sidik jari. FSGI menilai bahwa Pemda sangat kaku memandang beban kerja guru. Padahal pemerintah telah memberikan kelonggaran bagi ASN untuk melakukan pekerjaannya,” imbuhnya

Menurut Fahriza Guru termasuk jenis pekerjaan yang memungkinkan untuk dilakukan di rumah selama pelaksanaan pembelajaran daring. Selain itu kehadiran guru di sekolah juga bertentangan dengan Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 terkait dengan pelaksanaan Belajar dari Rumah

“Selama guru-guru masih mampu memenuhi tugas pokoknya yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik serta melaksanakan tugas tambahan, maka pembelajaran daring rumah seharusnya tidak menjadi masalah,” tuturnya

Selain itu kata Fahriza banyaknya guru yang positif COVID-19 menunjukkan bahwa telah terjadi penularan pada lingkungan sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa sekolah belum menjalankan protokol kesehatan dengan baik. Misalnya saja membiarkan guru berinteraksi dengan membuka maskernya, meletakkan guru pada satu ruangan yang sama tanpa memperhatikan physical distancing, minimnya sarana CTPS atau hand sanitizer serta sarana sanitasi lainnya.

“Penting juga diketahui bahwa kewajiban hadir ke sekolah telah mengakibatkan guru-guru yang berada di luar kota harus melakukan perjalanan ke sekolah tanpa melalui protokol kesehatan yang dianjurkan selama menggunakan sarana transportasi. Kondisi ini mengakibatkan sekolah menjadi tempat yang beresiko untuk penularan COVID-19 dan guru menjadi kelompok yang paling rentan tertular,” imbuhnya

Jika kondisi ini dibiarkan terus terjadi FSGI khawatir akan semakin banyak guru yang terpapar COVID-19 bahkan sampai meninggal dunia. Kalaupun sembuh, bisa jadi guru yang sudah terpapar mengalami kecacatan fisik secara permanen pada paru-parunya. Kondisi seperti ini juga seharusnya menjadi peringatan bagi pemerintah di tengah upaya Kemendikbud melakukan relaksasi pembukaan sekolah dari zona hijau menjadi zona hijau dan zona kuning.

“Pemerintah harus sangat berhati-hati dan melakukan pengawasan yang ketat terhadap Pemerintah Daerah dalam menjalankan mekanisme dan prosedur yang telah ditetapkan dalam SKB 4 Menteri. Karena banyak ditemukan pada implementasinya di lapangan banyak Pemerintah Daerah yang tidak mematuhi SKB 4 Menteri dalam upaya untuk membuka sekolah,” katanya

Karena itu FSGI mengingatkan bahwa dalam melaksanakan tugasnya guru berhak memperoleh perlindungan profesi, perlindungan hukum dan perlindungan hak atas kekayaan intelektual. Guru juga berhak memperoleh perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja termasuk perlindungan terhadap resiko kesehatan lingkungan kerja. Dimana perlindungan ini harus diberikan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, sekolah, organisasi profesi dan masyarakat.

“Pada konteks situasi pandemi seperti saat ini, maka guru-guru harus memperoleh perlindungan dari penularan Covid 19 di lingkungan sekolahnya masing-masing,” katanya lagi

Lebih lanjut FSGI merekomendasikan Pemerintah Daerah maupun Yayasan Perguruan Swasta untuk tidak mewajibkan guru masuk ke sekolah untuk melaksanakan pembelajaran daring selama tugas-tugas pokok sebagai guru masih bisa dilaksanakan dari rumah. Kepada Pemerintah agar melakukan pengawasan yang ketat dalam proses pelaksanaan Belajar dari Rumah maupun upaya pembukaan sekolah.

“Jika diperlukan, agar memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang melanggar aturan, terutama dalam upaya pembukaan sekolah, dengan sanksi secara bertahap mulai dari sanksi ringan, sedang dan berat sesuai dengan tingkatan kesalahannya,” desaknya

Kemudian FSGI meminta seluruh pihak, Pemerintah, Pemerintah Daerah, sekolah, organisasi profesi, orang tua dan masyarakat serius dan bersinergi dalam memberikan perlindungan bagi guru, terutama perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja terhadap resiko penularan COVID-19 yang mungkin terjadi di sekolah.

“Kami juga meminta Pemerintah untuk melakukan testing kepada guru-guru sebelum membuka sekolah dalam bentuk PCR Test atau Swab Test. Karena langkah ini sangat efektif dalam mencegah penularan Covid 19 di sekolah,” pungkasnya

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like