Bagaimana Peran Istri Para Napiter dalam Proses Disengagement Suami Mereka? (2-End)

By

Pasangan suami istri yang mendapatkan kemudahan hidup meskipun sang suami dipenjara itu akan semakin kuat ikatannya dengan kelompoknya. Dan semakin berat perjuangan sang suami jika ingin keluar dari kelompok lamanya itu. Setidaknya hal itu terjadi pada seorang napiter yang beberapa waktu yang lalu mengungkapkan kepada saya bahwa ujian terberatnya ketika dirinya memutuskan untuk meninggalkan kelompok lamanya justru adalah istrinya sendiri.

Semenjak ia ditangkap oleh aparat keamanan, istrinya menerima bantuan rutin dari para pendukung di kelompoknya. Meskipun tidak besar tapi sangat berarti bagi keluarganya. Bisa menutupi kekurangan dari penghasilan yang tak seberapa dari usaha kecil-kecilan yang dijalankan istrinya. Hal ini rupanya sangat mempengaruhi sikap istrinya ketika ia memutuskan untuk mengurus remisi dan pembebasan bersyarat.

Berita bahwa dirinya hendak mengurus syarat remisi dan pembebasan bersyarat sampai kepada kelompok yang selama ini memberikan santunan kepada keluarganya selama ia di penjara. Mereka lantas menghentikan santunan itu karena dirinya dianggap telah ‘murtad’. Salah satu syarat mendapatkan remisi dan Pembebasan Bersyarat (PB) adalah ikrar setia pada NKRI. Inilah yang menyebabkan dirinya dianggap telah ‘murtad’ oleh kelompoknya.

Sang istri protes, mengapa ia memilih untuk keluar daripada tetap mengikuti pemahaman kelompoknya yang berakibat terhentinya program bantuan rutin yang biasa ia terima ? Padahal kebebasan melalui proses PB itu pun masih harus menunggu berbulan-bulan. Bagaimana ia akan bertahan sambil menunggu kebebasan suaminya tanpa bantuan dari kelompoknya ? Bukankah dulu dirinya yang membuat istrinya itu mengikuti pemahaman kelompok tersebut ? Lalu sekarang tiba-tiba keluar dari kelompok itu tanpa ada alternatif penggantinya dalam hal bantuan meringankan beban hidup ?

Si suami berusaha mati-matian meyakinkan dan menguatkan istrinya untuk bersabar. Namun hingga menjelang kebebasannya si istri masih terus menggerutu dan mempersoalkan pilihannya itu. Dan ini membuat dirinya menjadi galau menjelang kebebasannya. Khawatir istrinya malah mendorongnya untuk kembali ke kelompoknya setelah bebas nanti, dan bukannya bersabar mendampinginya agar bisa lepas dari kelompok lamanya.

Banyak wanita yang memilih bersikap pragmatis. Mana yang lebih menguntungkan dan dapat diperoleh dalam waktu singkat itulah yang akan dipilihnya. Ketika sang suami tidak bisa membuktikan adanya jalan alternatif atau meyakinkannya, tak heran jika sang istri sulit menerima pilihan baru suaminya.

*****

Dari kisah di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa seorang istri bisa berperan penting dalam pilihan jalan yang diambil suaminya. Ia bisa menjadi pendukung bagi suaminya yang ingin keluar dari kelompok lamanya atau malah semakin memperkuat ikatan dengan kelompoknya atau menjadi ujian bagi suaminya yang ingin keluar dari kelompok lamanya seperti pada kisah di atas.

Inilah yang seharusnya menjadi perhatian masyarakat di sekitarnya. Ketika seorang napiter kembali ke masyarakat dengan pilihan barunya, ia harus mendapat dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Minimal dukungan moral. Hal itu sedikit banyak akan membantu menguatkan sang mantan napiter untuk memulai hidup baru yang berusaha meninggalkan pemahaman dan kelompok lamanya.

Sebuah contoh bagus ditunjukkan oleh istri salah satu kepala desa yang mana di desanya ada dua orang warganya yang menjadi napiter. Saya datang ke desa itu pertengahan Agustus kemarin.

Tak lama pasca terjadinya penangkapan para terduga teroris di desanya, beliau mengajak para istri terduga teroris yang kemudian menjadi napiter itu untuk ikut kegiatan ibu-ibu yang digagasnya, seperti kursus menjahit, merangkai bunga, berkebun, dll.

Beliau berpendapat bahwa kegiatan bersama seperti itu minimal akan mengikis trauma pada diri istri para napiter itu maupun pada warga masyarakat yang lain. Dengan harapan ketika trauma itu menghilang, masyarakat bisa saling mengerti dan kemudian siap membantu mengatasi persoalan yang dihadapi oleh para istri napiter.

Sebuah upaya yang patut dicontoh di tempat lain yang memiliki warga napi teroris. Bukannya malah dijauhi dan dikucilkan seperti yang masih terjadi di beberapa tempat lainnya.

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like