Memaknai 75 Tahun Kemerdekaan Indonesia Di Tengah Merebaknya Pandemi Covid-19

By

Oleh: Tjoki Aprianda Siregar*


Indonesia berusia tepat 75 tahun pada tanggal 17 Agustus ini. Jumlah populasinya berkembang hampir 4 kali lipat, dari sekitar 70 juta di awal kemerdekaan pada tahun 1945, menjadi kira-kira 270 juta saat ini. Bangsa Indonesia tumbuh menjadi bangsa multietnis dan multireligius yang cenderung harmonis hidup berdampingan dalam keberagaman, meski di beberapa daerah masih terdapat sejumlah komunitas yang sepertinya berobsesi hidup eksklusif dan tidak dapat menyembunyikan sikapnya yang kurang toleran.

Sebagai negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat besar, baik dalam ragam maupun jumlahnya, Indonesia dikenal memiliki keragaman hayati tinggi. Tanah Indonesia juga dikaruniai Tuhan dengan kekayaan mineral atau bahan tambang berharga seperti emas, minyak mentah, nikel, batubara, bauksit, tembaga, aluminium, dan gas, serta subur ditanami kopi, teh, karet, kelapa sawit, kakao dan rempah-rempah. Industri primer dan sekunder juga menjadi kekuatan Indonesia, menghasilkan produk-produk ekspor unggulan.

Gambaran di atas menunjukkan betapa besarnya potensi ekonomi Indonesia dan produksi nasional yang dapat dihasilkan. Produk domestik bruto (PDB) negara ini pada tahun 2019 adalah sebesar Rp. 15,834 triliun dan PDB per kapitanya  Rp. 59,1 juta atau  setara US$ 4,174, (Data BPS, diambil dari www.bps.go.id), atau tiap warga negara Indonesia memperoleh sekitar US$ 347,- per bulan. Namun, kenyataannya masih banyak rakyat Indonesia yang penghasilannya di bawah US$ 100 per bulan. Penyebabnya distribusi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi masih di pulau-pulau besar seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, namun belum di pulau-pulau lainnya.

Meski demikian, tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih termasuk yang tertinggi diantara negara-negara di dunia, rata-rata di atas 5 persen tiap tahunnya hingga tahun 2019. Merebaknya virus Corona atau Covid-19 ke berbagai negara mengakibatkan pertumbuhan Indonesia drop menjadi dua setengah persen lebih pada kuartal I tahun 2020 pertama kalinya, bahkan pertumbuhan ekonomi kita saat ini terjerembab menjadi minus 5,3 persen pada kuartal II tahun 2020

Meski telah memiliki kemampuan mengolah bahan baku pertanian seperti teh, kopi, karet, kelapa sawit, kakao dan rempah-rempah menjadi produk jadi, siap pakai atau konsumsi, memproduksi pupuk dan semen, namun untuk produk mineral atau bahan tambang, Indonesia belum sepenuhnya dapat menghasilkan seluruh hasil tambang menjadi produk jadi. Minyak mentah yang dieksplorasi dari sumur-sumur minyak Indonesia belum dapat dikilang seluruhnya oleh kilang-kilang minyak Pertamina, sehingga dikilang di luar negeri dan kembali ke Indonesia sebagai produk jadi impor. Tembaga dan emas yang dihasilkan dari “perut bumi” Tembagapura, Papua, masih belum produk jadi, sehingga perlu diolah lagi, namun belum ada smelter di Indonesia yang memungkinkan diolahnya hasil tambang tersebut menjadi produk jadi. Biaya relatif tinggi pembangunan kilang dan smelter antara lain menjadi penyebabnya.

Dibangunnya jaringan jalan di pulau-pulau besar seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan bahkan Papua, bandar-bandar udara hingga kabupaten terluar Indonesia, serta dibangunnya pelabuhan-pelabuhan laut dalam dan pengoperasian kapal-kapal pemumpang dan barang antar pulau, telah mendekatkan warga Indonesia satu sama lain berkat konektivitas tersebut. Masalah harga bahan-bahan kebutuhan pokok dan bahan bakar yang semula melambung tinggi karena susah pasokannya dan sangat terbatas ketersediaannya dapat teratasi, dengan harga bahan bakar minyak di Papua yang dulu per liternya sangat mahal, dapat di atas Rp. 45,000,-/liter, saat ini harganya tidak berbeda jauh berbeda dengan di Jakarta yang per liternya dalam kisaran Rp. 9,000,- – Rp. 10,000,-.

Rakyat Indonesia umumnya dikenal sebagai warga yang ramah, bersahabat, peduli dengan sesama, dan berjiwa gotong royong. Namun di lain sisi, di masa lampau, sebagian dari mereka cenderung bersikap permisif, cepat puas, cenderung tertutup, dan lebih senang berada di “comfort zone“.

Terkait aspek sumber daya manusia Indonesia ini, UNDP dalam laporan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2019 yang dirilis pada Desember 2019 menunjukkan peningkatan IPM Indonesia menjadi 0,707, kategori yang cukup tinggi di Asia Pasifik. Dibandingkan dengan IPM Indonesia tahun 1990, yakni 0,525 ( Safitri, Kiki, UNDP: Untuk Pertama Kalinya, IPM Indonesia Masuk Kategori Tinggi, Kompas.com, 10 Desember 2019.), peningkatan terjadi karena semakin membaiknya indikator pendidikan, fasilitas kesehatan, dan ekonomi Indonesia selama kurun waktu hampir 30 tahun.

Globalisasi dan kemajuan teknologi dalam 20 tahun terakhir telah memungkinkan orang untuk berkomunikasi meski terpisah jarak ribuan kilometer dan membuka diri. Penemuan gelombang elektromagnetik memungkinkan komunikasi telepon seluler, mengirimkan pesan, gambar tidak bergerak, suara, dan berbicara langsung dengan visual masing-masing. Indonesia tumbuh berkembang menjadi salah satu negara pengguna telepon seluler terbanyak dunia, dengan jumlah unit telepon seluler 142% dari populasi penduduknya pada tahun 2016 (Data wearesocial.sg sebagaimana termuat di situs databoks.katadata.co.id, Jan 2017). Artinya tiap penduduk Indonesia menggunakan 1,4 telepon seluler. Indonesia juga merupakan salah satu negara dengan pengguna internet terbanyak di dunia, dengan jumlah 132,7 juta  sekitar 51% dari populasi.

Berkembangnya media sosial di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, berimplikasi dua sisi mata uang, diperolehnya pengetahuan yang bermanfaat di satu sisi, dan informasi yang menyesatkan atau hoaks dan berita palsu. Materi yang disampaikan melalui media sosial dimanipulasi seakan benar bersumber dari ajaran agama, namun sesungguhnya telah “ditumpangkan” muatan radikal yang membenarkan penggunaan kekerasan terhadap mereka yang tidak mau menerima “kebenaran” materi tersebut. Hoaks dan berita palsu yang menyesatkan pengguna media sosial, dan materi ajaran agama yang telah dimanipulasi menjadi tantangan serius bagi Indonesia hingga usianya yang ke-75 tahun saat ini.

Radikalisme atau terorisme merupakan tantangan serius lainnya Indonesia sejak era revolusi kemerdekaan tahun 1945-1949 dan 1950 hingga 1965 dengan aksi-aksi teror kelompok DI/TII, aksi bersenjata kelompok Imran terhadap Polsek Cicendo tahun 1970-an, pembajakan pesawat Garuda “Woyla” tahun 1981, bom Bali I tahun 2002, bom di depan Kedubes Australia di Jakarta, bom Bali II tahun 2005, dan lain sebagainya. Konservatisme kelompok agama tertentu yang mengusung visi kekhilafahan yang melakukan aksi-aksi unjuk rasa yang cenderung berakhir dengan kekerasan selalu terjadi di Jakarta dalam lima tahun terakhir.

Di mandala yang lebih luas, para pendiri Republik ini aktif mengupayakan pengakuan pemerintah negara-negara sahabat terhadap Indonesia di era revolusi kemerdekaan. Indonesia diterima secara aklamasi sebagai anggota ke-60 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September 1950, berinisiatif menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika pada April 1955 di Bandung, mendukung pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) I Gerakan Non-Blok (GNB) di Beograd, Yugoslavia, tahun 1961, menjadi tuan rumah Asian Games IV tahun 1962, dan Games of New Emerging Forces (GANEFO) pada tahun 1963. Di tengah suasana tegang Perang Dingin, Indonesia dan empat negara Asia Tenggara lainnya menyepakati pembentukan ASEAN pada 8 Agustus 1967 yang disepakati mengusung cita-cita mewujudkan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di Asia Tenggara.

Indonesia terus aktif di ASEAN, berperan strategis sebagai tuan rumah KTT ASEAN di Bali tahun 1976 dengan negara-negara ASEAN menyepakati Treaty of Amity and Cooperation (TAC) sebagai instrumen yang perlu diaksesi setiap negara eksternal ASEAN yang ingin terlibat dalam forum-forum berkala ASEAN, menjadikan Asia Tenggara kawasan bebas senjata nuklir melalui SEANWFZ, dan kawasan damai, bebas, dan netral via ZOPFAN. Indonesia juga berperan vital ketika menjadi tuan rumah KTT ASEAN di Bali tahun 2003 yang muncul dengan kesepakatan negara-negara ASEAN untuk mewujudkan visi Masyarakat ASEAN.

Indonesia juga aktif di forum kerja sama ekonomi Asia Pasifik, APEC, kerja sama kemitraan ASEAN dalam kerangka East Asia Summit (EAS), ASEAN Regional Forum, ASEAN Plus One, dan ASEAN Plus Three, serta yang terkini adalah Indian Ocean Rim Association (IORA) dan Indo-Pasifik. Indonesia turut aktif dalam pemeliharaan perdamaian dunia, rutin mengirimkan kontingen pasukan Garuda ke berbagai wilayah konflik atau perang saudara. Indonesia saat ini negara anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB ke-4 kalinya untuk periode tahun 1999-2001.  

Sementara itu, selama 32 tahun Orde Baru, Indonesia telah bertransformasi dari negara agraris miskin menjadi negara industri berorientasi ke pertanian. Indonesia juga berhasil memperkuat fundamental makroekonomi, mikroekonomi, serta sistem moneternya. Sebelum krisis moneter tahun 1997/1998, nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing, utamanya Dolar AS, cenderung stabil. Dampak krisis moneter begitu dahsyatnya sehingga nilai tukar Rupiah “jatuh bebas” hingga lebih dari Rp. 15,000 meski selanjutnya terkoreksi dalam kisaran Rp. 13,000,- – Rp. 14,000,- per satu Dolar AS. Beruntung fundamental makroekonomi dan mikroekonomi Indonesia cukup kuat. Di era reformasi, krisis ekonomi serupa terjadi pada tahun 2008, namun funfamental ekonomi Indonesia tetap kokoh.

Masuknya Indonesia ke dalam kelompok negara-negara G-20 atau dengan produk domestik bruto (PDB) terbesar dunia merupakan capaian tersendiri bagi Indonesia. Dengan menjadi negara G-20, Indonesia sekelompok dengan negara-negara yang PDB-nya besar di dunia seperti Amerika Serikat, Tiongkok, India, dan Brazil. Standing Indonesia di dunia internasional meningkat signifikan. Demikian pula leverage-nya, sebagai negara G-20, Indonesia dipastikan akan didengar aspirasinya.

Di sisi lain, sikap sebagaian masyarakat di tanah air yang lebih memikirkan memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari daripada mengikuti perkembangan terkini diperkirakan menjadi salah satu penyebab utama rendahnya tingkat literasi masyarakat Nusantara terhadap isu-isu terkini, termasuk pesan pemerintah yang perlu mereka ikuti.

Dalam kaitan ini, pemberlakuan “New Normal” oleh pemerintah setelah 5 bulan Covid-19 merebak di tanah air, tampak direspons keliru oleh warga di sejumlah daerah dengan keluar rumah, berkerumun di pasar tradisional dan tempat umum, mengindikasikan mereka menganggap “New Normal” berarti kembali ke kehidupan normal di masa lalu.

Tidak mengherankan apabila jumlah mereka yang ditengarai positif Covid-19 terus meningkat saat ini hingga menembus lebih dari 100,000 orang pasca-pemberlakuan kehidupan “Normal Baru”, dengan dipulihkannya kembali operasi angkutan umum dan aktivitas perekonomian, termasuk perdagangan, industri dan perkantoran. Munculnya kluster-kluster baru di sejumlah perkantoran.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sepertinya sangat mengkhawatirkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi minus, berpotensi terjadi resesi, dengan pekerja pabrik tetap dirumahkan, dan aktivitas perkantoran terus ditiadakan. Shinta Kamdani, salah satu Pimpinan KADIN Indonesia telah menyampaikan pada Maret tahun ini ke media, apabila aktivitas produksi dan ekonomi dikurangi tanpa diiringi pendapatan usaha yang normal, kemampuan pengusaha membayar gaji karyawannya diperkirakan hanya hingga 3 bulan saja atau hingga Juni 2020 (Kumparan BIsnis, Curhat Pengusaha yang Hanya Kuat Tahan dari Corona sampai Juni 2020, Kumparan, 10 April 2020). Tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I tahun 2020 drop hingga 2,84% (Ulya, Fika Nurul, Pertumbuhan Ekonomi RI Diprediksi Minus 4,72 Persen di Kuartal II 2020, Kompas.com, 3 Agustus 2020) dibanding pada semester atau tahun sebelumnya yang senantiasa di atas 5 persen.

Perkembangan pandemi Covid-19 yang masih menghantui dunia, perlambanan laju ekonomi global dan pertumbuhan ekonomi yang drop, dan jumlah warga Indonesia yang terpapar terus meningkat dinilai penulis sebagai wujud cobaan Tuhan Yang Maha Kuasa yang mustahil dapat dinafikkan.

Karenanya bukan pada tempatnya apabila kita memaknai 75 tahun kemerdekaan Indonesia dengan merayakan ulang tahun kemerdekaan dengan pesta kembang api atau pesta musik semata yang bersifat selebrasi. Memaknai Ulang Tahun Platinum kemerdekaan Indonesia sejatinya adalah dengan ekspresi apresiasi segenap anak bangsa terhadap capaian pembangunan saat ini, kontemplasi atas ups and downs yang pernah atau telah dialami Indonesia, introspeksi terhadap sikap mental kita selama ini, kebesaran hati untuk mengakui kekurangan yang ada, membangkitkan kesadaran pentingnya literasi, memantapkan tekad mempertahankan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), komitmen untuk terus berupaya memajukan kebudayaan Nasional, termasuk kebudayaan daerah dan kearifan setempat, menguatkan pendidikan karakter untuk mewujudkan Generasi Emas tahun 2045, atau pemimpin-pemimpin Indonesia yang disegani dunia internasional dan memiliki kenegarawanan pada saat Indonesia berusia satu abad.

 

*(ASN pada Kementerian Luar Negeri. Pokok-pokok Opini semata pendapat pribadi yang bersangkutan, tidak merepresentasikan pandangan lembaga tempatnya bekerja)

Referensi:

  1. Data BPS, diambil dari www.bps.go.id
  2. Data wearesocial.sg sebagaimana termuat di situs databoks.katadata.co.id, Jan 2017
  3. Kumparan BIsnis, Curhat Pengusaha yang Hanya Kuat Tahan dari Corona sampai Juni 2020, Kumparan, 10 April 2020.
  4. Safitri, Kiki, UNDP: Untuk Pertama Kalinya, IPM Indonesia Masuk Kategori Tinggi, KOmpas.com, 10 Desember
  5. Ulya, Fika Nurul, Pertumbuhan Ekonomi RI Diprediksi Minus 4,72 Persen di Kuartal II 2020, Kompas.com, 3 Agustus 2020.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like