Jati Diri Desa sebagai Basis Produksi Pangan harus dikembalikan

By

Desa harus dikembalikan jati dirinya sebagai basis produksi pangan. Gaya hidup konsumtif harus pelan-pelan digeser menjadi gaya hidup produktif untuk bisa membangun ketahanan pangan. Pandemi Covid-19 harus bisa dijadikan refleksi sekaligus momentum perubahan itu.

“Artinya ada yang tidak normal di masa sebelumnya, lebih suka konsumsi daripada produksi. Gaya hidup yang tidak normal itu yang kena, makanya di pandemi ini lebih parah di kota (kena dampak) dibanding di desa. Angka kemiskinan di kota naik, namun di desa malah turun,” ungkap Founder bumdes.id Rudy Suryanto saat diwawancarai ruangobrol.id via telepon, Minggu 16 Agustus 2020 siang.

Rudy melihat, pandemi ini adalah momentum tepat untuk memulai perubahan itu. Sebab, saat ini ada fenomena orang-orang dari kota kembali ke desa, bukan dari desa ke kota seperti sebelumnya terjadi.

Artinya, pandemi ini menyadarkan bahwa kehidupan yang seimbang, yang baik adalah kehidupan yang selaras dengan alam.

“Fenomena berbalik, ini kan koreksi pada perilaku kita yang eksploitatif. Begitu di PHK balik ke desa,” lanjutnya.

Rudy menyebut untuk bisa membangun ketahanan pangan itu, perlu langkah-langkah mulai dari melihat kembali potensi desa, baik sumber daya alam maupun manusianya, pengelolaan yang baik, hingga membangun jejaring. Mindset pangan harus beras juga harus digeser, disesuaikan dengan potensi masing-masing wilayah.

Potensi lainnya, sebut Rudy, mulai 5 tahun terakhir ini ada perhatian besar pemerintah kepada desa lewat dana desa. Ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin, tentunya berjejaring dengan perkotaan.

“Ini sebenarnya kalau ketemu bisa ada dua dampak, lahan dikelola maka pengangguran bisa terserap lewat padat karya tunai dana desa, kemudian dikemas kreatif BUMDes dengan digital marketing maka akan mendukung kota. Inilah ekonomi yang seimbang, desa produksi kota yang mengolah. Harapannya pandemi ini menyeimbangkan,” lanjutnya.

Naikkan value dari aspek sejarah

Rudy bercerita apa yang dilakukan di Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI Abdul Halim Iskandar pada Sabtu 15 Agustus 2020 kemarin meresmikan PT. Pasar Desa Indonesia di sana.

Rudy bercerita, refleksi dari Desa Guwosari sebelumnya adalah daerah rawan pangan, sebab tidak bisa mandiri mencukupi kebutuhan pangan warganya. Ada lahan rusak luasnya 1,5 hektar karena penggunaan pupuk urea berlebih dan 5,5 hektar lahan belum dimanfaatkan.

Akhirnya muncul inovasi untuk memperbaiki dan mengolahnya. Sayuran sudah mulai bisa ditanam dan dalam waktu dekat sudah bisa untuk tanam padi, ini juga didukung dari Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Tak kalah penting, sebut Rudy, produk di sana juga harus dinaikkan valuenya. Ini bisa melalui aspek sejarah dan kearifan lokal. Misalnya soal potensi padi dalam hal ini padi gogo mengingat kondisi geografis di sana.

Desa Guwosari tersebut lokasinya di balik Gua Selarong yang punya histori sendiri yakni ketika Pangeran Diponegoro bariskan pasukannya selama bertahun-tahun saat perang (Perang Jawa). Bertahun-tahun di sana pastinya Pangeran Diponegoro sudah punya sistem logistik sendiri, sistem pertanian sendiri.

“Inilah yang mau dihidupkan lagi, kearifan lokal, zaman Diponegoro saja bisa. Ini jadi pembelajaran, semangat juang kemandirian,” tandasnya.

 

FOTO:

Rudy Suryanto (dua dari kanan – kaus hijau) saat menghadiri persemian PT. Pasar Desa Indonesia di Desa Guwosari, Kecamatan Pajang, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu 15 Agustus 2020.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like