teroris

Teroris Perempuan Masih Bergantung Kepada Laki-laki

By

Peneliti Terorisme dari RSIS Singapura Unaesah Rahmah menilai ada evolusi perempuan di Jaman ISIS. Menurut Unaesah pada jaman ISIS perempuan lebih aktif menjadi pelaku teror di mana hal itu tidak ditemui ketika jaman Al Qaedah.

Menurut Unaesah perempuan di jaman ISIS mereka bisa menjadi pelaku bom bunuh diri. Pelaku bom bunuh diri terbagi menjadi dua, yaitu pelaku bom diri tunggal sepert pada kasus Dian Yulia Novi yang hendak menyerang Istana Negara pada tahun 2016 lalu. Dan pelaku bom bunuh diri keluarga seperti pada kasus teror Bom Gereja Surabaya pada tahun 2018 dan dalam kasus Bom Gereja Jolo Filiphina pada tahun 2019 lalu.

“Ada evolusi peran prempuan di jaman ISIS. Mereka lebih aktif menjadi pelaku teror. Mereka bisa menjadi pelaku terors, seperti pelaku bom bunuh diri,” kata Unaesah dalam diskusi online “Perempuan dalam Terorisme dan Solusinya” yang diselenggarakan Pusat Kajan Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR) dan Ruangobrol belum” lama ini.

Lebih lanjut Unaesah menjelaskan berdasarkan catatannya perempuan yang terlibat dalam aksi terorisme berperan sebagai Pelaku Penyerangan dengan Senjata Tajam. Hal itu misalnya terjadi pada pada kasus Siska dan Dita yang hendak menyerang polisi ketika kerusuhan Mako Brimob terjadi pada tahun 2018 lalu. Selain kasus perempuan sebagai penyerang terjadi dalam kasus Fitri Andriana yang terlibat kasus penyerangan Wiranto Menkopolhukam ketika itu.

Perempuan menurut Unaesah bisa juga menjadi kombatan. Kasus itu terjadi pada Umi Delima (Istri Santoso) yang terlibat dalam kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Selain itu Perempuan juga bisa berperan sebagai pencari dana dalam kasus terorisme. Bisa juga perempuan berperan sebagai propagandis yang menyebarkan konten-konten propaganda di media sosial maupun secara langsung tatap muka melalui pengajian atau taklim.

“Selain menjadi pelaku Bom Bunuh diri perempuan bisa juga jadi attacker, bisa menjadi kombatan. Bisa juga perempuan berperan sebagai fundriser atau pencari dana,” jelasnya

Karena itu lanjut Unaesah, Perempuan dalam kasus terorisme tidak lagi hanya menjadi korban. Perempuan saat ini sudah dilihat sebagai aktor aktif yang mempunyai motivasi sendiri. Motivasi perempun dalam melakukan serangan teror bisa dikarenakan ingin membalaskan dendam terhadap kawan-kawannya sesama jihadi yang ditembak atau ditangkap oleh aparat polisi yang mereka anggap sebagai Anshor Toghut.

“Pembahasan kedua, adalah motivasi dan agensi. Membahahas perempuan tidak lagi menjadi korban dalam kelompok teror. Perempuan dilihat sbagai aktor yang aktif, dan punya motivasi sendiri. Kita bisa melihat perempuan dan motivasi hampir sama dengan laki-laki seperti, motif ekonomi, politik dan ideologi,” imbuhnya

Masih kata Unaesah, meskipun perempuan terlibat dalam kasus teror, tapi perlu melihat sejauh mana keterlibaan perempuan misalnya dalam persiapan serangan. Biasanya walaupun sebagai pelaku teror, mereka masih tergantung dengan jaringan laki-laki, atau biasanya suami mereka.

Misalnya dalam kasus Umi Delima, Umi Fadil, Nurmi Osman yang terlibat kelompok MIT aktor pentingnya adalah Santoso (Meninggal dunia). Sementara Dian Yulia Novi yang hendak menyerang istana dengan bom bunuh diri tak lepas dari peran suaminya Nur Solikhin dan Bahrun Naim. Mereka berdua lah yang menentukan target dan mencari orang yang bisa meracik bom.

“Begitu juga bom bunuh diri Sibolga tak bisa lepas dari peran suaminya Abu Hamzah. Ika Puspita Sari tak bisa lepas perannya dari Abu Jundi. Atau Fitri yang menyerang Pak Wiranto yang menentukan target adalah suaminya sendiri Abu Rara. Namun dia mengaku ada kasus pengecualian seperti dalam kasus Ika dan Dita dan Sista yang hendak menyerang polisi di Mako Brimob,” jelasnya

Karena itu Unaesah dari beberapa kasus yang akan dilakukan oleh Perempuan, dia berkesimpulan bahwa Perempuan pelaku teror masih bergantung pada laki-laki, biasanya suami mereka. Biasanya ketergantungan itu berupa menentukan target dan merakit Bom. Walaupun dalam beberapa kasus ditemukan perempuan yang berinisiatif sendiri dan tidak menunggu instruksi dari laki-laki.

Sementara itu Pembicara Peneliti Terorisme dari IPAC Dyah Ayu Kartika (Kathy) memaparkan hasil temuan sementara dari riset yang ia susun terkait napiter perempuan. Beberapa isu tentang perempuan dalam penjara, seperti mengasuh bayi dalam lapas dan kesehatan mental, menjadi hal yang menarik untuk dibahas dalam kaitan dengan kekerasan ekstremisme. Selain itu menurut Kathy meski jumlah pelaku teroris perempuan terus meningkat, namun dari sisi program reintegrasinya, belum ada program yang khusus untuk perempuan.

Sementara itu Direktur Eksekutif Serve Siti Darojatul Aliah menyampaikan pengalamannya mendampingi deportee dan returnee perempuan yang pulang dari Suriah. Dia mengusulkan agar Perketat pengawasan perbatasan dengan Negara tetangga. Selain itu Imigrasi harus diperketat terutama terhadap orang terindikasi menjadid bagian dari kelompok ekstremis kekerasan.

Selain itu dia mengusulkan agar melakukan kerjasama international dalam penanganan kasus FTF.Dia juga mengusulkan agar lebih memperhatikan perempuan agar tidak tidak termakan propaganda kelompok radikal.

“Saya kita yang juga penting. Yaitu Membuka post-post pendampingan di negara BMI bekerja.Seperti misalnya di Taiwan, Hongkong atau pun Singapura. Bekerjasama dengan Menaker dan biro tenaga kerja untuk pembekalan bagi BMI yang akan bekerja diluar negeri. Menyebarkan narasi positif dikantong-kantong buruh migran,” usul sosol yang akrab disapaMbak Dete tersebut.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like