porter-kereta-api-ruangobrol

Nasib Porter Kereta Api Di Tengah Pandemi

By

Semenjak diberlakukannya pembatasan transportasi massal, rupanya tak saja berimbas pada masyarakat pengguna saja. Tapi hal ini juga rupanya turut dirasakan para porter yang selama ini menjual jasa bantu mengangkat barang-barang di stasiun kereta api.

Di hampir seluruh stasiun, hampir tidak ditemukan satu pun porter yang biasanya hilir mudik di sepanjang area stasiun. Kondisi ini seperti yang penulis lihat sendiri saat menggunakan moda transportasi kereta untuk pertama kali semenjak dinon aktifkan sejak hampir 3 bulan lalu.

Akibat ketiadaan para porter ini, banyak penumpang kereta yang terpaksa membawa sendiri barang-barang bawaannya.

Untuk diketahui, PT. KAI mulai berhenti operasi sejak Jum’at (24/4). Hal ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 tanggal 23 April 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Musim Mudik Idul Fitri 1441 H.

Berdasarkan surat tersebut, PT KAI memutuskan untuk menghentikan seluruh perjalanan KA pada masa mudik dan balik Lebaran. Kebijakan tersebut dibuat sebagai langkah untuk memutus rantai persebaran wabah virus corona.

Profesi seorang porter memang terkadang sering dianggap rendah dan remeh. Kenyataannya, saat kondisi bawaan banyak, maka disitulah jasa seorang porter sangatlah berarti.

Barangkali ini yang dirasakan betul oleh seorang ibu yang juga penumpang KAI jurusan Yogyakarta – Kroya, Cilacap. Ia membawa satu tas besar dan 2 kardus dengan beban berat. Ditambah juga tentangan makanan dan tas ransel. Karena tidak ada satu pun porter, ia terpaksa mengangkat sendiri bawaannya satu persatu dengan cara diseret. Hingga akhirnya, ada seorang penumpang yang juga turun di stasiun tersebut dan beberapa sekuriti mencoba untuk membantunya.

Kenyataan ini tentu tidak banyak diperhatikan oleh banyak orang. Ketika sebagian kalangan termasuk para selebritis tanah air sibuk memberikan bantuan sosial kepada para pengemudi ojek daring, ada profesi lain yang juga turut terdampak dengan adanya wabah pandemi ini.

Saat para ojek daring tidak bisa mengangkut penumpang lagi akibat adanya kebijakan PSBB, pihak perusahaan daring masih memberikan alternatif lain dengan membuka jasa pelayanan antar barang dan makanan. Namun profesi sebagai porter yang menjadi lahan mengais rizki, jelas tidak ada alternatif pilihan lain yang bisa dilakukan.

Wawan (34) seorang sekuriti yang bertugas di Stasiun Purwokerto yang sempat ditemui oleh salah satu tim dari Ruangobrol.id pada Minggu (28/6) menjelaskan, bahwa semenjak tidak lagi beroperasi, maka otomatis para porter pun berhenti.

Iya mas, (porter) sudah nggak boleh. Resikonya ya, penumpang kalau bawa barang ya harus dibawa sendiri.” Jelas Wawan.

Hingga kini, meski PT. KAI (Persero) sudah mulai beroperasi kembali kereta reguler jarak jauh sejak 12 Juni lalu, peraturan pembatasan masih tetap diberlakukan sesuai dengan protokol kesehatan. Termasuk salah satunya jasa pengangkutan barang atau porter. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya interaksi secara langsung dengan penumpang.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like