The Butterfly Effect: Sesuatu yang Kecil Berdampak Besar Kemudian

By

Ketika melihat kupu-kupu, kebanyakan orang mungkin sepakat bahwa hewan ini adalah salah satu wujud keindahan, kesabaran, dan perjuangan. Filosofi ini diambil dari proses metamorfosis yang dijalani olehnya dari telur hingga menjadi seekor kupu-kupu yang indah.

Tapi pernahkah kita mendengar sebuah teori mengerikan yang berkaitan dengan kupu-kupu? Mungkin ada yang pernah dengar Butterfly Effect? Atau Chaos Theory?

Butterfly Effect atau disebut juga Chaos Theory adalah asumsi atau dugaan bahwa perubahan kecil suatu hal yang kecil dan non-linier bisa saja mempengaruhi sesuatu secara massal. Hal ini diibaratkan sebagaimana kepakan sayap kupu-kupu di Brazil dapat menyebabkan badai tornado di Amerika Serikat

Mungkinkah?

Teori ini awalnya di kemukakan oleh seorang ilmuwan bernama Edward Norton Lorenz pada tahun 1961 di sela-sela pekerjaannya sebagai peneliti meteorologi. Ia mencoba menghitung cuaca (meramal cuaca dengan statistik) dengan angka-angka desimal dalam waktu berkala. Di waktu yang ditentukan, ia mendapatkan hasil yang sangat berlainan di beberapa kali percobaan, sehingga ia mendapati kesimpulan bahwa segala sesuatu memiliki ketergantungan yang sangat besar pada kondisi awal.

“It has been said that something as small as the flutter of a butterfly’s wing can ultimately cause a typhoon halfway around the world” -begitu ungkapan Edward Lorenz.

Pada 29 Desember 1972, Lorenz berpidato di Pertemuan ke-139 The American Association for the Advancement of Science di Washington DC, Amerika Serikat. Lorenz mengemukakan pertanyaan penting, apakah kepak sayap kupu-kupu di Brazil bisa mengakibatkan sebuah tornado di Texas? Pesan utama dari pembicaraan tersebut adalah bahwa perilaku atmosfer tidak stabil sehubungan dengan gangguan amplitudo kecil.

Metafora tersebut memberikan ilustrasi ideal tentang hal kecil yang bertentangan dengan hal besar tetapi menimbulkan dampak. Pertanyaan tersebut adalah sebuah metafora. Yang menjelaskan bahwa perubahan dan tindakan kecil dapat mengarah pada hasil yang tak disangka.

Penggunaan istilah Butterfly Effect tidak hanya digunakan dalam studi tentang cuaca. Tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang menggunakan istilah Butterfly Effect untuk menjelaskan aksi kecil dapat memulai rangkaian peristiwa yang menyebabkan efek lebih besar dan tidak terduga.

Butterfly Effect bisa terlihat dari peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Misal, tentang cara memperlakukan orang lain. Ketika kita mengatakan sesuatu yang baik kepada seorang teman, bisa jadi akan menimbulkan efek besar di kemudian hari. Begitu pula sebaliknya, bisa jadi kalimat negatif yang kita katakan pada teman, akan menimbulkan dampak besar di masa depan.

Sampai hari ini seringkali peristiwa besar yang mengguncang dunia disebabkan oleh sesuatu yang sepele. Contoh terbarunya adalah gerakan demo besar-besaran di Amerika Serikat memprotes rasisme terhadap kulit hitam. Demo itu dipicu oleh tewasnya George Floyd seorang pria kulit hitam di tangan aparat kepolisian kulit putih. Dan tewasnya Floyd berawal dari laporan bahwa dirinya membeli rokok dengan pecahan 20 dolar palsu.

Luar biasa bukan? Selembar uang 20 dollar bisa mengguncang Amerika dan memusingkan Donald Trump.

Dalam dunia terorisme dan radikalisme pun demikian. Terkadang seseorang bisa menjadi teroris karena sebuah hal yang sepele. Kapan-kapan kita bahas di tulisan berikutnya.

(Diolah dari berbagai sumber)

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like