peran-bapak-ada-anak-bertanya-pada-bapaknya

Ada Anak Bertanya pada Bapaknya ….

By

Di pagi hari pada masa normal baru, orang-orang mulai kembali menampakan batang hidupnya di jalanan perumahan atau kompleks rumah. Sebenarnya ketika masa karantina juga ada yang keluar rumah untuk menghirup udara segar, berolahraga, bersepeda, dan berjemur. Tapi, tidak sebanyak sekarang ini. Pagi itu, saya bersepeda dan berpapasan dengan seorang bapak yang bergandengan tangan dengan anak lelakinya yang masih kecil berjalan menaiki jalanan menanjak.

Mereka berdua terlihat memakai masker. Ketika melihat mereka berdua, saya menuruni jalan teringat akan sebuah lagu dari band Bimbo, “Ada Anak Bertanya pada Bapaknya”. Entah kenapa lirik itu tiba-tiba hadir di kepala saya. Sebuah lagu yang menceritakan seorang anak bertanya kepada bapaknya perihal puasa, tilawah atau tadarus, tarawih kemudian sang bapak memberikan penjelasan singkat dan jelas kepada anaknya.

Dari lagu Bimbo ini, saya teringat kembali (Duh, kerjaannya teringat mulu. Jangan sampe teringat kenangan mantan aja. Bahaya!) ketika mengobrol dengan salah satu peneliti yaitu Bapak Noor Huda Ismail, tentang peran bapak dalam mendidik keluarga. Saya pernah menyampaikan dalam kisah saya ke Suriah. Ketika masa-masa galau, ketika masih remaja yang sedang mencari jati diri, sedang semangat belajar agama, dan menurut saya juga ada faktor dari absennya ayah dalam membimbing keluarga apalagi dalam urusan agama. Dalam pandangan saya waktu itu, saya tidak melihat sosok pemimpin yang dapat membimbing keluarga menuju surga. Oleh karena itu, saya lebih memilih dan mempercayai orang-orang “beragama” di medsos yang menyampaikan dalil-dalil karena mereka pasti benar. Ini merupakan sedikit latar belakang dari film dokumenter Seeking The Imam dari Prasasti Production.

Waktu itu Pak Noor Huda memberitahu saya sebuah surat di Al-Quran, yaitu surat Luqman.
Luqman mengajarkan banyak hal kepada anaknya. Mulai dari tauhid, bersyukur kepada Allah, berbuat baik pada orang tua, kesabaran, larangan sombong, pelajaran-pelajaran dalam hidup, alam semesta dan masih banyak lagi. Surat Luqman ayat 12-19. Ketika disampaikan tentang Surat Luqman saya langsung mikir, “Wah, iya juga ya.”

Mungkin setiap kita punya pengertian yang berbeda. Mungkin nanti ada yang berkata, “Bagaimana dengan seorang bapak yang harus jauh dari anaknya berbulan-bulan untuk mencari nafkah?”, “Kan nafkah juga kewajiban”, “Keluarga miskin bisa apa? “, dan anggapan lainnya.

Di sini pun saya tidak hendak menyalahkan siapa-siapa. Saya pun juga belum menjadi orang tua. Tapi, saya coba merefleksikan dari kisah pengalaman hidup saya yang lalu, dan tiap orang punya kisah yang berbeda.

Sesibuk apa pun kita, diusahakan untuk dapat menyempatkan waktu bersama keluarga dan anak. Menyempatkan berbicara semua hal. Mulai dari yang remeh-temeh sampai yang serius. Berat? Banget.

Dari sini saya juga belajar secara perlahan bahwa dalam mendidik atau memelihara atau membimbing anak dan keluarga adalah tugas kedua belah pihak. Bukan hanya ibu atau bukan hanya ayah.

Karena saya sangat berharap orang tua atau keluarga benar-benar bisa menjadi tempat untuk diajak berdiskusi atau bertanya. Maksudnya, ketika anak punya pertanyaan akan suatu hal larinya ke orang tua dulu, baru kemudian cari jawabannya bareng-bareng. Cari bersama di internet atau bertanya bersama ke orang yang berilmu.

Karena seperti yang kita ketahui, kelompok-kelompok ekstrimis kekerasan di dunia maya sering sekali hadir sebagai jawaban atas kekhawatiran, kagalauan, kegelisahan, pertanyaan, kekecewaan orang-orang terhadap suatu hal. Sehingga mudah sekali kita atau anak-anak muda terkena ajakan mereka.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like