Perjalanan di Era New Normal: Bersepeda Motor 300 Km dan Rela Makan Roti demi Jaga Diri

By

Sebuah pemberitahuan misi datang di awal bulan ini yang menyatakan bahwa di akhir bulan nanti saya harus mendapatkan data awal yang dibutuhkan untuk kelanjutan sebuah program. Dan untuk mendapatkan data-data itu saya mau tidak mau harus menemui beberapa kepala desa/kelurahan di wilayah Probolinggo, Jawa Timur.

Fasilitas yang disetujui untuk digunakan salah satunya boleh menyewa mobil plus driver jika angkutan umum masih belum tersedia. Namun atas alasan kepraktisan dan efisiensi serta menuruti jiwa petualang saya, saya mengajukan untuk menyewa motor saja.

Ketika saya berangkat tanggal 15 Juni yang lalu, sebenarnya angkutan umum sudah mulai jalan, termasuk kereta api jarak jauh. Namun karena harus pindah-pindah moda transportasi dan di dalam angkutan pun belum tahu sedisiplin apa dalam menjaga jarak, ditambah lagi saya harus melewati kota dengan zona nyaris hitam (Surabaya), saya memilih ber-solo ride ke tempat tujuan. Meskipun harus menempuh jarak nyaris 300 km tapi lebih aman.

Perjalanan kali ini adalah perjalanan naik motor terpanjang sejak saya bebas dari penjara. Dulu sewaktu di Kalimantan tahun 2013-2014, jarak 250 km biasa saya tempuh setiap dua minggu sekali. Dari sisi medan tempuh, medan kali ini lebih berat dari di Kalimantan. Jika di Kalimantan itu jalannya datar-datar saja, maka kali ini harus melewati hutan bebukit dan jalan berkelok karena saya tidak mengambil rute yang melewati Gresik-Surabaya-Pasuruan yang cenderung datar.

Saya memilih rute Bojonegoro-Lamongan-Jombang-Mojokerto-Pasuruan-Probolinggo. Soal jalan yang bergelombang Kalimantan sedikit lebih parah. Di sini banyak juga yang bergelombang tapi tidak separah di Kalimantan.

Bekal yang saya bawa adalah air minum, hand sanitizer, tisu, dan roti untuk pengganti makan di perjalanan. Saya sedapat mungkin menghindari makan di warung demi menghindari kontak lama dengan oran lain. Sekali lagi kedisiplinan dalam menerapkan protokol pencegahan penyebaran Covid-19 masih saya ragukan di tempat-tempat makan kelas menengah ke bawah. Saya berencana baru akan makan di restoran cepat saji yang terkenal dengan layanannya setiba di kota tujuan.

Mengapa saya meragukan penerapan protokol pencegahan penyebaran Covid-19 di angkutan umum dan di warung-warung kelas menengah? Alasan utamanya adalah karena era new normal itu baru saja dimulai, masih banyak yang baru pada tahap sosialisasi. Mungkin jika sudah berjalan beberapa bulan barulah saya akan berubah pikiran.

Dari lima SPBU yang saya singgahi, ada tiga SPBU yang petugasnya saya lihat menegur pembeli yang tidak memakai masker. Sisanya tidak tahu karena kebetulan yang mengantri bermasker semua. Pun ketika di toilet SPBU. Dari dua SPBU yang saya gunakan toiletnya, hanya satu yang dijaga dan penjaganya mengingatkan agar cuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah menggunakan toilet.

Sesampainya di kota tujuan, saya survei beberapa tempat makan yang ada di sekitar penginapan. Semua belum sepenuhnya menerapkan protokol pencegahan penyebaran Covid-19, terutama untuk menjaga jarak. Semua tidak ada yang menjaga jarak aman. Kalau untuk cuci tangan sih disediakan di depan setiap warung, tetapi kesadaran pengunjung baru 50% yang menggunakannya. Hal yang lebih parah saya lihat di warung kopi sebelah penginapan. Nyaris tidak ada pengunjung yang peduli untuk cuci tangan padahal sudah disediakan. Juga soal menjaga jarak. Ampun dah.

Akhirnya di hari pertama dan kedua saya memilih sarapan roti karena alasan kepraktisan dan keamanan. Sedangkan di hari terakhir saya sarapan dengan fast food yang saya beli pada malam harinya.

Di tengah kenyataan bahwa angka peningkatan penderita Covid-19 di Jawa Timur yang terus naik dan masih tinggi, sementara era new normal belum sepenuhnya dijalankan sesuai protokol pencegahan penyebaran Covid-19, membuat orang yang hendak bepergian antar kota harus pandai-pandai menjaga diri.

Semoga pandemi Covid-19 ini segera berlalu dan kita bisa melaluinya dengan selamat.

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like