Pandemi Covid-19 Momentum Tepat Bangun Perdamaian

By

Wali Kota Surakarta (Solo) FX. Hadi Rudyatmo menyebut masa pandemi Covid-19 ini justru menjadi momentum yang tepat untuk membangun perdamaian bersama tanpa melihat perbedaan. Sebab, Covid-19 ini menjadi momok bersama bagi masyarakat, apapun latar belakangnya.

“Ketika menetapkan Solo sebagai kejadian luar biasa (KLB) virus Corona, inilah saatnya seluruh warga masyarakat menabung amal dunia,” kata FX. Rudi, sapaan akrabnya, saat webinar ruangobrol.id dan Yayasan Gema Salam bertema “Perdamaian di Masa Pandemi”, Selasa (9/6/2020) mulai pukul 13.00 WIB.

Pada seminar virtual yang dimoderatori oleh Anggi Subijanto, mahasiswa pasca sarjana Deakin Universitsy Australia itu, Rudi menyebut virus Corona adalah anugerah dari Tuhan untuk menyatukan seluruh masyarakat Surakarta, khususnya, Indonesia dan dunia pada umumnya.

“Ini merupakan salah satu wujud dari Tuhan supaya satu dengan yang lain untuk saling menghargai dan menghormati,” lanjutnya.

Rudi kemudian membuat sejumlah kebijakan, termasuk kaitannya dengan protokol kesehatan. Salah satunya membuat masker yang bertuliskan Do Manuto, masker bergambar kartun wajah Rudi.

Tulisan pada masker itu dari bahasa Jawa, artinya dalam bahasa Indonesia: “Mendadak ada virus baru yang muncul belum ada obatnya”.

Gerakan memakai masker sudah disosialisasikan Rudi jauh sebelum ada program “new normal”. Dia berkeliling ke kelompok-kelompok masyarakat untuk pencegahan Corona.

“Bukan manut kepada saya, tetapi manut kepada yang membuat kita hidup Tuhan Yang Maha Esa, manut kepada negara (untuk bersama-sama mencegah penyebaran) dua hal inilah untuk perdamaian,” bebernya.

Bagi Rudi, kata masker juga punya makna filosofis sendiri, akronim dari Mau Aman Semua Kedisplinan Etika dan Rasa (MASKER). Hal-hal itulah yang menurutnya harus diterapkan baik di rumah, kelompok-kelompok masyarakat maupun di pemerintahan untuk menciptakan keamanan bersama.

Merangkul

Selain itu, Rudi juga menggandeng kelompok masyarakat di wilayahnya yang punya latar belakang terlibat kasus terorisme. Mereka tergabung dalam Yayasan Gema Salam, pimpinan Joko Tri Harmanto alias Jack Harun. Mereka bersinergi, salah satunya, membagikan masker gratis pada masyarakat umum maupun kepada warga binaan di salah satu penjara di sana.

Rudi yakin, merangkul mereka, memberi kesempatan bagi mereka, itu jauh lebih baik dan produktif daripada terus-terusan mengawasi mereka.

“Semua gotong royong. Sampai hari ini (di Solo) puji Tuhan, anak usia PAUD, SD, SMP, SMA tidak ada yang terpapar virus Corona. Kesigapan Pemkot Surakarta dan semua elemen masyarakat, termasuk dari Yayasan Gema Salam ini,” sambungnya.

Direktur Yayasan Gema Salam, Jack Harun, yang juga pemateri pada seminar virtual itu, bercerita soal masker gratis yang dibagi-bagikan dirinya bersama teman-teman anggota yayasan.

“Memanfaatkan mesin jahit, sebelum Covid-19 istri punya usaha konveksi, tapi saat Covid konveksi tidak bisa jalan, akhirnya inisiatif dengan istri, gunakan untuk amal saleh, bikin masker dan dibagikan gratis ke masyarakat, ke Pemkot Solo juga ke Pemprov Jateng,” jelasnya.

Hal senada juga dikatakan Pendeta Petrus Budi Setiawan, asli Solo yang kini berada di Singapura. Dia juga berargumen saat ini adalah momentum untuk memunculkan kebersamaan tanpa memikirkan perbedaan latar belakang.

“Karena saat ini menemukan musuh bersama yakni Corona,” ungkap Pendeta Petrus Budi.

Dia bercerita, bersama komunitasnya di Singapura, juga menyumbangkan alat pelindung diri (APD) termasuk masker ke berbagai komunitas. Selain komunitas gereja, juga ke rumah sakit-rumah sakit baik rumah sakit Muslim maupun Kristen.

Tak kalah penting, Pendeta Petrus Budi juga menyebut saat ini perjumpaan virtual juga perlu dieksplorasi lebih jauh untuk memasifkan pesan-pesan perdamaian.

Founder ruangobrol.id, Noor Huda Ismail, mengapresiasi langkah yang diambil oleh Wali Kota Solo tersebut.

“Negara yang pro aktif memberi kesempatan, ini lebih produktif daripada mengawasi terus-menerus, memberikan ruang bagi mereka untuk bersama-sama membangun. Tidak ada orang yang terlahir jadi teroris, tetapi ada prosesnya , ini yang perlu digali untuk sama-sama mencari solusi,” kata Huda yang juga pemateri seminar virtual itu.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like