hutang-jihadis-indonesia

Tradisi ‘Hutang Nggak Bayar’ Di Kalangan Jihadis

By

Menengok gaya hidup masa kini, seolah tak lengkap tentunya hidup tanpa hutang. Ibarat sayur asam, maka hutang tak ubahnya seperti micin, gurih-gurih nyoi. Makin banyak hutang, makin banggalah diri. Barangkali ini jenis kelainan jiwa yang baru ada di abad ini.

Hutang memang seperti barang antik. Dibenci banyak orang, tapi selalu dicari. Namun jika hidup banyak hutang, apalah gaya setinggi langit. Bahkan kadang tak tahu diri, berhutang hanya untuk sekedar menjaga gengsi.

Tentu menjengkelkan, sebab hutang harusnya diperuntukkan untuk keperluan mendesak dan ketika tidak ada alternatif lain selain harus meminjam uang. Namun yang jauh lebih menjengkelkan lagi, ketika hutang lalu tidak bayar, dan si empunya seolah hidup tanpa beban.

Ironis memang! Seseorang berhutang, lalu dianggapnya sebagai barang pemberian sehingga tidak lagi terpikir untuk mengembalikan uang. Hidup kembali berjalan normal, aman dan damai. Entah ini kelainan atau memang bagian dari tradisi.

Jenis manusia seperti ini memang tidak banyak jumlahnya, namun jelas mengancam sistem penopang hidup kita. Bayangkan saja, ingin membantu namun berat hati, tak membantu merusak hubungan silaturahmi. Maju kena, mundur kena!

Tadinya, sempat terpikir bahwa hal seperti ini hanya terjadi pada manusia-manusia yang kering jiwanya. Namun rupanya, tebakan saya melenceng.

Fenomena ini rupanya juga menjangkiti kalangan jihadis, orang yang selama ini dianggap teguh jiwanya di jalan perjuangan dan iman. Tak ubahnya wabah pandemi, mengalir saja hingga ke urat nadi. Tidak sadar diri bahwa dirinya sedang menanggung beban. Bukan oleh ancaman kematian, namun beban menanggung hutang.

Pernah suatu ketika, seorang ikhwan bercerita kepada saya. Ia mengeluh lantaran anak-anaknya sebentar lagi masuk sekolah tahun ajaran baru, sementara belum tersedia dana sama sekali untuk membayar administrasi. Uang ratusan juta hasil dari usaha dagang miliknya, dipinjam oleh seorang ustad yang juga pernah menjadi komandan perang saat konflik terjadi di Ambon, Maluku.

Katanya, uang tersebut segera diganti sepulangnya dari bisnis ekspor yang digelutinya. Nyatanya, dari tahun ke tahun, tak sepeserpun uang diganti. Setiap kali ditagih, selalu saja beralasan bahwa bisnis tak berjalan sesuai rencana. Tak terhitung jumlahnya, hingga sang ikhwan malu untuk menagih.

Lain lagi, cerita seorang ustadz dan mujahid besar. Dengan modal gelar dan reputasi, ia berhasil memperdaya orang yang membantu meminjaminya dana puluhan juta yang tadinya hendak digunakan untuk membangun usaha ternak unggas.

Lain lubuk, lain ilalang. Datang bermulut manis, lalu pergi menghilang. Bertahun-tahun tidak ada kabar, lalu tiba-tiba muncul di Suriah menenteng senjata. Berpose gagah di depan kamera sebagai tentara Daulah. Sementara jauh di sana ada seseorang yang tersakiti hatinya.

Saya jadi menyadari, perkara hutang-piutang rupanya tak ada kaitannya dengan status sosial. Tidak peduli mereka dari kalangan awam atau pun agamawan, akademisi atau praktisi, rakyat jelata atau aristokrat. Ini soal moral dan tanggung jawab.

Entah apa yang menjadi pengaruh. Ada orang yang dengan begitu mudahnya menjadikan persoalan hutang-piutang sebagai hal yang biasa dan remeh-temeh. Meski nyatanya, dari lisanya sering mengalir petuah bijak dan ayat-ayat surga.

Entah sedang lupa atau belum pernah membaca, padahal agama jelas melarang umatnya untuk bermain-main dengannya. Bahkan Nabi saja pernah menolak mensholatkan jenazah sahabatnya yang masih terganjal oleh persoalan ini.

Kenyataan ini memang sulit untuk dicerna oleh alam pikiran manusia, namun inilah realita yang terjadi.

Karenanya, berkacalah pada kemampuan diri sendiri sebelum memutuskan untuk berhutang. Jangan sampai perkara ini justru menghambat jalan menuju surga-Nya yang abadi. Wallahu’alam

1 Comment
  1. Avatar
    Yoeri cuy 1 month ago
    Reply

    Mnurut saya hutang emang harus dibayar walaupun udah meninggal..karena diakhirat pun akan ditagih.lain klau emang di ikhlas/dilunaskan dri sipenagih.
    Da yang tau dengan https://youtu.be/lRiT1tRzifI
    Smoga bermanfaat🙏🙏

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like